Confirmation Bias / Bias Konfirmasi

It is the peculiar and perpetual error of the human understanding to be more moved and excited by affirmatives than by negatives.” — Francis Bacon

Miskonsepsi: Opini kita adalah hasil dari analisa rasional yang obyektif…

Kenyataannya: Opini kita adalah hasil dari menaruh perhatian pada informasi-informasi yang mengkonfirmasikan apa yang kita percayai dan mengacuhkan informasi lain yang menyangkal apa yang telah kita percaya sebelumnya.

Confirmation bias (bias konfirmasi) adalah sebuah metode berpikir induksi — kebalikan dari deduksi — dimana kita cenderung untuk memperhatikan informasi yang mendukung hal-hal yang kita percaya benar dan mengacuhkan ataupun meremehkan hal-hal yang menyanggah kepercayaan kita.

confirmation_bias---bias-konfirmasi_3

Masih ingatkah Anda pada pemilihan presiden tahun 2014 silam? Bulan Juli 2014 sebelum pengumuman resmi oleh KPU, kedua pihak menyatakan diri sebagai pemenang pilpres.

Koalisi Merah Putih mengambil sejumlah hasil survey yang memenangkan pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Sedangkan Megawati juga menggelar jumpa press dan syukuran atas kemenangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Para pendukung Prabowo mengacuhkan apa yang dikatakan kelompok lawan dan para pendukung Jokowi juga melakukan hal yang sama.

Politik memang merupakan contoh yang paling mudah soal bias konfirmasi. Para pendukung Jokowi akan mengacuhkan semua kampanye hitam yang dilakukan pihak lawan — apapun itu bentuknya. Sebaliknya, para pendukung Prabowo juga melakukan hal yang sama. Tiap-tiap orang cenderung untuk menutup mata terhadap keburukan jagoannya dan meneriakkan kehebatan sang jagoan.

Ahok-Basuki-bias-konfirmasi

Hal ini juga kembali lagi terjadi sekarang ini menjelang pemilihan gubernur Jakarta yang baru. Para pendukung Ahok akan berteriak-teriak memberitakan kehebatan sang petahana. Sedangkan para pembencinya akan mencari-cari kesalahan dan mendukung siapapun asalkan bukan Tjahaja Basuki Purnama.

Sebelum Anda salah kaprah, bukan, tulisan ini bukan untuk membela atau mencaci Ahok ataupun Jokowi. Tulisan ini ditujukan untuk menunjukkan bahwa kita manusia memang memiliki konfirmasi bias yang seringkali tidak disadari.

Mengapa?

thomas gilovich - bias konfirmasiMengapa manusia memiliki konfirmasi bias tersebut? Well, Thomas Gilovich menyatakan dalam bukunya How We Know What Isn’t So: The Fallibility of Human Reason in Every Day Life (1993), “most likely reason for the excessive influence of confirmatory information is that it is easier to deal with cognitively.”

Kita lebih mudah untuk mengingat informasi baru yang mendukung apa yang kita percayai selama ini dan, secara tanpa sadar, dengan cepat melupakan informasi ataupun fakta baru yang menyanggah kepercayaan itu tadi.

Misalnya saja seperti ini, stereotipe yang ada di sejumlah komunitas adalah ini: orang Batak itu pasti pandai menyanyi dan merdu suaranya.

Satu ketika Anda bertemu dengan teman orang Batak yang memang pandai menyanyi dan merdu suaranya, Anda akan memasukkan teman Anda sebagai satu contoh yang mengkonfirmasikan stereotipe yang sudah Anda percayai sebelumnya.

Sebaliknya, jika Anda bertemu dengan orang Batak yang memang tidak pandai menyanyi, Anda akan cenderung untuk melupakan dari keturunan mana dia dilahirkan.

judika-bias konfirmasi

Faktanya, Tidak semua orang Batak itu suka dan pandai menyanyi. Tidak semua orang Ambon itu pintar bermain billiard — karena kebetulan kawan-kawan saya yang orang Ambon jago-jago billiard, saya jadi tertular stereotipe baru…

Stereotipe, apalagi yang berbasis ras, suku dan agama, itu tidak ada yang benar-benar absolut, bahkan sebenarnya malah tidak ada dasar ilmiah yang mendukung semua stereotipe itu.

Akibatnya?

Jika kita tidak menyadari bias yang ada di diri kita masing-masing, bisa saja kita akan mengambil keputusan yang tidak rasional ataupun yang akan merugikan diri kita.

Ilmuwan, lembaga survei, wartwawan akan cenderung mencari sumber-sumber informasi yang mendukung apa yang mereka percaya meski belum tentu benar dan mengacuhkan data dan fakta yang menyanggah kebenaran tadi.

funny-couple-arm-wrestling-bias konfirmasi

Dalam kehidupan personal misalnya, satu ketika Anda sudah merasa tidak cocok lagi, bosan, ataupun hilang rasa dengan pasangan Anda.

Kemungkinan besar, Anda akan cenderung untuk mencari-cari kesalahan pasangan Anda dan mengagumi kebaikan-kebaikan pasangan orang lain.

Kebaikan apapun yang sudah ataupun akan dilakukan oleh pasangan Anda, kemungkinan besar akan Anda acuhkan dan lupakan. Anda akan mengatakan, “dia sudah tidak seperti yang dulu…”

Padahal jika Anda mau menyadari bias konfirmasi daya kognitif Anda, bisa jadi, Anda lah yang berubah, bukan pasangan Anda. Atau malah, kemungkinan besar, Anda berdua memang sama-sama berubah karena manusia memang akan selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Solusinya?

psychology - peter o gray - bias confirmationMenyadari bias konfirmasi yang ada di dalam pikiran kita adalah langkah pertama untuk mengambil keputusan dengan lebih bijak dan rasional.

Kedua, Peter O. Gray menyarankan dalam bukunya, Psychology (2011), bahwa “A good diagnostician will test his or her initial hypothesis by searching for evidence against that hypothesis.

Jadi, sebelum kita mengambil keputusan dan tidak ingin terpengaruh oleh bias kita sendiri, yang perlu dilakukan adalah kebalikan dari yang sebelumnya kita lakukan. Kita, secara aktif, mencari bukti, fakta, data, dan informasi baru yang justru menyanggah hipotesa / kepercayaan awal kita.

Misalnya, jika Anda salah satu yang suka dengan Ahok, Anda justru mencari-cari kesalahan dan kelemahan apakah yang dimiliki oleh gubernur Jakarta yang sekarang ini.

Atau, misalnya untuk kasus kebosanan, hilang rasa, dan ketidakcocokan Anda dengan pasangan Anda tadi, Anda justru harus mencari kebaikan dan kelebihan pasangan Anda tadi sebelum mengambil keputusan selanjutnya.

Selamat menyelami alam kognitif Anda…!

Jakarta, 12 April 2016

Yabes Elia

 

Referensi dan bacaan lebih lanjut:

Confirmation Bias: A Ubiquitous Phenomenon in Many Guises – By Raymond S. Nickerson (PDF)

What is Confirmation Bias – by Kendra Cherry

Confirmation Bias – Skeptic’s Dictionary

Confirmation Bias – by David McRaney

 

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.