Mendamba Bahagia yang tak Kunjung Tiba

You will never be happy if you continue to search for what happiness consists of. You will never live if you are looking for the meaning of life.” – Albert Camus

Sama seperti kebanyakan orang, saya juga mencoba dan belajar berbagai hal untuk menuju bahagia.

Namun, entahlah, mungkin memang sekarang saya jadi nihilis dan skeptis. Bahagia itu pun, bagi saya, seperti sebuah konsep banal yang terlalu abstrak untuk digenggam.

Uang, karir, hobi, agama, kawan, keluarga, dan segudang hal lainnya memang seringkali disuguhkan sebagai kunci ke kebahagiaan dan semuanya pernah saya kejar. Namun, mungkin memang sayanya saja yang terlalu dangkal atau malah terlalu jauh berpikir – saya tidak yakin yang mana – banyak hal yang saya sebutkan tadi tak pernah buat saya puas.

Ijinkan saya curhat sejenak…

Image Courtesy: Pexels

Jujur, memang semua yang saya raih sampai hari ini juga masih ‘kentang’. Soal uang misalnya, saya memang tidak punya rumah, mobil mewah, apalagi helikopter tapi setidaknya saya bisa mencukupi semua kebutuhan sehari-hari. Saya tahu masih ada ratusan juta orang lainnya di dunia yang boleh dibilang lebih miskin dari saya (setidaknya menurut data Bank Dunia).

“Sanity and happiness are an impossible combination.” – Mark Twain

Saya sebenarnya bersyukur juga dan merasa beruntung sampai di titik ini dalam urusan penghasilan. Namun, tetap saja, saya ingin kaya raya agar saya bisa merekrut banyak orang untuk membesarkan Zilbest ini agar jadi media anti-thesis dan anti-mainstream.

Karir saya juga boleh dibilang tidak buruk sebenarnya karena saya tahu banyak sekali kawan-kawan saya yang lebih tidak beruntung karirnya. Setidaknya, saya berhasil mempertahankan image sebagai penulis yang idealis, yang tak ingin membuang-buang waktu pembacanya. Namun, di satu sisi, ya saya bermimpi juga bekerja di perusahaan internasional yang bergengsi atau punya perusahaan sendiri.

Image Courtesy: Pexels, by Valentin Antonucci

Saya juga jujur sedikit menyesal kenapa saya terlalu lama membangun karir sebagai penulis di industri game. Satu kombinasi yang sangat tidak jelas masa depan karirnya di Indonesia wkwkwk. Di ranah tulis menulis, saya disejajarkan dengan orang-orang bebal yang bahkan tidak tahu siapa itu Huizinga, Habermas, Derrida, atau yang lebih modern seperti Douglas Rushkoff, Richard Thaler, Yuval Noah Harari, dan pemikir-pemikir besar lainnya di jamannya hanya karena saya berangkat dari industri gaming.

“It’s like Tolstoy said. Happiness is an allegory, unhappiness a story.” – Haruki Murakami

Di industri game dan teknologi, saya pun dipandang rendah karena kebanyakan orang menganggap keahlian menulis itu semudah berak di celana. Iya, memang kegiatan menulisnya itu relatif lebih mudah ketimbang mengumpulkan segudang informasi di kepala yang akhirnya harus diterjemahkan jadi bentuk verbal. Bisa jadi, memang sayanya sendiri memang masih culun sebagai penulis karena belum mampu menuangkan semua isi kepala saya jadi bentuk yang lebih konkrit.

Mungkin memang benar seperti yang saya bilang ‘kentang’ itu tadi.

Soal kawan dan relasi pun saya sebenarnya merasa tak punya cukup waktu untuk bisa berinteraksi dan menggali pikiran semua orang-orang hebat yang ada di sekitar saya – jika berbicara soal kualitas. Soal kuantitas pun, waktu jugalah yang akhirnya membatasi saya untuk bisa berkenalan dengan lebih banyak orang.

Bagaimana dengan urusan keluarga? Well, nyatanya, saya masih belajar dan berjuang keras untuk menjadi seorang suami dan ayah yang bisa dibanggakan. Saya kira saya masih jauh sekali perjalanannya untuk bisa sampai ke sana.

Maksud saya curhat di atas adalah untuk menunjukkan perspektif saya tadi yang penuh dengan arogansi dan egosentrisme: perspektif yang saya rasa memang akan sangat sulit menghantarkan saya menuju bahagia.

Kenapa saya bisa berkata demikian? Karena nyatanya kebanyakan manusia memang tak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Sebagian besar orang, termasuk saya, lebih mudah mengeluh dan lebih sering melihat apa saja yang absen dari hidupnya. Nyatanya, menjadikan diri sendiri sebagai pusat dari alam semesta justru memperkecil jarak pandang berpikir dan peluang menjadi bahagia.

Image Courtesy: AZ Quotes

Di sisi lain, saya pribadi, jujur saja bahagia dan bangga ketika melihat orang-orang di sekitar saya bisa sukses dalam kariernya. Sungguh, ada sebuah kebanggaan tersendiri ketika saya melihat kawan-kawan yang berada ataupun pernah di tim saya justru lebih sukses dari saya.

