kuliah itu penting?

Emang Kuliah Itu Penting di Jaman Sekarang? Kenapa?

Saya yakin Anda pasti pernah melihat satu gambar, meme, atau bahkan artikel tentang orang-orang sukses dan kaya yang ternyata bahkan tidak lulus kuliah. Tak jarang pula, sekarang kita banyak menemukan para profesional yang memang hebat di bidangnya namun profesi mereka sekarang tidak ada relevansinya dengan jurusan kuliahnya dulu.

Karena itu, munculah satu pertanyaan besar, jika Mark Zuckerberg, James Cameron, Steve Jobs, Bill Gates dan orang-orang besar lainnya bisa berhasil tanpa gelar akademis, apakah kuliah itu masih relevan dalam dunia profesional?

Jawaban singkatnya, masih. Kenapa? Kecuali Anda memang yakin sepintar dan seberuntung Bill Gates atau Zuckerberg, Anda masih butuh kuliah, setinggi mungkin.

Saya punya beberapa argumen kenapa saya berpendapat seperti itu. Mari kita bahas satu per satu.

1. Bias Kognitif

Saya tidak akan basa-basi di sini. Jadi, kita akan langsung ke faktor pertama yang menurut saya paling berpengaruh.

Nyatanya, setiap kita pasti punya bias kognitif. Anda bisa baca tulisan saya tentang bias konfirmasi yang saya tuliskan beberapa waktu lalu. Namun, sederhananya, otak kita seringkali menggunakan jalan pintas dalam mengambil kesimpulan dan jalan pintas tersebut biasanya penuh dengan bias kognitif.

“If there’s something you really want to believe, that’s what you should question the most.” – Penn Jillette

Misalnya saja seperti ini, katakanlah ada 2 orang pelamar kerja, Broto dan Michael. Broto adalah lulusan S1 sedangkan Michael hanyalah lulusan SMK. Jika kita mau jujur dengan diri sendiri, seringnya, kesan pertama yang muncul di otak kita adalah Broto lebih pintar dari Michael.

Orang-orang HRD dan para pengambil keputusan di sebuah perusahaan juga, setahu saya, masih manusia dan mereka tidak terhindar dari bias kognitif tadi. Mereka-mereka yang lulusan universitas ternama juga biasanya dipandang lebih hebat ketimbang mereka yang lulusan universitas kurang populer.

Memang, faktanya, belum tentu yang lulusan S1 itu lebih pintar dari yang lulusan SMK, yang S2 lebih pintar dari yang lulusan D3, atau komparasi-komparasi jenjang akademis lainnya. Kenapa?

Karena, sebagian besar dari kita bisa kuliah dan kuliah di universitas mana itu hanya karena beruntung. Yup, beruntung karena kita dilahirkan di keluarga yang lebih mampu dari mereka-mereka yang tidak bisa kuliah.

BACA JUGA: MENITI KARIR, MENGASAH DIRI

Universitas tempat kita kuliah itu juga sebenarnya bisa jadi tidak relevan dalam menentukan tingkat kepintaran / kehebatan seseorang. Kenapa saya bisa bilang demikian?

Lihat saja kawan-kawan sekelas atau sejurusan Anda sekarang, atau dulu buat angkatan tua. Apakah mereka semuanya memiliki tingkat kecerdasan yang sama? Saya yakin tidak.

Saya sudah jadi reviewer produk sejak 2008 dan saya tahu spesifikasi di atas kertas itu hanya menentukan 50% dari performa produk yang sesungguhnya. Demikian juga dengan para pekerja.

Itu masih produk gadget, hardware PC, ataupun game. Kualitas seorang profesional lebih buram lagi jika hanya dilihat dari spesifikasi di atas kertas karena ada faktor emosional dan daya juang yang tidak akan pernah bisa ditampilkan di spesifikasi tadi.

Namun demikian, sayangnya, masih banyak sekali orang-orang yang memang tidak menyadari bias kognitif itu tadi. Karena itu, jika Anda punya kesempatan untuk kuliah, kuliahlah.

2. Lebih Banyak Koneksi dan Lebih Banyak Kawan

generasi milenial
genhq.com

Inilah argumen kedua saya kenapa kuliah itu penting. Kenapa saya membedakan antara koneksi dan kawan di atas? Karena memang fungsinya berbeda.

Apa yang saya maksud dengan koneksi? Mereka-mereka yang sudah bekerja cukup lama pasti tahu bahwa koneksi itu tak jarang mengalahkan segalanya.

Misalnya seperti ini, ketika sebuah perusahaan mencari pekerja baru, perusahaan tersebut juga akan menanyakan kepada para pekerjanya apakah mereka punya teman-teman yang bisa diajak bergabung ke perusahaan tersebut.

Teman-teman yang biasanya terpikirkan oleh para pekerja tadi, tidak jarang, adalah kawan satu sekolah atau kuliah dulu.

