Pasar Bursa Tenaga Kerja / Labor Market: Sebuah Pengantar

Tahukah Anda bahwa menurut Forbes, Cristiano Ronaldo digaji sekitar US$ 50 juta per tahun? Ia juga masuk ke dalam 10 selebriti terkaya di dunia dan menempati peringkat 3 sebagai atlit dengan gaji terbesar di dunia.

Lalu pertanyaannya, kenapa dia bisa digaji sebesar itu? Sedangkan sebagian besar orang digaji tidak sampai 1/100 dari gajinya? Jangankan di Indonesia, bahkan Upah Minimum di Amerika Serikat saja adalah US$ 7,25 per jam.

Jadi, agar seseorang dengan upah minimum di AS mendapatkan nominal yang sama dengan CR7 tadi, ia harus bekerja selama 6,89 juta jam… Andaikata ia bekerja 24 jam sehari, orang tersebut membutuhkan 287.356 hari atau 787 tahun…

bursa-tenaga-kerja-cr7-zilbest

Jawabannya dari pertanyaan tadi sebenarnya sangat sederhana: hukum ekonomi, permintaan vs. penawaran.

Hukum pasar tenaga kerja sebenarnya serupa dengan pasar-pasar ekonomi lainya. Semakin tinggi permintaan (demand) dan semakin rendah penawaran (supply), semakin mahal pulalah produk tersebut.

Dalam pasar tenaga kerja, kita (atau lebih tepatnya skill kita) menjadi produk yang kita jual (sewakan) ke pemilik perusahaan.

Ketika kita, sebagai penjaja jasa keahlian setuju dengan harga yang ditawarkan oleh pemilik perusahaan terjadilah yang dinamakan voluntary exchange (transaksi).

Mari kita lihat kasus CR7 tadi. Mungkin dari semua pemain bola yang ada di dunia saat ini, hanya ada satu nama yang bisa disejajarkan dengan skill yang dimiliki oleh Cristiano Ronaldo: Lionell Messi.

Berarti, skill CR7 memiliki nilai penawaran yang langka bukan main. Di sisi permintaan, klub-klub sepak bola yang membutuhkan skill setingkat Ronaldo tadi banyak sekali.

Pasalnya, dengan memiliki pemain sekelas dan setenar CR7, klub tersebut dapat memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk memenangkan kompetisi. Selain itu, pemilik klub dapat menjual merchandise dengan nama Ronaldo dengan nilai miliaran.

bursa-tenaga-kerja-ilustrasi-1-zilbest

Upah Minimum

Namun demikian, karena memang ekonomi bukan ilmu pasti, satu rumus tidak dapat dipakai di semua kasus.

Jika menggunakan hukum permintaan vs. penawaran saja, maka bisa jadi, kita di Indonesia (dan di semua negara di dunia) akan digaji serendah mungkin, lebih rendah dari upah minimum kita yang sekarang.

Karena, Indonesia memiliki jumlah penduduk 252 juta orang di 2016 dengan jumlah angkatan kerja sebanyak 121 juta jiwa (menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2014).

Kenyataannya, jumlah penduduk di satu negara pasti akan jauh lebih besar daripada jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia.

Oleh karena itu, dibutuhkan aturan pemerintah yang menetapkan upah minimum.

Formula sistem pengupahan ini sangat berbeda-beda di tiap negara atau bahkan tiap kota.

bursa-tenaga-kerja-upah-minimum-zilbest

Namun yang menarik dari sistem upah minimum ini adalah perdebatan yang tak pernah usai tentang berapa jumlah yang seharusnya diberikan.

Sejumlah ekonom dan, tentu saja para buruh dan tenaga kerja, menuntut kenaikan atau malah upah minimum setinggi mungkin.

Para ekonom yang mendukung kenaikan upah minimum berargumen bahwa dengan upah yang lebih tinggi, para pekerja akan memiliki daya beli yang lebih tinggi juga sehingga pada akhirnya akan berimbas juga pada pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.

Sedangkan di sisi lain, tidak sedikit juga para ekonom dan pemilik usaha yang tidak setuju dengan kenaikan upah minimum.

Para ekonom yang menantang kebijakan upah minimum tinggi berargumen bahwa dengan gaji yang terlalu tinggi dapat mencederai bisnis-bisnis kelas kecil dan menengah.

Ditambah lagi, dengan gaji yang lebih besar, berarti ongkos bisnis pun bertambah yang berimbas pada laba yang bertambah kecil. Hal ini juga dapat berakibat pada laju inflasi yang tinggi dan meningkatnya jumlah penggangguran.

Perdebatan panjang mengenai upah minimum ini tidak hanya ditemukan di negara-negara berkembang saja namun juga di setiap negara, seperti di Amerika Serikat.

Pasalnya, kembali lagi, ekonomi adalah ilmu sosial, bukan ilmu pasti. Pengujian teori di satu daerah bisa jadi akan memiliki hasil yang sangat berbeda ketika diujikan di daerah lainnya.

bursa-tenaga-kerja-ilustrasi-2

Hal ini pernah coba dilakukan oleh 2 ekonom di Amerika Serikat tahun 1992. David Card dan Alan Krueger meniliti perbedaan angka upah minimum di 2 wilayah yang berdekatan.

New Jersey meningkatkan upah minimumnya dari US$ 4.25 menjadi US$ 5.05. Sedangkan Pennsylvania tetap di US$ 4.25.

Kedua ekonom tersebut kemudian melakukan survey atas sebuah waralaba restoran cepat saji yang tersebar di kedua wilayah tadi. Ternyata, buruh-buruh di restoran tadi tidak kehilangan pekerjaan. Bahkan jumlah tenaga kerja di New Jersey malah meningkat.

Namun demikian, perdebatan ini masih belum berakhir sampai di sana.

Baru-baru ini, University of Chicago melakukan riset dan menemukan sejumlah masyarakat beranggapan bahwa meningkatkan upah minimum akan membuat orang-orang di bawah garis kemiskinan lebih sulit mencari kerja.

Namun di sisi lain, tidak sedikit juga yang beranggapan bahwa peningkatan upah minimum tadi akan memberikan dampak yang positif pada orang-orang yang mampu mendapatkan pekerjaan dan dampak positif tersebut dapat menutupi dampak negatif yang diakibatkannya.

Karena artikel ini sudah terlalu panjang dan bursa tenaga kerja memang terlalu kompleks untuk dibahas, kita akan melanjutkan pembahasan topik ini di lain waktu.

 

Sumber dan Bacaan lebih lanjut:

The Minimum Wage: Does It Matter? – oleh Lisa Smith

The Theoritical Debate About Minimum Wage – Hansjőrg Herr, Milka Kazandziska, Silke Mahnkopf-Praprotnik (PDF).

The Effects of Minimum Wages on Employment: Theory and Evidence from the US – Richard Dickens, Stephen Machin, Alan Manning
Jakarta, 14 April 2016

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.