ibu yang bekerja

Tentang Ibu yang Bekerja alias Working Mom, dari Perspektif Suami / Ayah

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah artikel soal ibu yang bekerja dari perspektif seorang ibu yang juga bekerja. Saya jadi tergelitik untuk menulis artikel dengan topik yang sama namun dari perspektif seorang suami atau seorang ayah.

Dari awal saya akan mengatakan bahwa ibu yang bekerja itu bisa jadi kondisi yang lebih positif dalam menjaga keutuhan rumah tangga. Saya pribadi, memang dari jaman bujangan dulu, ingin istri saya nantinya tetap harus bekerja.

Kenapa saya berpendapat demikian? Ini argumen saya.

Saya mencari teman hidup, bukan teman tidur

image credit: vitamin-ha.com

Dari awal masa pacaran saya dengan istri saya dulu, saya memang sudah punya definisi yang jelas tentang seorang istri.

Bagi saya, seorang istri adalah seorang kawan belajar yang paling kondusif, belajar apapun itu: belajar berkarir, belajar mengendalikan emosi, belajar bercinta, belajar membesarkan anak, dan jutaan hal lainnya yang dibutuhkan agar bisa memiliki hidup yang berarti.

Karena itu, saya mencari seorang istri yang juga terasah cara berpikirnya, kritis, dan berwawasan luas tetapi juga jangan malu-maluin untuk dibawa ke pesta pernikahan wkakawkwkakwa... Maaf, faktanya, saya tetap laki-laki ^,^

Untungnya, keinginan saya tadi terkabul. Bahkan, istri saya malah punya karir yang lebih bagus dari saya karena sekarang dia bekerja untuk United Nations Development Programme (UNDP). Dia juga lebih pintar dan rajin dibanding saya.

Menurut saya, bekerja adalah salah satu cara yang paling efektif untuk terus mengasah pikiran dan menambah wawasan.

BACA JUGA: MENITI KARIR, MENGASAH DIRI

Maaf, sebelum ada yang ngamuk-ngamuk nyahaha…, bukan berarti semua ibu rumah tangga itu juga tidak terasah pikirannya. Saya tetap mengagumi wanita-wanita yang rela jadi ibu rumah tangga karena mereka rela menenggelamkan egonya demi keluarga.

Namun, jika ingin fair, bukan berarti jadi ibu rumah tangga tidak memiliki kekuranganya sama sekali.

Faktanya, kita semua pasti butuh mendengar cerita dan butuh bercerita. Ketika kita bekerja, otomatis, waktu dan perhatian kita akan lebih tersita untuk memikirkan persoalan-persoalan kerja ketimbang memikirkan moral negara atau tetangga.

Sebaliknya, ibu-ibu yang tidak bekerja sama sekali, kemungkinan besar, jadi lebih aware dengan isu tetangga ataupun acara televisi. Ijinkan saya mengambil contoh dari kondisi yang cukup populer sekarang ini di kalangan ibu-ibu, yang berada di tengah-tengah antara wanita karir dan ibu rumah tangga.

BACA JUGA: TV: KOTAK SEJUTA MIMPI

Beberapa tahun belakangan ini, banyak ibu-ibu yang tidak ke kantor tetapi bekerja dari rumah, seperti berjualan barang via jejaring sosial.

Ibu-ibu yang berjualan tadi jadi harus memikirkan produk dan konsumen, harga, marketing, distribusi produk, ataupun yang lainnya jika ingin jualannya laris. Hal ini mungkin tidak akan pernah terpikirkan oleh ibu-ibu rumah tangga.

Sekali lagi, kebetulan saja, memang saya lebih suka mendengarkan isu dan masalah pekerjaan ketimbang mendengarkan cerita tentang isu personal tetangga, artis, atau siapapun.

Entahlah, bisa jadi saya yang salah, namun saya kira banyak juga bapak-bapak atau suami-suami yang sama seperti saya. Saya kira tidak sedikit pria yang lebih tertarik untuk tahu bagaimana rasanya kerja di organisasi atau perusahaan internasional ketimbang artis siapa yang baru saja pindah agama.

Perspektif yang lebih luas

Jika kita ambil contoh konsep keluarga tradisional di budaya timur yang mengatakan bapak sebagai pencari nafkah dan ibu yang mengurus rumah tangga, kemungkinan besar, sang suami tidak akan pernah mengerti perspektif istri dan sang istri tidak akan pernah merasakan masalah dan kesulitan yang dihadapi oleh para suami setiap harinya.

Para bapak-bapak itu mungkin tidak akan pernah menyadari bagaimana repot dan melelahkannya mengurus rumah dan anak. Sebaliknya, ibu-ibu rumah tangga juga tidak akan pernah menyadari bagaimana sulitnya menyenangkan atasan / klien dan mengejar target.

Kenyataanya, kita tidak akan pernah tahu betul bagaimana rasanya jika kita belum pernah berada di situasi yang sama. Jika sang ibu atau istri bekerja, paling tidak ibu atau istri tersebut juga jadi pernah merasakan bagaimana sulitnya bekerja.

BACA JUGA: PERSPEKTIF

Lebih bagus lagi sebenarnya jika para suami atau bapak itu juga harus mau mengurus rumah dan anak biar juga sama-sama tahu bahwa mengurus anak dan rumah itu juga tidak jarang sama menyebalkannya dengan menyenangkan atasan ataupun berlomba mengejar kompetitor.

Lalu bagaimana dengan nasib anak jika ayah dan ibunya bekerja? Mungkin itu pertanyaan besarnya.

Namun faktanya, konsep keluarga tradisional ala budaya timur (ayah bekerja mencari nafkah dan ibu mengurus rumah) itu belum tentu atau tidak terbukti 100% akan menjamin kesuksesan anak-anaknya nanti.

Banyak anak dari keluarga berantakan juga bahkan bisa sukses. Tidak sedikit anak dari keluarga normatif tadi yang karirnya tidak beranjak naik bertahun-tahun atau malah tidak bekerja sama sekali.

Karena itu, saya pribadi lebih fokus untuk menjaga diri dan keluarga agar tetap saling menghormati dan menghargai satu sama lain ketimbang menekankan peran-peran normatif tradisional tadi.

Malah saya sebenarnya lebih bangga ketika istri saya juga bisa lebih sukses atau bahkan gajinya lebih besar dari saya kawkwakawkawa… Setidaknya, saya bisa meyakinkan diri saya bahwa saya tidak salah dalam memilih pasangan.

Image credit: JMS Photo

Akhirnya…

Saya kira saya cukup jelas menyampaikan argumen saya kenapa ibu yang bekerja itu bisa memiliki kelebihan tersendiri dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.

Namun demikian, saya juga percaya bahwa setiap rumah tangga atau hubungan suami istri itu unik. Kebetulan saja, saya dan istri saya punya pendapat yang sama soal hal ini dan saya tidak akan memaksakan pendapat saya ke pasangan lainnya.

Buat pasangan lainnya, saya kira soal istri yang bekerja atau tidak itu sepenuhnya jadi hak dan tanggung jawab masing-masing pasangan untuk didiskusikan bersama.

Sedangkan buat mereka-mereka yang belum menikah, saya kira ada bijaknya untuk lebih jujur tentang masalah ini. Saya tahu ada para pria yang insecure saat tahu gaji atau pendapatan istri lebih besar dari gaji suami awkakwkawkaw…

Namun saya yakin ada juga yang seperti saya yang justru lebih suka wanita-wanita tangguh yang mau berjuang bersama-sama baik soal keluarga dan soal pekerjaan.

Jakarta, 29 Juni 2017

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.