Originalitas: Komoditas yang Kian Langka

Entahlah, apakah Anda setuju dengan saya namun semakin hari nampaknya semakin sedikit saja produk-produk yang idenya original. Game, khususnya game mobile, pasti punya ‘tiruannya’. Jika ada satu judul game yang populer di pasaran, kemungkinan besar, akan keluar sejumlah game yang menggunakan gameplay yang nyaris mirip (atau bahkan sampai judulnya pun dimiripkan).

Seven Knights misalnya, dari Netmarble, yang cukup booming tahun 2016 lalu ‘menginspirasi’ sejumlah publisher lain untuk menciptakan game-game dengan kata-kata ‘Seven’, sejauh ini ada Seven Paladin dan Seven Guardians. Mungkin nanti akan keluar Seven Mages, Seven Warriors, atau Seven Kingdoms, dan lain-lainnya.

Jika Anda cukup jeli juga, Anda akan menemukan bahwa ada kata-kata yang lebih populer untuk digunakan sebagai judul seperti ‘Clash’ (mungkin dari Clash of Clans), ‘Brave’ (bisa jadi dari Brave Frontier), kata ‘Heroes’, ‘Royal’, ataupun yang lainnya.

Banyak juga judul-judul game Free-to-Play versi PC yang populer sekarang keluar versi Mobile-nya. Saya mencatat ada Dragon Nest, Dragonica, Elsword, Seal, dan Grand Chase versi mobile. Itu yang saya tahu saja karena kebetulan judul-judul tadi memang populer di masa kejayaan game Free-to-Play PC beberapa tahun silam.

Minimnya originalitas ini sebenarnya juga tidak terjadi di industri game mobile saja tapi juga di film-film Hollywood.

Berikut ini adalah 10 judul film terlaris (highest gross) di 2016 dan pendapatannya:

1. Captain America: Civil War (US$ 1,153 miliar)

2. Finding Dory (US$ 1,027 miliar)

3. Zootopia (US$ 1,023 miliar)

4. The Jungle Book (US$ 966,5 juta)

5. The Secret Life of Pets (US$ 87,5 juta)

6. Batman v Superman: Dawn of Justice (US$ 873,2 juta)

7. Deadpool (US$ 783,1 juta)

8. Fantastic Beast and Where to Find Them (US$ 746,1 juta)

9. Suicide Squad (US$ 745,6 juta)

10. Rogue One: A Star Wars Story (US$ 675 juta)

Dari 10 judul film terlaris itu, hanya ada 2 judul yang bisa dikatakan ‘baru’ (yang tidak diambil dari komik dan bentuk karya lainnya, ataupun tidak berupa remakesequel, atau prequel dari film lainnya), yaitu Zootopia dan Secret Life of Pets.

8 dari 10 film terlaris adalah produk franchise yang memang sebelumnya sudah populer.

Apalagi? Musik, well, musik itu juga sudah tidak terlalu original sejak luaaaaama sekali karena temanya selalu soal cinta-cintaan. Sudah tidak ada lagi lagu-lagu seperti karyanya Ebiet G. Ade yang populer.

Musik barat sekarang juga demikian, yang populer itu either tentang cinta atau tentang seks…

Apalagi ya… Hmm, menurunnya nilai originalitas ini juga sebenarnya tidak hanya terjadi di produk-produk kreatif. Ponsel, misalnya.

Jika Anda sudah suka gonta-ganti ponsel di masa kejayaan Nokia dan Symbian S60, Anda pasti tahu Nokia itu punya bentuk ponsel yang lucu dan unik-unik. Misalnya ada Nokia N-Gage, 3650 (yang bagian bawahnya melengkung, atasnya bersudut), 7710 (semi-PDA?), seri Communicator, 7600 (yang bentuknya kayak daun) ataupun yang lainnya.

Sekarang? Semua ponsel bentuk dan desainnya sama. Layar besar dengan 3 tombol di bagian bawah layar. Beda ‘desain’nya hanya di: satu ponsel tombol Back-nya sebelah kanan tombol Home, ponsel lainnya tombol Back-nya di sebelah kiri.

Beberapa tahun silam sebenarnya Sony sempat mencoba kreatif dengan bentuk Xperia Play namun setelah itu tidak ada lagi kelanjutannya.

Di industri motherboard (jeroan PC) juga demikian. Hampir semua mobo sekarang beramai-ramai mengejar pangsa gaming yang dilengkapi dengan lampu LED.

Hanya ada beberapa produsen yang menawarkan fitur eksklusif seperti Sonic Radar dari ASUS ROG, ataupun produsen yang mengincar pangsa pasar lain, untuk desainer profesional seperti GIGABYTE dengan seri Designare-nya.

Don’t Get Me Wrong…

Sebelum Anda salah kaprah, saya tidak komplain juga sebenarnya. Saya hanya menunjukkan fakta saja.

Saya hanya ingin melihat fenomena ini dengan fair dan tidak memihak (baik itu yang pro oringinalitas ataupun tidak).

Saya kira pertanyaannya yang penting adalah kenapa?

Well, bagi saya pribadi, saya kira penyebabnya tidak bisa dipukul rata di semua industri yang tadi saya sebutkan tadi. Ada penyebab-penyebab spesifik yang mungkin tidak bisa dibahas semuanya di sini karena akan jadi terlalu panjang (alasan klasik saya, nyahaha).

Namun demikian, saya kira ada beberapa 2 hal tentang originalitas yang saya percaya berlaku untuk semua industri – yang inilah yang akan saya bahas di sini sekarang.