Ada sejumlah kawan yang dulu saya pilih masuk ke tim saya saat mereka masih menyandang predikat fresh graduate, sekarang, sudah bekerja mapan dan beberapa bahkan di perusahaan internasional; yang kemungkinan besar, gajinya lebih besar dari saya sekarang wkwkwkw… 

Ada beberapa juga anak-anak muda yang bahkan masih SMA ataupun kuliah berkembang pesat perkembangannya saat berada di tim saya.

Memang, faktanya, saya hanya beruntung mendapatkan orang-orang yang lebih muda dan lebih hebat dari saya. Namun setidaknya saya bisa ngaku-ngaku (wkwkwkw) bahwa saya punya secuil andil dalam perjalanan karier mereka.

Salah satu guru SMA saya yang sampai sekarang masih menjadi teladan saya pernah berkata, “tidak ada yang lebih membanggakan ketika saya melihat mantan murid saya, nantinya, bisa lebih sukses dan pintar dari saya.” Saya sungguh memahami betul apa maksud beliau sekarang.

Karena itulah, saya kira saya telah menemukan cara yang lebih mudah untuk menggapai bahagia setidaknya bagi saya pribadi…

Kenapa saya bisa bilang lebih mudah?

Misalnya saja satu saat saya mendapatkan pekerjaan dengan gaji Rp20 juta sebulan. Kemungkinan besar, saya tetap tidak akan puas dan mendambakan gaji Rp30 juta.

Saya juga sekarang punya istri satu yang memang sangat saya banggakan tapi tetap saja sering berandai-andai bagaimana rasanya punya istri empat… okawowkaokwa

 The Paradoxical Commandments 

People are illogical, unreasonable, and self-centered.
Love them anyway.

If you do good, people will accuse you of selfish ulterior motives.
Do good anyway.

If you are successful, you will win false friends and true enemies.
Succeed anyway.

The good you do today will be forgotten tomorrow.
Do good anyway.

Honesty and frankness make you vulnerable.
Be honest and frank anyway.

The biggest men and women with the biggest ideas can be shot down by the smallest men and women with the smallest minds.
Think big anyway.

People favor underdogs but follow only top dogs.
Fight for a few underdogs anyway.

What you spend years building may be destroyed overnight.
Build anyway.

People really need help but may attack you if you do help them.
Help people anyway.

Give the world the best you have and you’ll get kicked in the teeth.
Give the world the best you have anyway.” – Kent M. Keith

Mungkin memang sayanya saja yang terlalu muluk dengan ambisi pribadi saya. Namun, saya kira menyadari diri bahwa kita bisa berguna buat orang-orang di sekitar bisa memberikan kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri. Hal ini bahkan bisa tercapai tanpa perlu bekerja keras bagai kuda, menjilat atasan, ataupun menjadi lacur demi permintaan pasar karena yang perlu dilakukan adalah bekerja sepenuh hati dan menggunakan empati.

Selain itu, Nathaniel Ware, pernah berargumen bahwa salah satu alasan kenapa kita tidak bisa berbahagia adalah karena adanya ekspektasi yang tak sesuai dengan realita; ketika ekspektasi kita lebih besar dari realita kita. Ia juga merumuskan bahwa ada 3 hal yang membentuk ekspektasi kita yaitu, imajinasi, orang-orang di sekitar kita, dan masa lalu.

Saya setuju dengannya karena, menurut saya, biasanya ekspektasi kita memang terkait erat dengan ego kita. Bahkan misalnya, ketika kita berharap tentang perubahan perilaku orang-orang di sekitar kita, yang sedang kita eksploitasi adalah arogansi kita.

Kok bisa?

Misalnya soal paradigma ungkapan ‘netizen yang maha benar’, yang mungkin masih akan terus kita rasakan sampai beberapa tahun ke depan – selama masih ada faktor anonimitas di dunia maya. Memang, mereka-mereka yang merasa selalu benar itu juga saya kira memaksakan ekspektasi mereka agar semuanya setuju dengan pendapat pribadinya masing-masing. Namun, jika kita sebal dengan hal-hal semacam itu, kita sendiri juga memiliki ekspektasi sendiri agar mereka lebih terbuka dengan pendapat yang berbeda.

Saya tahu hal ini sebenarnya jadi paradoks sendiri dan saya tidak akan berargumen soal mana yang benar dan mana yang salah. Satu hal yang pasti, jika Anda ingin bahagia, lupakan ekspektasi Anda soal netizen itu. Menerima fakta bahwa lebih banyak orang yang bebal dan sarat dengan bias subjektifitas itu jauh lebih melapangkan dada.

Sebaliknya, ekspektasi saya atas tim atau orang-orang di sekitar saya memang jujur tidak muluk-muluk – setidaknya tidak sebesar ekspektasi saya atas diri sendiri. Saya hanya ingin menjadi berguna dan membantu sejauh yang saya bisa bagi kawan-kawan saya. Makanya, saya bahagia saja ketika kawan-kawan tadi bisa berkembang ke arah yang lebih baik…

Akhirnya, saya bukan pemuka agama dan tidak mengajar agama, jadi bisa saja hal yang saya rasakan tadi tidak akan berlaku untuk Anda. Namun demikian, jika Anda seperti saya yang masih mendamba datangnya bahagia, cobalah untuk menggeser perspektif dan berhenti menjadikan diri sebagai pusat alam semesta.

Jakarta, 5 Oktober 2018

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.