kualitas vs. kuantitas

Ketika Kuantitas Tak Harus Berbanding Terbalik dengan Kualitas

Tadinya, saya ingin berbagi pengalaman soal bedanya media online dan media cetak. Namun, setelah 3 hari kutak-katik tulisan dan bongkar pasang ide, saya kesulitan untuk memampatkan informasi tanpa harus menghilangkan argumentasi.

Dalam proses tadi, saya jadi teringat salah satu perdebatan yang sering dibicarakan oleh mereka-mereka yang membandingkan antara media online dengan media cetak.

Bisa jadi hal ini tidak mewakili asumsi khalayak ramai namun, saya sering mendengar bahwa media cetak itu lebih fokus pada kualitas sedangkan media online itu lebih fokus pada kuantitas.

Saya tidak akan membahas lebih jauh soal perbedaan antara media cetak dan media online di sini karena saya yang akan jadi pusing sendiri lagi… wkwkwkwkw…

Jujur saja, saya selalu tergelitik dengan paradigma yang menganggap kuantitas itu akan selalu berseberangan atau berbanding terbalik dengan kualitas.

Padahal, kualitas dan kuantitas itu sebenarnya bisa berjalan beriringan dan bergandengan tangan.

Mari mundur ke belakang sejenak…

revolusi industri
britannica.com

IMHO, pendapat ini mungkin berawal saat revolusi industri ketika produk-produk masal mulai dibuat dengan mesin.

Sepatu buatan tangan itu hasilnya lebih bagus ketimbang sepatu buatan pabrik. Baju hasil jahitan tangan juga lebih bagus ketimbang hasil industri konveksi.

Apakah hal itu benar adanya? Well, saya juga tidak tahu wakawkakawka… karena saya juga belum setua itu ^,^ tapi saya kira argumen itu masih logis dan masuk akal.

Pasalnya, saya tahu betul ada beberapa tipe produk yang memang lebih berkualitas ketika kuantitas bukan jadi fokus utama. Misalnya, sambal. “Hah?!” Iya, sambal.

sambal
indonesia.travel

Sambal yang dibuat dalam porsi kecil itu memang nyatanya lebih enak daripada sambal yang dibuat dalam porsi besar (setidaknya menurut saya sih).

Kenapa saya bilang masuk akal? Karena produk berkualitas itu butuh waktu yang lebih lama untuk dibuat dan butuh bahan yang lebih langka atau lebih mahal.

Selain itu, barang berkualitas juga membutuhkan para profesional yang tidak hanya lebih berpengalaman namun juga yang mau melakukan pekerjaannya sepenuh hati.

Tapi, eh tapi…

aroundyou.com.au

Saya percaya bahwa hal tersebut hanya berlaku untuk produk fisik saja, bukan produk digital di era revolusi digital.

Produk fisik tetap akan bersinggungan dengan masalah kuantitas selama masih ada banyak hukum alam yang berpengaruh. Bahan bakunya tidak tumbuh di sembarang tempat. Proses distribusinya pun juga tidak semudah menjentikkan jari.

Misalnya saja kembali ke soal media cetak. Media cetak pasti akan selalu memiliki keterbatasan jumlah halaman. Belum lagi proses produksi dan distribusi media cetak juga lebih lama dan susah dibanding media digital.

Future Magazines

Sedangkan media digital, faktanya, memang bisa lebih superior dalam hal kuantitas. Jumlah artikelnya bisa lebih banyak. Frekuensi distribusinya juga bisa lebih tinggi.

Modal untuk membuat satu media online itu juga lebih murah ketimbang modal untuk mendirikan satu perusahaan media cetak.

Karena kentalnya dikotomi antara kualitas dan kuantitas di kepala banyak orang, tidak banyak yang menyadari bahwa di media online yang merupakan produk digital juga sebenarnya bisa berhasil dalam hal kuantitas dan kualitas.

Kenapa saya bisa beranggapan demikian?

iacquire.com

Contoh produk digital yang laris manis tapi tetap istimewa dari aspek kualitas sebenarnya sudah banyak.

Google dan Facebook. Kedua raksasa ini sekarang lah yang paling laris manis di dunia maya. Silahkan cek SimilarWeb atau Alexa jika tidak percaya.

Mari kita lihat beberapa produknya Google. Sebagian besar produknya Google itu produk gratisan namun tetap saja kualitasnya selalu dijaga.

Gmail itu langsung memukul telak Yahoo Mail dan Hotmail sejak pertama kali ia dirilis. Google Maps juga jadi acuan standar peta digital sekarang. Google Search Engine apalagi.

Chrome, YouTube, ataupun Android juga istimewa dari segi kualitas namun merekalah yang dominan di pasarnya masing-masing.

fortune.com

Facebook juga sebenarnya demikian. Saya tahu banyak orang tidak suka dengan Facebook karena banyak polemik tentang kontennya. Namun sebenarnya kita tidak bisa menyalahkan Facebook atas kontennya karena ia berbasis user-generated content.

Coba saja begini, cari web programmer yang paling pintar yang Anda kenal. Suruh dia buat satu situs yang persis seperti Facebook, yang bisa menawarkan semua fitur yang ditawarkan oleh Facebook.

Saya kira tidak banyak yang berani melakukannya atau, kalaupun ada yang berani, kemungkinan besar tidak sesempurna Facebook dalam implementasinya.

Facebook punya buanyaaak fitur yang berjalan dengan sempurna, yang tidak akan mudah ditiru banyak perusahaan.

Contoh lain? Well, di industri game juga sebenarnya sama. Dota 2, League of Legends, ataupun Overwatch mungkin bisa dibilang game terlaris sekarang ini.

Namun ketiga game tersebut juga masih terus saja memperbaiki diri dan menjaga kualitasnya masing-masing. Jangan bilang 3 game itu kualitasnya jelek karena saya yakin banyak fans-fans beratnya masing-masing yang akan mati-matian mendebat Anda.

Akhirnya…

image credit: gamespot.com

Mungkin ada dari Anda yang akan mengatakan contoh-contoh yang saya sebutkan tadi bisa berhasil dalam aspek kualitas dan kuantitas itu karena modalnya begitu masif.

Saya setuju dengan Anda soal modal. Bagaimanapun juga, modal adalah salah satu faktor paling penting dalam keberhasilan usaha. Namun, saya kira tidak hanya soal modal saja mereka bisa jadi penguasa industri digital.

Saya percaya faktor penting lainnya adalah mereka memiliki para profesional yang percaya bahwa kualitas dan kuantitas itu tetap harus berjalan seiringan dan tidak ada yang boleh ditinggalkan – para profesional yang mau menantang dirinya untuk bekerja lebih keras dan bekerja sepenuh hati.

Yabes Elia

Jakarta, 22 Juni 2017

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.