Meniti Karir, Mengasah Diri…

Karir… Hmm… Jujur saja, saya tidak merasa percaya diri membahas soal yang satu ini karena memang karir saya biasa-biasa saja. Meski demikian, saya banyak mendapati gaya para pekerja yang, menurut saya, kurang efektif dalam membangun diri sendiri – yang seringkali berakhir dengan berbagai macam keluh kesah.

Satu kali saya pernah mendengar ucapan seorang kawan saya, “Ga mau ah… Itu kan bukan KPI (Key Performance Index) gua…” Saya yakin Anda juga pernah mendengar atau malah yang merasa demikian.

Sayangnya, bagi saya, hal inilah yang lebih sering saya temukan dari kawan-kawan saya yang bekerja.

Ijinkan saya bercerita secuil pengalaman saya. Jadi sewaktu saya masih bekerja jadi Managing Editor di majalah PC Gamer, bos saya alias sang owner seringkali menambahkan pekerjaan baru untuk saya.

working-hard

“Bes, tolong urus Facebook ya.”, “Bes, tolong temenin AE ketemu klien ya”, “Bes, coba urusin Forum dong”, “Bes, coba cari kontaknya si A dong, atur jadwal untuk meeting…”, “Bes, coba kamu cari editor baru sana” dan bermacam-macam kerjaan baru lainnya yang mungkin sebenarnya di luar tanggung jawab saya sebagai Managing Editor.

Namun jujur saja, saya lebih suka bos yang semacam itu dan saya selalu menyanggupi semua permintaannya.

Mungkin orang lain akan mengatakan bos saya yang dulu itu pelit karena tidak mau cari karyawan baru untuk tanggung jawab baru – dan mungkin memang pelit kwakwkakwa – namun saya justru menyukainya karena ada hal-hal yang sangat bermanfaat untuk masa depan saya.

working-from-home-health-ftr

Learning new things FREE!

Jujur saja, saya memang sangat ingin melanjutkan proses belajar untuk kuliah di jenjang yang lebih tinggi.

Namun saya tidak punya cukup modal karena saya sudah punya tanggung jawab lebih – dan kecanduan hardware plus game yang menguras semua isi rekening tabungan saya ^,^

Jadi, saya harus mencari metode lain untuk belajar. Karena itu saya belajar dari pekerjaan saya. Tanggung jawab saya sebenarnya hanyalah konten majalah cetaknya namun karena saya harus mengurusi berbagai macam hal lainnya, saya jadi belajar sosmed, rekrutmen, digital marketing, jualan iklan, dan kawan-kawannya.

Bagi saya, hal ini adalah kesempatan emas untuk belajar tanpa harus menguras biaya – karena jujur saja, saya juga pelit hahaha…

078

Bulan April 2015, ketika saya bekerja untuk Mobogenie setelah dari PC Gamer, Social Media Specialist-nya memutuskan untuk mengundurkan diri setelah diberi target baru sang oleh Country Manager.

Saya? Saya justru maju menawarkan diri… Hasilnya, saya bisa memberikan hasil 2x lipat dari target baru tadi. Jujur saja, saya sudah merasa percaya diri ketika menawarkan diri karena memang saya sudah pernah mengurus sosmed sebelumnya ketika di PC Gamer.

Masih di Mobogenie, satu kali saya harus mencari anggota tim baru. Setelah proses interview dan tes, saya bersikeras dengan satu orang kandidat dan kala itu orang HRD nya tidak terlalu suka dengan kandidat saya karena CV-nya yang tidak terlalu meyakinkan.

recruitment

Jujur saja, saya saat itu ngotot karena sebelumnya saya juga sudah menjalankan proses seleksi puluhan kali selama bertahun-tahun di PC Gamer.

Kandidat saya akhirnya pun diterima dan dia jadi karyawan pertama yang Fresh Graduate dalam sejarah Mobogenie Indonesia.

Sekarang, setelah keluar dari Mobogenie juga, kandidat tadi bekerja di salah satu perusahaan terbesar asal Tiongkok.

Pasalnya dari pengalaman saya menjalankan proses rekrutmen puluhan kali, saya belajar bahwa CV hanyalah spesifikasi di atas kertas, dan spesifikasi hanya berbicara 30% dari kualitas aslinya.

Saya lebih percaya kepada tes, atau bahasa kerennya: hasil benchmark, dan ketertarikan sang kandidat alias passion. Saya paham hal ini karena saya memang sudah belajar sebelumnya – gratis, tanpa harus membayar uang kuliah tambahan yang amit-amit mahalnya.

Di Zilbest ini, saya juga melakukan semuanya sendiri – kecuali mendesain logo dan setup situsnya pertama kali (saya punya dua kawan yang sangat baik hati yang membantu saya untuk kedua hal tersebut).

Saya menulis konten, mencari traffic, dan mencari penghasilan sendiri. Jujur saja, jika sebelum-sebelumnya saya hanya peduli dengan KPI saya dan tidak mau dipasrahi tanggung jawab baru, saya tidak bisa melakukan semua ini sendiri.

Higher value means so many things…

881

Ketika Anda memiliki segudang tanggung jawab, nilai jual Anda semakin tinggi untuk perusahaan tersebut.

Saya percaya bahwa kita para pekerja hanyalah komoditas alias produk. Semakin tinggi nilai jual atau daya tawar sebuah produk, semakin berharga pula produk tersebut.

Jujur saja, saya tidak pernah khawatir dipecat saat saya masih jadi karyawan karena saya memiliki segudang tanggung jawab yang mungkin harus dikerjakan lebih dari satu orang jika perusahaan ingin menggantikan posisi saya.

thumbs_work-joke-01

Saya sebenarnya tidak pernah berpikir lebih pintar atau superior namun saya yakin ada banyak sekali orang yang tidak mau diberi tugas lebih.

Jadi, misalnya perusahaan harus mencari pengganti saya, mereka harus mencari orang yang MAU mengerjakan segudang tanggung jawab saya tadi.

Hal ini tentu saja menjadi nilai jual tersendiri. Anda bisa lebih bebas bekerja dan Anda justru bisa menekan balik bos Anda jika posisi Anda sudah tak tergantikan – misalnya soal naik gaji ^,^

Finally…

Tentu saja, hal ini mungkin memang bukan untuk semua orang dan saya juga tidak akan memaksakan cara saya ini.

Namun bagi Anda yang memang merasa bosan dengan pekerjaan atau bosan dengan gaji Anda (nyahaha), Anda bisa mencoba cara saya. Belajar hal-hal baru itu dapat mengusir rasa bosan dari pekerjaan rutin Anda.

Plus, Anda akan belajar hal-hal baru yang mungkin akan berguna di karir Anda kedepannya dan daya tawar Anda akan jadi semakin tinggi untuk perusahaan tempat Anda bekerja.

Terakhir, jujur saja, dengan cara tadi, saya justru merasa lebih bodoh dari sebelum-sebelumnya… Karena saya jadi tahu ternyata masih ada ribuan atau jutaan hal lain yang harus saya pelajari. Namun, paling tidak, satu hal yang saya ketahui adalah saya masih belum tahu apa-apa dan hal ini berarti saya sudah berada di jalan yang benar…

“The greatest enemy of knowledge is not ignorance, it is the illusion of knowledge.” ― Daniel J. Boorstin

Jakarta, 18 Agustus 2016

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.