Ketika Rasa Tak Lagi Sama

Berpasangan, baik itu pacaran ataupun pernikahan, merupakan hal yang selalu menarik untuk dibicarakan – karena itulah kisah cinta juga mendominasi lagu dan karya fiksi.

Kisah cinta itu penuh getir dan manis namun saya kira tidak ada yang akan mengeluh ketika kita sedang di mabuk asmara.

Sebaliknya, faktanya – tidak seperti di dongeng – setiap kisah asmara, siapapun pasangannya, itu selalu punya masalahnya masing-masing. Ketika itulah, tak jarang kita merasa ingin segera mengakhiri proses berpasangan itu tadi.

Ada tiga alasan yang paling kerap saya temukan di pasangan-pasangan yang mengakhiri prosesnya: bosan, hilang rasa, dan ketidakcocokan. Namun, jujur saja bagi saya pribadi, bosan, hilang rasa, dan ketidakcocokan bukanlah alasan yang rasional untuk mengakhiri sebuah proses berhubungan.

bosan-rasa-zilbest

Kebosanan

Kenyataannya, manusia itu tidak pernah bosan dengan yang namanya kebosanan. Apapun hobi Anda, saya yakin Anda pasti pernah mengalami satu titik jenuh melakukannya.

Jadi, jika setiap kali Anda menyerah pada kebosanan, mungkin lebih baik Anda tidak perlu mencari pasangan – karena Anda pasti akan jenuh dengannya, siapapun itu orangnya, satu saat nanti.

Kebosanan ini juga yang seringkali disembunyikan dengan alasan-alasan yang terdengar lebih prinsipil – tidak direstui orang tua, berbeda agama, atau yang lainnya – karena memang kita tidak ingin terlihat ataupun terdengar terlalu banal.

Saya punya seorang kawan yang diputuskan kekasihnya dengan alasan berbeda agama… Well, saya bilang itu bullsh*t… Pasalnya, keduanya memang sudah beda agama bahkan sejak sebelum mereka berpacaran. Kalaupun hal itu jadi masalah prinsipil, kenapa juga disetujui di awal?

Jadi, maaf jika saya yang membawa kabar buruk ini untuk Anda, jika satu saat atau Anda pernah diputuskan pacar dengan alasan-alasan yang terlalu ‘sinetron’ itu tadi, kemungkin besar, dia sudah bosan dengan Anda.

kartun-rasa-zilbest

Hilang Rasa

Kata Titik Puspa, jatuh cinta itu berjuta rasanya. Namun euforia itu pasti akan berakhir. Rasa Anda pasti akan berubah seiring waktu, bisa bertambah dan berkurang tanpa ada patokan yang jelas.

Pernahkah Anda merasa emosi yang sama dalam sehari penuh? Marah, sedih, atau gembira, selama 24 jam tanpa henti? Jika Anda masih normal secara psikologis, kemungkinan besar jawabannya adalah ‘tidak’.

“We have this idea that love is supposed to last forever. But love isn’t like that. It’s a free-flowing energy that comes and goes when it pleases. Sometimes, it stays for life; other times it stays for a second, a day, a month or a year. So don’t fear love when it comes simply because it makes you vulnerable. But don’t be surprised when it leaves either. Just be glad you had the opportunity to experience it.” – Neil Strauss

Contoh lain, saya kira setiap kita pasti punya selebriti-selebriti yang kita kagumi hanya dari parasnya semata, karena cantik atau ganteng saja. Jika Anda mau menyadarinya, saya yakin kita juga pasti pernah punya idola ganteng atau cantik tadi yang dulu kita sukai namun sekarang sudah tidak lagi.

Jadi, jika Anda berharap akan memiliki hubungan jangka panjang, Anda mungkin harus mencari landasan lain selain rasa karena ia akan datang dan pergi silih berganti.

arguing-couple

Ketidakcocokan

Pernahkah Anda mendengar kata-kata ini – atau mungkin Anda malah pernah mengatakannya, “sepertinya kita sudah tidak ada kecocokan lagi…”

Maaf tapi faktanya, tidak ada satu orang pun yang akan benar-benar ‘cocok’ dengan kita. Setiap individu itu unik dan itu artinya tidak ada yang dapat menyamai.

Sifat dan sikap kita banyak dipengaruhi oleh lingkungan kita, orang tua, teman, sekolah, tempat kerja, budaya daerah asal, dan yang lain-lainnya. Jadi, bagaimana bisa 2 orang dengan lingkungan yang berbeda tadi berakhir pada satu sikap dan sifat yang sama?

perbedaan-zilbest

Karena setiap kita unik maka, siapapun pasangan Anda, dia tidak akan pernah sama dengan Anda, baik itu dulu, sekarang, ataupun nantinya.

Kenapa awalnya Anda merasa cocok dengan si dia? Satu hal yang pasti adalah karena rasa euforia itu tadi.

Saat kita sedang kasmaran, pikiran kita akan cenderung mencari kebaikan dan kesamaan dengan sang pasangan. Sebaliknya, ketika euforia itu hilang, kita akan cenderung untuk mencari-cari kesalahan dan ketidakcocokan. Hal ini yang dinamakan dengan Confirmation Bias.

Lagipula, bukankah justru karena perbedaan itulah yang membuat kita belajar dari sebuah proses berhubungan? Bukankah dari sana kita jadi bisa belajar untuk menghormati pendapat yang berbeda dari pendapat kita? Bukankah kita juga jadi bisa menghargai kepentingan yang berbeda dengan kepentingan kita?

“There is always some madness in love. But there is also always some reason in madness.” – Friedrich Nietzche

Akhirnya…

Satu hal yang saya percayai adalah jodoh itu bukan ‘diberikan’ tetapi diusahakan. Jika Anda tidak mau berusaha, kemungkinan besar, Anda tidak akan mendapatkan jodoh Anda.

Jika Anda bosan, hilang rasa, dan sudah merasa tidak cocok lagi dengan pasangan Anda, cobalah ambil waktu sejenak untuk berpikir.

Saya percaya pikiran kita bisa memberikan solusi yang lebih rasional ketika kita mau menyadarkan dan memaksanya bekerja.

Jakarta, 29 April 2016

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.