Desainer Grafis

Menakar Tarif Pekerja Kreatif: Desainer Grafis, Penulis, dan Kawan-kawannya

Ijinkan saya menuliskan ini di awal artikel, saya jujur akan menganggap remeh mereka-mereka yang bilang pekerjaan kreatif itu mudah dan murah. Buat logo itu gampang? nge-crop foto itu simple? Merancang layout itu hanya butuh Adobe InDesign (atau Corel Draw mungkin wkwkkw – maap buat fans Corel)? Menggambar ilustrasi itu cuma tinggal sat, set, sat, set…?

Desainer grafis mungkin memang lebih sering dibahas isunya di jejaring sosial, namun para penulis juga sebenarnya mengalami masalah yang serupa. Satu artikel di beberapa media ataupun agensi yang mencari jasa penulis lepas hanya dihargai sebesar Rp.20K atau bahkan lebih murah.

Harga untuk para penerjemah lepas pun kadang minta ampun sadisnya, bahkan tak jauh berbeda dengan harga jasa terjemahan di rental-rental komputer pinggir jalan (yang sebenarnya tidak bisa dibilang sebagai terjemahan, karena yang dilakukan hanyalah copas dari Google Translate).

Saya di sini tidak akan membahas soal mana yang lebih mudah dan murah antara pekerjaan-pekerjaan kreatif, antara desainer grafis, penulis, editor video, dan yang lain-lainnya. Saya kira perdebatan itu tidak relevan karena kebutuhan output yang berbeda. Di sini saya lebih tertarik untuk membahas bagaimana seharusnya para pekerja kreatif menakar tarifnya masing-masing dan menghargai kemampuan diri.

Kebetulan, karena saya memang lebih ke penulis ketimbang desainer grafis, contoh-contoh kasus dari pengalaman profesional saya adalah sebagai penulis. Namun, saya kira desainer grafis, editor video,  ataupun pekerja kreatif lainnya bisa menarik benang merah dari pengalaman saya di bawah.

Case Study

Source: Pexels

Ijinkan saya bercerita tentang sistem yang saya terapkan di media tempat saya bekerja sekarang sebagai bahan pertimbangan. Saat ini, saya bekerja sebagai Editor-in-Chief RevivalTV, media daring yang lebih banyak membahas soal esports. Di sini, saya juga memiliki tanggung jawab untuk mengatur para penulis lepas alias kontributor.

Inilah sistem tarif yang saya berlakukan di sini:

  1. Setiap artikel berita atau singkat yang berhasil di-publish, saya hargai sebesar Rp.50K.
  2. Setiap artikel panjang atau timeless, semacam featuring, saya hargai 2x artikel alias Rp.100K.
  3. Setiap artikel interview atau wawancara, saya harga sebesar 3x artikel (Rp.150K / wawancara).
  4. Meski memang tarif mereka akan dibatasi untuk tidak bisa mencapai nominal gaji bulanan untuk para penulis tetap di sini.
Source: Pexels

Saya tidak ada masalah jika kontributor saya juga menulis untuk media lainnya karena saya tahu tarif saya lebih tinggi ketimbang kebanyakan media daring lainnya (setidaknya untuk media pop-culture). Kenapa? Karena ada yang namanya logika di setiap kita.

Misalnya, jika ada penulis yang menulis di media lain yang memberikan tarif Rp.25K per artikel, tentunya dia tahu tulisan seperti apa yang lebih pantas dilempar ke saya dan dilempar ke media satunya. Tulisan-tulisan recehan, yang hanya sebatas copas, pasti akan dioper ke yang harga recehan tadi. Sedangkan artikel hasil wawancara, pasti akan dikirim ke tempat saya karena saya lebih menghargai jerih payah itu.

Satu Langkah Lebih Dekat dengan Copywriting: Berebut Perhatian Lewat Bahasa dan Kata-Kata

Saya juga mau berbagi ilmu dan pengalaman saya sebagai penulis profesional (dari Desember 2008) dan penulis / penerjemah serabutan sejak saat saya masih kuliah dulu (2003-2008) kepada penulis-penulis saya. Karena itulah, saya percaya mereka pasti mau berusaha lebih baik menulis di tempat saya ketimbang di tempat lain yang tidak bisa menghargai mereka.

Saya menghargai para penulis dengan mau berbagi ilmu (buat yang mau mendengar juga sih) dan memberikan imbalan yang lebih besar untuk jasa mereka.

Ijinkan saya memberikan satu cerita lagi dari pengalaman profesional saya sebagai penulis lepas di 2016-2017. Sepanjang 2016 sampai akhir tahun 2017, saya punya sekian banyak proyek tulisan serabutan sebagai berikut:

  1. Freelance Translator: Rp.750 / kata
  2. Penulis artikel advertorial: Rp.1 juta / artikel
  3. Penulis artikel lepas paketan: Rp.2 juta / 6 artikel
  4. Freelance Translator: Rp.100-150K / halaman 
  5. Penulis artikel berbayar / sponsored content: Rp.500 ribu / artikel
  6. Penulis artikel berbayar / sponsored content: Rp. 250 ribu / artikel
  7. Penulis artikel lepas: Rp.100K / artikel

Dari pengalaman tadi, saya punya tarif yang berbeda-beda tergantung kliennya (karena saya tahu klien memiliki budget yang berbeda-beda). Bagaimana saya membagi prioritas saya? Urutan daftar tadi adalah urutan prioritas saya waktu itu.

Proyek dengan harga termahal akan mendapatkan prioritas tertinggi saya. Kepuasan klien saya di urutan pertama daftar tadi adalah prioritas utama, dari segi alokasi waktu – meski saya tidak membedakan kualitas proyek antar klien.

