Kreatifitas: Ketika Pikiran Terbang Tanpa Batas

Pernahkah Anda merasa bahwa puncak kreatifitas berpikir kita, seringnya, justru terjadi di saat atau di tempat yang tidak kita nyana sebelumnya. Tak jarang, ide-ide baru muncul justru ketika kita berada di kamar mandi, di kamar tidur ketika menanti kantuk tiba, atau malah saat berada di perjalanan. Mengapa demikian?

Sebelum menjawab pertanyaan tadi, mari kita cari tahu terlebih dahulu lebih jauh tentang kreatifitas.

Satu kesalahpahaman banyak orang tentang kreatifitas adalah mengenai darimanakah ia berasal. Banyak orang masih percaya bahwa kreatifitas itu hanya terjadi di otak bagian kanan.

Banyak orang juga masih percaya bahwa kemampuan berpikir logis, seperti kemampuan matematika dan hal-hal berbau teknis, merupakan hal yang berbeda dengan kreatifitas, yang seringnya dikorelasikan dengan hal-hal berbau estetika seperti musik dan karya seni lainnya.

ilustrasi-kreatifitas-zilbest

Kesalahpahaman ini disebarkan pertama kali oleh seorang fisikawan asal Jerman bernama Franz Joseph Gall (1758-1828). Paham tentang pengkotak-kotakan otak manusia ini disebut dengan Phrenology yang sudah mulai ditinggalkan karena validitasnya yang semakin diragukan seiring perkembangan teknologi di bidang Neuroscience.

Pasalnya, sekarang teknologi brain-imaging dengan menggunakan mesin MRI (Magnetic Resonance Imaging) sudah jauh lebih matang. Sedangkan jaman Gall dulu, penelitian otak masih dilakukan dengan cara yang jauh lebih primitif.

Arne Dietrich, profesor Psikologi dengan gelar Ph.D. dalam bidang Cognitive Neuroscience merupakan salah seorang pencetus paradigma baru yang disebut dengan Vaudeville Conception of Creativity.

buku arne dietrich-kreatifitas-zilbestParadigma baru ini justru menolak mentah-mentah jika kreatifitas kita hanya terjadi di satu bagian otak semata dan terpisah dengan hal-hal lainnya yang ada di otak kita, seperti logika misalnya.

Kreatifitas adalah sebuah kemampuan multi-dimensi yang merupakan hasil dari banyak proses kognitif yang didistribusikan di banyak area di otak kita.

Faktanya, menyelesaikan soal kalkulus atau matematika super rumit juga membutuhkan kreatifitas berhitung. Demikian juga dengan bidang arsitektur yang membutuhkan kreatifitas logika berpikir sang arsitek. Memutuskan strategi bisnis pun menuntut kreatifitas ekonomi sang pengambil keputusan.

Creativity is, in a word, everywhere. Asking neuroscientists for the neural centres of creative thinking is like asking them for the neural centres of thinking. It’s the brain, stupid.” – Arne Dietrich

Lalu kembali lagi ke pertanyaan kita di awal artikel ini. Kenapa kita justru menemukan ide-ide baru di saat-saat kita sedang santai tadi?

Dalam bukunya yang berjudul The Age of Insight: The Quest to Understand the Unconsious in Art, Mind and Brain, Eric Kandel, pemenang Nobel dalam bidang Psikologi dan Medis tahun 2000, menujukkan hasil riset Jonathan Schooler, seorang Psikolog yang mempelajari sejarah ‘Wandering Mind‘ atau ‘lamunan’ dalam bahasa Indonesia.

Schooler berpendapat bahwa ide-ide besar justru datang ketika orang-orang tidak sedang berpikir keras menyelesaikan masalah namun justru ketika mereka sedang merehatkan pikiran: jalan-jalan, mandi, ataupun berpikir tentang hal lainnya.

relaksasi-kreatifitas-zilbest

Kandel juga menuturkan bahwa masalah-masalah rumit yang membutuhkan kreatifitas berpikir pada akhirnya akan menghantarkan Anda pada kebuntuan. Karena itu, Anda membutuhkan 2 fase berpikir.

Fase Preparation yaitu dimana Anda berpikir keras untuk menyelesaikan permasalahan yang pada akhirnya, dengan sendirinya, akan menghantarkan Anda pada fase kedua, Incubation. Di fase Incubation inilah, Kandel berargumen, alam sadar kita menenangkan diri dan mengijinkan alam bawah sadar kita bekerja.

Dengan kata lain, alam bawah sadar adalah tempat kreatifitas kita berasal dan ketika kita sedang merehatkan pikiran, kita mengijinkan alam bawah sadar kita yang bekerja.

Jadi, jika satu saat Anda sedang penat dan pusing mencari jalan keluar, jangan takut untuk merehatkan pikiran Anda sejenak karena di sanalah kreatifitas berpikir Anda terbang tanpa batas.

Referensi dan Bacaan lebih lanjut:

Where Does Creativity Happens in Your Brain – by Arne Dietrich

The Aha! Phenomenon: Where Do Big Ideas Come From? – by Daniel Honan

Jakarta, 19 April 2016.

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.