rekan kerja menyebalkan

Rekan Kerja Menyebalkan? Enaknya Diapain?

Bagi Anda yang sudah bekerja, saya yakin Anda pasti pernah menemukan rekan kerja yang menyebalkan. Setiap kantor, pasti punya setidaknya ada 1 orang yang jadi musuh bersama. Jika Anda tidak menemukan hal itu di tempat kerja Anda sekarang, kemungkinan besar, Anda lah yang jadi musuh bersama tadi… wkwkwkwkwkwJust kidding ^<^

Rekan kerja yang menyebalkan ini bisa jadi adalah anggota tim alias anak buah yang tidak bisa mengikuti ritme kerja, memahami apa yang Anda inginkan, ataupun memang sengaja tidak mau menuruti otoritas. Namun, bisa jadi juga rekan kerja yang menyebalkan adalah atasan Anda wkwkwkwkw…

Kita akan bahas 2 tipe rekan kerja menyebalkan itu tadi satu per satu.

Disclaimer dulu, saya sudah coba riset di dunia maya soal hal ini. Namun saya tidak berhasil menemukan jurnal, skripsi, atau tulisan ilmiah lain soal hal ini. Kebanyakan artikel soal ini ditulis di media-media yang terlalu mainstream yang jawabannya sebenarnya terlalu sederhana dan dangkal.

Jadi, meski sebenarnya saya tidak percaya diri dengan pengalaman profesional saya yang masih seumur jagung, ijinkan saya menawarkan perspektif saya sendiri soal hal ini yang saya pelajari dari pengalaman profesional saya sejak Desember 2008.

Jika Anda keberatan, silakan tutup artikel ini.

1. Anak Buah yang Bodoh?!

Saya pribadi sebenarnya tidak percaya ada orang yang lebih superior dari orang lainnya. Saya hanya menggunakan istilah bodoh (atau istilah lain yang mungkin lebih sopan tapi esensinya sama) karena memang predikat itu yang sering ditempelkan ke anggota tim yang menyebalkan.

Selama pengalaman saya di tingkatan middle management, saya juga memang pernah punya segelintir orang yang memang sulit sekali diatur.

Komunikasi, kalau kata beberapa artikel-artikel media mainstream itu tadi. Namun, saya kira jika Anda sudah berada di, setidaknya, middle management, saya kira Anda sudah tak perlu lagi diajari soal itu.

BACA JUGA: 4 TIPE KEMARAHAN YANG MUNGKIN PERNAH ANDA TEMUKAN ATAU RASAKAN

Ada juga yang menyarankan untuk cari tahu alasan dari anggota tim yang sulit di atur. Sulit diatur ini saya kira hanya ada 2 alasan mendasarnya. Apakah memang dia meremehkan Anda dan keputusan Anda? Atau orang tersebut lamban sekali proses belajarnya?

Bagi saya (secara profesional), alasan itu tidak penting. Saya kira pertanyaan yang lebih penting adalah apakah anggota tim tersebut bisa membantu Anda meraih tujuan / KPI Anda?

Saya masih ingat betul, saat saya masih bekerja di media cetak, bos saya mengatakan, “saya hire dia untuk bantu kamu. Kalau dia tidak bisa bantu kamu, ngapain saya harus hire dia?” saat saya bercerita tentang salah satu anggota tim saya yang tidak bisa bekerja sesuai dengan standar saya.

Jadi, biasanya, saya lapor dulu ke atasan yang lebih tinggi tentang performa anggota tim saya. Kalau jawaban itu yang saya dapat, saya akan langsung berbicara dengan orang tersebut dan menyarankan dia untuk mengundurkan diri.

Banyak orang mungkin merasa keputusan saya terlalu kejam. Namun, mempertahankan para pekerja yang tidak mampu memberikan performa maksimal itu juga sebenarnya sama kejamnya.

Saya sungguh percaya bahwa tidak ada orang yang lebih superior dari orang lainnya, termasuk secara profesional. Tidak ada yang lebih bodoh dan lebih pintar, semua manusia punya nilai yang sama. Hanya saja, masalahnya lebih pada cocok atau tidak orang tersebut melakukan pekerjaannya saat ini.

Maksud saya seperti ini, saya dulu sempat belajar bermain musik. Namun, jujur saya menyadari skill saya di musik ya hanya segitu-segitu saja; setidaknya saya lebih percaya diri dengan kemampuan saya menulis.

Jika saya dulu memaksa atau dipaksa untuk terus berkutat di musik, mungkin saya tidak akan sampai di posisi ini sekarang. Saya kira inilah masalah kebanyakan orang.

BACA JUGA: MENITI KARIR, MENGASAH DIRI

Banyak orang itu memang belum mengeksplorasi kemampuan dirinya cukup luas untuk menemukan keahlian spesifiknya. Saya sungguh percaya dengan keahlian spesifik tiap-tiap orang itu berbeda-beda. Lain waktu, saya akan coba menulis soal eksplorasi diri ini.

Memang, saya juga percaya bahwa kita bisa belajar apapun yang kita mau namun masalahnya waktu yang diperlukan itu berbeda-beda antara skill satu dengan yang lain. Padahal, saya percaya betul bahwa hidup kita itu akan selalu berpacu dengan waktu.

image credit: glasbergen.com

Karena itu, jika Anda memaksa orang-orang yang memang sebenarnya kurang cocok jadi penulis untuk terus menulis, Anda justru akan mengerdilkan potensi karirnya. Siapa tahu ia lebih cocok jadi koki, penjahit, penyanyi, atau profesi lainnya.