Saya akan prioritaskan proyek mana yang dikerjakan dan diselesaikan terlebih dahulu sesuai dengan harganya dan saya akan bilang jujur ke masing-masing klien saya kala itu.

Sepengetahuan saya sih, mereka semua puas atas hasil pekerjaan saya, meski memang, kala itu, semua proyek berhenti gara-gara saya yang stress / depresi sendiri karena masalah personal saya… Saya sempat kelaparan (wkwkwkwk) dan gagal memenuhi peran sebagai pencari nafkah karena tidak berhasil mencari banyak proyek untuk menyambung nafas.

Saya bercerita jujur di sini dengan harapan kegagalan saya tadi juga bisa jadi pelajaran berharga untuk Anda.

Human Logic: Price Matters

Source: Pexels

Kenapa saya cerita soal pengalaman profesional saya? Karena inilah yang saya propose ke sesama pekerja kreatif, desainer grafis, penulis, ataupun yang lainnya. Buat sendiri sistem produksi Anda (sesuai dengan skill dan pengalaman Anda masing-masing), berikan yang lebih baik buat mereka-mereka yang bisa lebih menghargai jerih payah Anda.

Saya kira Anda sendiri yang seharusnya tahu seberapa hebat skill dan pengalaman Anda (asal Anda mau jujur dengan diri sendiri). Berikan prioritas (investasi waktu dan pikiran) yang lebih baik untuk proyek-proyek yang lebih mahal dan jadikan proyek recehan hanya untuk menyambung nafas.

Misalnya, buat desainer grafis, proyek desain banner yang dibanderol dengan harga Rp.300 ribu hanya akan mendapatkan 2x revisi. Sedangkan proyek banner yang sampai Rp.1 juta, berikan revisi yang tidak terbatas jumlahnya. Desain premium untuk klien-klien untuk kelas kakap yang bisa mencapai Rp.10 juta untuk satu proyek? Berikan semua yang terbaik dari diri Anda dan pastikan mereka puas.

Source: Pexels

Saya sungguh percaya dengan sistem diferensiasi pasar dan logika sederhana otak kita. Seperti produk-produk ponsel misalnya, ponsel yang dibanderol dengan harga Rp.10 juta ke atas tentu memiliki fitur yang lebih baik ketimbang ponsel harga Rp.5 juta atau bahkan Rp.2 jutaan.

Tentunya, batas bawah dan batas atas ini bisa jadi berbeda-beda antar pekerja kreatif yang berbeda-beda tingkat kemampuan dan pengalamannya. Misalnya, jika Anda berpikir logo itu memang tidak seharusnya dibanderol Rp.50K, ya jangan dikerjakan. Biarkan mereka-mereka yang baru belajar Adobe Illustration atau malah Microsoft Paint untuk mengambil proyek receh itu.

Saya sendiri sebagai penulis tidak akan mengambil proyek artikel yang seharga Rp.25K / artikel karena saya tahu proyek tersebut memang lebih pas untuk penulis-penulis pemula yang tahunya cuma copas / translate dari artikel lain.

Namun, itu sistem yang saya terapkan ke diri saya sendiri karena saya ingin memastikan tulisan saya itu memang berbeda dan bermanfaat, bukan hanya sekedar cari sensasi atau malah memenuhi kuota.

Be Aggresive

Source: Pexels

Terakhir, mungkin inilah kekurangan banyak pekerja kreatif yang saya temukan, termasuk saya juga mungkin. Kebanyakan para pekerja kreatif kurang agresif dalam menjajakan jasanya. Saya sendiri, di 2016-2017 tadi, langsung menghubungi kawan-kawan saya yang saya lihat berpotensi untuk membayar dan tidak malu-malu menawarkan jasa saya.

Namun demikian, saya masih kurang agresif untuk menawarkan jasa saya ke orang-orang baru yang belum tahu saya siapa. Karena itulah saya sempat kekurangan pendapatan untuk bisa terus bertahan meski tak punya pekerjaan tetap. Proyek-proyek lepas, seperti yang saya dapatkan tadi, memang tidak menentu datangnya tiap bulan padahal pengeluaran bulanan saya sudah pasti karena saya sudah berkeluarga.

Kita, para pekerja kreatif, seharusnya bisa belajar dari kawan-kawan kita orang-orang bisnis yang lebih agresif dalam hal jualan.

Faktanya, marketing diri itu juga tak kalah penting dengan kemampuan kita sebagai pekerja kreatif. Kenapa? Karena jika Anda mengandalkan calo untuk mendapatkan pekerjaan atau proyek, pendapatan Anda juga pasti akan dipotong oleh sang calo. Banyak-banyaklah bergaul membangun koneksi sebanyak mungkin dan percaya dirilah untuk menawarkan jasa dan kemampuan Anda.

5 Tantangan Terbesar Bagi Para Pekerja Kreatif

Saya juga sebenarnya percaya bahwa klien itu juga berbeda-beda. Ada yang lebih suka output recehan dan ada yang lebih suka output berkelas dan Anda tidak akan tahu jenis klien seperti apa ketika Anda tidak menanyakannya.

Kalaupun akhirnya calon klien tersebut tidak sesuai dengan kelas jasa yang Anda tawarkan, toh Anda tidak rugi. Sebaliknya, siapa tahu kemampuan Anda itu lebih baik dan lebih cocok dari pekerja kreatif yang biasa mereka gunakan sebelumnya.

Semakin banyak klien yang puas dengan pekerjaan dan jasa Anda, semakin mudah pula Anda nantinya menaikkan harga jasa Anda.

Jakarta, 26 Februari 2018

Yabes Elia

Sumber Feature Image: Pexels

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.