Copying is Easier

Entahlah dengan industri mobo dan ponsel (atau industri retail lainnya) pastinya seperti apa, namun di industri kreatif (saya tahu betul karena saya kira saya bisa bilang bahwa saya berasal dari industri ini karena sudah berkecimpung di industri kreatif dari Desember 2008), meniru itu jauh lebih mudah dibanding menawarkan ide yang berbeda dengan yang lain.

Idealnya, saya ingin semua konten yang ada di sini adalah konten kreatif yang tidak banyak ditemukan di blog ataupun media lainnya – setidaknya yang berbahasa Indonesia.

Namun, jujur saja, saya sering kehabisan ide karena saya ingin konten yang kreatif namun tetap menarik dan berguna untuk sebanyak mungkin orang (karena tetap harus menghitung traffic hahahaha…).

Percaya saya, meniru itu jauuuuuh lebih mudah. Semua orang ngomong soal Ahok? Tulis saja soal Ahok, pasti ramai… Saya sungguh tidak mau ikut terjebak dalam arus latah masa, walaupun jadinya saya sering stuck sendiri tidak tahu mau menulis apa… kawkakwkwaw…

Karena meniru itu lebih mudah, berarti jauh lebih banyak orang-orang, pekerja, atau para profesional yang bisa melakukan hal tersebut ketimbang yang bisa menawarkan ide-ide gila yang berbeda dari kebanyakan orang lainnya.

Hal ini berarti ada kelangkaan sumber daya manusia untuk orang-orang yang bisa dan berani untuk menawarkan ide yang berbeda.

Saya kira hal ini juga tidak terbatas pada industri kreatif saja. Ranah bisnis, seperti marketing dan branding pun, saya kira juga demikian: lebih mudah meniru trik dagang yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.

Lagi, saya tidak menyalahkan atau menganggap hal ini sebagai hal negatif – karena hal ini memang tidak dapat dihindari. Saya sendiri juga meniru dan menggunakan metode yang pernah digunakan orang lain – saya bukan termasuk golongan jenius juga kwakwakwa…

The market is already exist

Saya kira ini alasan kedua yang mungkin berlaku untuk semua industri. Salah satu hal yang saya tahu tentang yang harus dilakukan oleh para pelaku industri adalah menentukan target pasar.

Tidak peduli itu industri kreatif, retail, ataupun industri esek-esek kawkwakwka… Menentukan target pasar adalah salah satu langkah pertama yang harus dilakukan jika ingin produknya laku di pasaran.

Meniru, menggunakan nama, ataupun memanfaatkan franchise dari produk yang sudah ada sebelumnya berarti dapat dipastikan pasarnya sudah ada – jadi tidak perlu repot-repot dan mengeluarkan biaya untuk market research untuk menciptakan market baru.

Misalnya saja, game Clash of Clans (CoC) tadi. Di data Google Play (sewaktu saya menulis artikel ini), sudah ada 35 juta orang yang memainkan game ini. Berarti, jika Anda meniru sebagian gameplay-nya dan mengganti sedikit elemen lainnya (grafis misalnya), kemungkinan Anda bisa mencuri player base dari game yang satu ini.

Demikian juga dengan film-film superhero dari DC dan Marvel. Kedua penguasa komik ini sudah memiliki fans puluhan juta atau malah lebih dari generasi ke generasi.

Bandingkan dengan misalnya Anda membuat film tentang eksistensialisme atau malah nihilisme yang mungkin hanya segelintir orang saja yang tahu artinya, Anda harus cari tahu dulu target pasar seperti apa yang mungkin akan disasar.

Film-film remake, sequel, ataupun prequel juga sama prinsipnya. Sudah ada lebih dari puluhan juta orang yang tahu nama Star Wars ataupun Harry Potter, jadi sudah tidak perlu repot-repot lagi mengenalkan dunia fiksi yang sama sekali baru, seperti dunianya Kubo and the Two Strings misalnya (Anda tahu film itu?).

Demikian juga dengan desain ponsel pintar yang semuanya sama itu tadi. Mungkin hanya segelintir orang saja yang ingin ponsel pintar dengan bentuk unik ataupun keyboard QWERTY misalnya dan tidak mungkin satu produk hanya dibuat untuk memfasilitasi segelintir orang (sebenarnya sih mungkin, tapi harganya pasti jadi amit-amit mahalnya…).

Lagi, saya bisa memahami dan menerima alasan ini karena, faktanya, menciptakan market baru itu tidak mudah dan tidak murah. Karena hal itu, resikonya pun juga jadi lebih besar. Tidak ada salahnya juga jika banyak perusahaan memilih keputusan dengan resiko yang lebih kecil.

Finally…

Akhirnya, jujur saja, dulu mungkin saya ingin mencaci produk-produk tiruan atau yang tidak original namun sekarang ini saya lebih terbuka dan realistis.

Jika sebuah produk tiruan memang dapat mengakomodir keinginan dan kebutuhan orang-orang yang berbeda, ya kenapa tidak?

Jika sebuah perusahaan bisa bertahan karena memilih resiko yang lebih rendah, ya tidak ada salahnya juga kan? Karena banyak karyawan juga yang menggantungkan nasibnya di perusahaan-perusahaan tersebut.

Toh, di satu sisi, kita sebagai pengguna atau konsumen juga berhak memilih produk mana yang ingin kita gunakan atau nikmati. Jika Anda tidak suka, ya tidak usah dipakai, ditonton, atau dimainkan… Apalagi, hukum ekonomi juga tetap akan berlaku, produk-produk yang tidak laku akhirnya akan menghilang dari pasaran.

Kalo kata Gus Dur, “gitu aja kok repot…”

Jakarta, 15 Mei 2017

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.