Memang, hal ini biasanya terjadi hanya untuk mereka-mereka yang belum punya banyak pengalaman bekerja karena mereka-mereka yang sudah bekerja cukup lama pasti punya kawan-kawan baru di industri yang sama – yang bisa jadi bukan teman sekolah atau kuliah.

Lalu, apa yang saya maksud dengan kawan yang saya sebut di sub-topik ini? Kawan yang saya maksud adalah teman-teman yang mungkin memang fungsinya tidak praktis atau tidak langsung dalam dunia kerja, seperti soal koneksi yang saya contohkan sebelumnya.

BACA JUGA: 5 TANTANGAN TERBESAR BAGI PARA PEKERJA KREATIF

Ijinkan saya bercerita tentang kawan-kawan saya dulu. Saat saya kuliah dulu, saya bergabung dalam berbagai macam komunitas: komunitas para pecinta sepak bola dan PES, komunitas gamer, geek, dan nerd, komunitas para pecinta dan pemain musik, dan komunitas para idealis (kalau saya sebut) yang suka berdiskusi tentang teori sastra dan filsafat.

Kawan-kawan itu tadilah yang sebenarnya berjasa membentuk saya sampai hari ini. Mereka adalah salah satu faktor yang membentuk pola pikir saya saat ini. Keberagaman komunitas itu tadi juga yang membuat saya sekarang tidak canggung saat berkenalan dengan kawan-kawan baru.

Memang, kita juga bisa punya kawan-kawan seperti tadi di jenjang SMA atau SMK. Namun biasanya, universitas itu punya skala yang lebih besar. Anda bisa bertemu dengan kawan-kawan yang lebih beragam di tingkat universitas, ketimbang tingkat SMA dan sederajat.

3. Membentuk Pola Pikir Utama

Saya tahu sebenarnya banyak sekali pelajaran dan ilmu pengetahuan yang kita dapat saat kuliah bisa jadi tidak lagi relevan di dunia profesional.

Namun, saya yakin betul bahwa jurusan tempat kita kuliah, sedikit banyak, membentuk pola pikir utama kita.

Ijinkan saya kembali jadi contohnya. Saya dulu kuliah Sastra Inggris dan, menurut dosen-dosen saya, anak-anak Sastra Inggris itu sebenarnya bukan dicetak untuk jadi sastrawan atau penulis, tapi jadi krititikus sastra.

Karena itu, saya jadi seseorang yang sangat percaya pada relativitas kebenaran, tergantung pada perspektifnya. Kenapa? Karena saya dulu diajarkan bahwa pendekatan kritik sastra itu bisa dari sejarah, psikologi, sosial, budaya, politik, ataupun malah filosofis.

Hal itulah yang menjadikan saya gila, seperti sekarang ini… wkwkwkwkwkw…

Saya yakin mereka yang kuliah di jurusan yang berbeda akan memiliki pola pikir yang berbeda juga. Bahkan sebenarnya mereka yang juga sama-sama kuliah sastra, pasti punya pola pikir yang berbeda.

Namun, saya percaya bahwa masa-masa kuliah tersebutlah yang mematangkan saya tentang pola pikir tersebut. Mereka-mereka yang tidak beruntung dan tidak bisa kuliah harus mencari cara lain untuk mematangkan pola pikir mereka.

Pola pikir yang matang inilah yang saya kira penting untuk dunia kerja dan mengejar karir, meski memang harus saya akui mereka-mereka yang kuliah juga belum tentu punya pola pikir yang lebih matang ketimbang mereka yang tidak kuliah.

Karena, faktanya, banyak juga mahasiswa yang hanya sekedar mencari nilai atau bahkan hanya mengikuti keinginan orang tuanya, tanpa benar-benar mencari ilmu dan mematangkan kebiasaan untuk berpikir.

Mereka-mereka yang sudah punya pola pikir matang, biasanya sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan dan menyelesaikan masalah. Kedua hal tersebut, saya kira adalah dua hal yang paling penting di dunia profesional.

BACA JUGA: KARENA KITA AKAN SELALU DIBURU OLEH WAKTU

Akhirnya…

Itu tadi 3 argumen saya kenapa kuliah itu penting. Namun begitu, saya harus mengakui bahwa kuliah tadi hanyalah meningkatkan peluang Anda dalam berkarir. Anda bisa belajar lebih mudah saat duduk di bangku kuliah. Anda bisa punya lebih banyak kawan dan koneksi. Anda juga bisa lebih terhindar dari diksriminasi bias kognitif yang saya sebutkan di argumen pertama saya.

Jadi, jika Anda memang punya kesempatan untuk kuliah setinggi mungkin, kuliahlah. Mereka-mereka yang bisa sukses tanpa gelar akademis itu biasanya berusaha lebih keras dan, bisa jadi, juga lebih beruntung.

Jakarta, 1 Agustus 2017

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.