Nasib Miris Kaum Skeptis

Jika saya harus memilih satu kata yang paling mendeskripsikan siapa saya, saya akan menjawab “skeptis”. Apa itu skeptisisme? Berhubung saya tidak ingin dimaki para pecinta filsafat, saya tidak akan merujuk pada definisi kamus wkwkwkwk…

Bagi Anda yang percaya bahwa membaca itu mudah ataupun mengisi “Bagus Sekali” di kolom Kemampuan Berbahasa Inggris (di CV, Resume, lembar lamaran pekerjaan, atau yang lainnya), saya tantang Anda untuk membaca penjelasan tentang skeptisisme di entri eksiklopedia milik Standford.

Buat Anda yang ingin penjelasan yang jauh lebih sederhana, artikel kerjasama antara TED dan Hufftington Post tentang skeptisisme ini dapat membantu Anda memahaminya. Anda juga bisa menonton video di bawah ini untuk mempelajari konsep dasar skeptisisme yang dijelaskan oleh Jennifer Nagel, dari University of Toronto.

Penjelasan skeptisisme ini sebenarnya memang panjang dan berliku-liku mirip seperti kisah para jomlo wkwkwkwkw… Namun, supaya saya bisa menyelesaikan artikel ini tanpa jadi terlalu tua memahami segala perdebatan panjang mengenai definisi skeptisisme, ijinkan saya menggunakan pemahaman saya sendiri tentang skeptisisme.

Saya termasuk kaum skeptis karena saya pribadi tidak pernah yakin dengan apa yang saya percayai. Saya percaya bahwa semua hal itu benar dan salah di saat yang sama, tergantung dari posisi mana saya ingin melihatnya. Saya tidak percaya bahwa ada kondisi yang lebih baik dari kondisi yang lainnya.

Saya juga menolak bahwa hanya ada satu jawaban atas setiap pertanyaan. Saya percaya bahwa satu-satunya kepastian dalam hidup adalah ketidakpastian.

“There are no whole truths; all truths are half-truths. It is trying to treat them as whole truths that plays the devil.” Alfred North Whitehead

Lalu kenapa saya bisa bilang nasib kaum skeptis seperti saya itu miris?

Well, karena saya pribadi tak pernah bisa menahan diri untuk selalu bertanya dan tak pernah berhenti bertanya. Satu pepatah barat mengatakan, “ignorance is a bliss“. Tidak jarang, berhenti bertanya itu memudahkan hidup…

Misalnya soal pekerjaan, jujur saja, saya ingin sekali jadi pekerja normal-normal saja yang sekedar melakukan perintah atasan, kerja sesuai jam kerja, pulang ke rumah, kalau kantornya bangkrut, saya tinggal pindah ke kantor lain… nyahahaha. 

Namun saya tidak bisa menahan rasa penasaran, “bagaimana jika saya melakukan hal yang berbeda dari kebanyakan orang? Bagaimana jika ikut arus massa? Apakah cara yang saya lakukan selama ini benar? Apakah tidak ada cara yang lebih baik dari pola kerja saya selama ini?”

Demikian juga dengan kepercayaan saya yang selalu mengatakan bahwa benar dan salah itu bisa terjadi di satu keputusan yang sama. Misalnya saja seperti yang pernah saya tuliskan di artikel saya beberapa waktu lalu soal pasar yang tersaturasi. Berhubung memang mindset dominan saya adalah seorang pekerja kreatif, saya lebih cenderung untuk menghargai yang orisinil ketimbang yang jelas-jelas meniru.

Namun di satu sisi lainnya, saya juga suka belajar bisnis dan, tak jarang, yang orisinil itu memang lebih sulit mendatangkan keuntungan. Ada resiko yang lebih besar ketika mencoba satu hal baru di pasar. Meski memang, skeptisisme juga yang membuat saya percaya bahwa tidak hanya ada satu cara untuk kaya.

Saya akui saya juga tak terhindar dari bias konfirmasi, karena tidak jarang juga saya percaya bahwa saya lah yang paling benar dan orang lain yang berbeda dari saya itu yang salah. Walau tak lama kemudian, seringnya saya malah ragu, jangan-jangan saya yang salah…

Toh buktinya saya yang masih berada di titik ini, sedangkan orang-orang lain yang melakukan cara yang berlawanan dengan apa yang saya yakini di awal berada di titik yang lebih jauh (lebih kaya, lebih banyak pageview-nya, lebih banyak pacarnya wkwkwkwk, dan lebih-lebih lainnya).

Walau akhirnya juga saya bingung mana yang ingin saya pilih karena saya juga percaya tidak ada kondisi yang lebih baik dari kondisi lainnya. Lebih kaya juga belum tentu lebih bahagia. Lebih sukses juga bisa berarti lebih fatal saat melakukan kesalahan sepele...

Masalah benar dan salah yang selalu berjalan bersama ini juga kerap membuat saya tidak tahan nongkrong di jejaring sosial. Sepengamatan saya, selalu ada 2 kubu yang berseberangan di setiap isu. Saya? Saya akan bilang kedua kubu itu benar dan salah di saat yang sama; yang, kemungkinan besar, akan membuat saya dimusuhi 2 kubu wkwkwkwkw…

Namun begitu, saya pribadi juga merasa, tanpa skeptisisme, saya tidak akan tiba di titik ini. Saya memang bukan siapa-siapa, tapi tetap saja saya merasa lebih beruntung dari kebanyakan pekerja seumuran saya.

Saya bisa mencari nafkah dari apa yang saya cintai, yaitu menulis dan berbagi informasi – meski kadang jujur saja saya ingin loncat ke bidang lain karena gaji penulis itu keciiiiiil… nyahahaha…

Entahlah, saya kira pengalaman saya sebagai reviewer selama bertahun-tahun juga ikut membentuk saya jadi seperti ini hari ini. Dari ratusan produk yang pernah saya review, saya tiba pada satu kesimpulan: sebagus-bagusnya produk, pasti ada cacatnya.

Sebusuk-busuknya produk, pasti ada bagusnya. Hal itu jadi sepenuhnya bergantung pada sang reviewer-nya, apakah bisa menemukannya atau tidak.

image credit: australiannationalreview.com

Skeptisisme tadi juga membuat saya jadi seorang jack-of-all-trades, master of none. Kenapa? Karena saya memang kadang tidak tahan dengan rasa penasaran. Saya ingin tahu buanyaaaak sekali hal karena saya mudah terpesona dengan banyak pengetahuan.

Saya percaya belajar adalah mengalami. Mungkin memang saya yang terlalu bodoh, tapi saya biasanya tidak akan mendapatkan jawaban hanya dengan melihat orang lain melakukannya; saya harus mencoba melakukannya.

Akhirnya, sebelum artikel ini jadi tidak jelas juntrungannya, Anda mungkin bertanya tujuan saya menulis ini. Saya juga sebenarnya tidak tahu tujuannya apa aowkaokwaokawok… Tujuan awal saya sebenarnya hanya mengenalkan Anda pada paham skeptisisme yang saya berikan beberapa referensinya di awal tulisan tapi akhirnya jadi keterusan menulis.

Iya, ini termasuk salah satu tulisan saya yang tidak saya rencanakan sebelumnya. Asal buka halaman kosong dan biarkan jari-jari saya bergerak mengikuti kegilaan saya saja. Terima kasih jika Anda sudah membaca tulisan ini sampai akhir hehehe… Kalau Anda mendapat manfaat dari tulisan ini, saya turut bergembira. ^,^

 

Jakarta, 15 Juli 2017

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.