Jadi, itulah sebabnya saya lebih berani untuk melepaskan seseorang. Saya hanya bisa berharap orang tersebut bisa mencoba jalan lain yang mungkin lebih cocok dengan keahlian dirinya masing-masing.

Saya sendiri juga sebenarnya tidak ada masalah jika saya diharuskan untuk mengundurkan diri ketika saya tidak dapat memberikan performa maksimal. Pasalnya, saya tahu memaksakan diri saya di sana hanya akan merugikan kedua belah pihak: perusahaan dan diri saya sendiri.

2. Bagaimana dengan Atasan yang Maunya Menang Sendiri?

image credit: dilbert.com

Well, saya tidak tahu karena semua atasan saya di 4 perusahaan yang pernah saya masuki itu hebat-hebat semua akwoakwoakwoakwoakaw… ^,^

Just kidding, sebenarnya saya tidak peduli karena saya tidak mau jadi penjilat atasan. Saya memang sebenarnya cari mentor setiap kali saya masuk ke perusahaan baru. Untungnya, kebanyakan atasan saya memang lebih berpengalaman dan lebih hebat dari saya di aspek-aspek yang memang asing bagi saya; dan saya bisa belajar banyak dari atasan-atasan saya tadi.

Namun, saya juga tahu betul rasanya jadi bawahan dan sering mendengarkan keluhan-keluhan terhadap atasan.

Bos yang bisanya cuma memerintah tanpa tahu situasi dan kondisi, atau malah tak tahu diri wkwkwkwkwk, atasan yang tidak bisa mempercayai kemampuan anak buahnya dan tidak bisa menerima masukan, pemimpin yang kerap sekali berganti-ganti prinsip (tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan) dan yang lain sebagainya yang tidak bisa disebutkan semuanya di sini.

Satu hal yang pasti, kepentingan pemilik perusahaan dan kepentingan karyawan itu pasti bertolak belakang.

Mungkin ada yang bilang kepentingannya bisa diselaraskan karena jika perusahaan maju, karyawannya pun makmur. Well, saya bilang itu bullshit… wkwkwkwkw…

Faktanya, jika mau jujur (sejujur-jujurnya), semua pekerja pasti ingin pekerjaan seringan mungkin dengan gaji sebesar mungkin. Sedangkan pemilik perusahaan maunya berbanding terbalik dengan itu.

Memang, situasi riil tiap-tiap karyawan dan pemilik perusahaan itu nyatanya tidak sekestrim yang saya sebutkan tadi karena tiap pihak harus mau kompromi untuk bisa bekerja sama.

Lalu solusinya bagaimana jika mendapat atasan yang menyebalkan? Well, IMHO, tergantung situasi Anda.

Jika Anda tak punya tawaran pekerjaan lain, ya sudah mau gimana lagi, bersabarlah… wkwkwkwk. Jika Anda cukup PD atau nekat, silakan coba menggulingkan dan menggantikan atasan yang menyebalkan tadi. Namun saya sendiri tidak terlalu berminat dengan politik kantor.

BACA JUGA: ORANG SABAR PANTATNYA LEBAR

Sejumlah artikel yang saya baca soal ini memang menyarankan Anda untuk mengomunikasikan keluhan Anda. Namun saya kira Anda juga harus melihat dulu dengan jujur bagaimana posisi Anda di perusahaan.

Jika, Anda tidak mampu berbuat banyak untuk perusahaan, kemungkinan besar, keluhan Anda tidak akan digubris.

Saya sungguh percaya bahwa kuncinya ada di performa kita sebagai pekerja. Semakin tinggi nilai kita di sebuah perusahaan, semakin banyak pula tuntutan yang bisa kita minta dan dipenuhi.

Jadi, bekerjalah sepenuh hati dan semaksimal mungkin. Kalaupun Anda mendapatkan atasan yang tak bisa menghargai Anda, saya kira ada perusahaan lain yang bisa melihat nilai Anda.

Terlalu banyak komplain juga tidak baik untuk kesehatan dan kebahagiaan masing-masing kita. Pasalnya, terlalu banyak komplain dan marah-marah akan membuat kita dijauhi orang-orang di sekitar kita.

Akhirnya…

Sekali lagi, jujur saja, ini hanyalah pendapat yang saya pikirkan setelah merasakan bagaimana berada di posisi tengah selama lebih dari 5 tahun. Mungkin mereka yang lebih senior dari saya bisa saja memberikan pendapat yang berbeda dan mungkin merekalah yang lebih benar.

Namun setidaknya saya lebih jujur ketimbang media-media mainstream ^,^. Saya sendiri percaya industri dan profesionalisme itu lebih fair ketimbang ranah lain, seperti politik.

Nyatanya, kita sebagai pekerja hanyalah produk yang menawarkan jasa (skill dan kemampuan berpikir) dan produk yang dapat dengan mudah digantikan fungsinya, tidak akan pernah mampu memiliki daya tawar tinggi.

Jakarta, 6 Agustus 2017

Yabes Elia

feature image credit: pexels.com

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.