Pendengar yang Baik…

Ada banyak buku-buku hebat yang mengajarkan tentang bagaimana jadi pembicara yang baik, seperti Orator karya Cicero ataupun Rhetoric tulisan Aristoteles. Namun sayangnya, tidak ada buku-buku sekaliber tadi yang justru mengajarkan sebaliknya, yang mengajak kita untuk mendengarkan…

Apa gunanya mendengarkan orang lain? Mungkin Anda bertanya demikian…

Well pertama, dari proses belajar bahasa, kita tahu bahwa kita harus bisa yang pasif sebelum menguasai yang aktif. Misalnya, saya kira setiap bayi itu belajar mendengar dulu sebelum berbicara. Semasa SD kita juga belajar membaca terlebih dahulu sebelum menulis.

Saya sungguh percaya dengan hal ini. Jangan pernah berharap jadi penulis yang baik jika Anda tidak pernah membaca. Saya kira hal ini juga berlaku untuk kemampuan berbahasa lisan kita, belajarlah untuk jadi pendengar yang baik, jika kita ingin berbicara dengan baik.

good-listener

Saya punya seorang kawan yang begitu hebat dalam hal Business Development – ia bisa menjual apapun yang ia mau. Saya dan kawan-kawan lainnya, menjulukinya ‘si mulut berbisa’… ^,^

Kawan saya ini sangat pintar meyakinkan orang lain untuk mempercayainya. Mungkin lain kali saya akan mengajaknya berbagi cerita di sini.

Saya pun selalu memperhatikan dan mengamatinya setiap kali bertemu dengannya. Bagi saya, salah satu hal yang saya temukan yang membuatnya istimewa adalah ia benar-benar seorang pendengar yang baik.

Kawan saya itu selalu mendengarkan ketika kita ngobrol, topik apapun itu. Dia tak pernah seakan mengalihkan perhatiannya dan selalu memberikan respon yang tepat.

Jujur saja, saya melihat hal tersebut sebagai sebuah keunikan karena faktanya banyak orang sibuk dengan dirinya sendiri dan selalu ingin dirinya sendiri yang jadi pusat perhatian.

Padahal, justru ketika Anda mendengarkan dengan sungguh-sungguh, Anda bisa belajar banyak dari lawan bicara Anda, siapapun itu.

victor-lustig

Victor Lustig adalah salah seorang Con Artist (orang yang bisa meyakinkan orang untuk mempercayai kebohongan dan menjadikan hal tersebut sebagai profesinya) paling terkenal di abad 20 yang berhasil menjual Menara Eiffel sebanyak 2x.

Ia merumuskan 10 Titah (Ten Commandments) untuk menjadi seorang Con Artist dan hal pertama yang ia sebutkan adalah “Jadilah pendengar yang sabar.”

Tidak, saya tidak menyarankan Anda untuk jadi seorang penipu alias Con Artist, namun saya percaya bahwa kita bisa belajar dari siapapun dan menggunakan informasi tersebut untuk memperbaiki atau meningkatkan kapasitas diri – terlepas dari tujuan apapun yang Anda miliki karena bukan tujuan ataupun tugas saya untuk menghakimi moral tiap-tiap individu.

Dari 2 contoh tadi sebenarnya kita bisa belajar bahwa mereka yang pintar meyakinkan orang lain adalah mereka yang benar-benar memperhatikan lawan bicaranya dengan sungguh-sungguh.

Sayangnya, faktanya, tak jarang kita sibuk dengan ponsel kita saat berbicara dengan orang lain atau kita hanya setengah-setengah menaruh perhatian untuk lawan bicara kita.

Salah satu hal yang menjadi penyebab kita enggan mendengarkan adalah saat kita menganggap remeh lawan bicara kita.

Padahal faktanya, siapapun itu, baik itu Country Manager, CEO, karyawan, supir taksi, tukang tambal ban, atau anak-anak SD sekalipun, tahu sesuatu yang tidak kita ketahui dan memiliki pergumulan yang tidak akan pernah kita bayangkan sebelumnya.

“Everyone you will ever meet knows something you don’t” – Bill Nye

Jadi, akhirnya, jika kita ingin banyak orang nyaman menghabiskan waktu dengan kita, lebih mudah meyakinkan orang lain, ataupun ingin belajar hal-hal baru yang tidak pernah kita dengar sebelumnya, kuncinya itu sebenarnya mudah: jadilah pendengar yang baik…

 

Jakarta, 19 Mei 2016

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.