Salahkan Saja si Iblis – Sebuah Opini

Memang banyak hal buruk yang terjadi di sekitar kita. Namun yang membuat saya geli adalah sebagian orang menyalahkan iblis, setan, jin dan semacamnya sebagai penyebab dari hal-hal buruk tersebut. Bagaimana dengan kebodohan manusia? Apakah serta merta segala tanggung jawab kejahatan tersebut bisa dilemparkan ke si iblis?

Pejabat korupsi karena tidak dapat menahan godaan setan. Supir angkot memperkosa gadis-gadis belia karena pengaruh setan. Tawuran antar pelajar pun dianggap  terjadi karena para murid terpengaruh karena kurang bertakwa sehingga terpengaruh bisikan setan.

Well, mungkin memang lebih memang lebih mudah untuk melemparkan tanggung jawab ke mahluk tak kasat mata, ketimbang bertanggung jawab atas keputusannya sendiri. Di sisi lain, saya lebih percaya bahwa banyak hal buruk terjadi karena ada banyak kebodohan di sana.

Pertama, mari kita bicara soal korupsi. Menurut saya, para pejabat itu korupsi karena mereka tidak cukup pintar untuk mencari jalan lain mendapatkan kekayaan lebih. Mereka terlalu bodoh untuk berpikir mencari solusi yang lebih elegan untuk menyelesaikan persoalan ekonomi atau memuaskan keserakahan mereka.

Bill-Gates-kebodohan-zilbest

Coba bayangkan orang-orang jenius, Bill Gates misalnya. Saya tidak membayangkan bahwa dia akan mencuri uang perusahaannya, Microsoft. Tokoh lainnya, Stephen Hawking mungkin juga tidak akan mencuri uang perusahaan. Buat apa juga kedua orang tersebut mencuri, mereka tahu betul otak mereka cukup berharga dan dapat menghasilkan banyak keuntungan. Hanya mereka yang sangat terbatas yang hanya tahu jalan pintas semacam korupsi untuk menambah penghasilan bulanan mereka.

Bagaimana dengan pemerkosaan? Bagi saya, itu juga sama penyebabnya yaitu kebodohan. Para pemerkosa tersebut terlalu dungu untuk bisa memikirkan bagaimana cara merayu wanita agar mau tidur dengan mereka secara sukarela. Bisa juga, mereka tidak punya kemampuan berpikir yang dapat diandalkan sehingga tidak ada wanita yang mau jadi istri mereka. Penyebab lainnya adalah mereka juga mungkin terlalu bodoh untuk bisa mendapatkan penghasilan lebih yang bisa digunakan untuk menyewa wanita-wanita penjaja syahwat.

rape-kebodohan-zilbest

Jika mereka cukup pintar, para pemerkosa itu pun juga seharusnya sadar bahwa resikonya tidak sebanding dengan kesenangan yang mungkin mereka dapatkan.  Durasi orgasme laki-laki itu paling lama berapa menit? Bandingkan dengan hukuman penjara yang sampai dengan tahunan durasinya.

Jika seorang laki-laki bisa orgasme selama 6 bulan lebih tanpa henti, mungkin resikonya akan sedikit lebih sebanding dengan kenikmatan syahwat yang bisa didapatkan. Itupun sebenarnya masih sangat merugi untuk hitung-hitungan ‘risk and gain’.

Orang yang sadar betul dengan logika, tidak akan mau mengorbankan waktu 10-15 tahun penjara untuk ditukar dengan 10-15 menit kepuasan syahwat – toh juga sebenarnya waktu 10-15 tahun juga sudah lebih dari cukup untuk bisa digunakan berusaha demi mencapai kepuasan birahi tanpa resiko sama sekali.

riot-kebodohan-zilbest

Terakhir adalah tawuran. Saya sangat percaya dengan satu hal: orang yang masih bisa mengandalkan otaknya, tidak akan menggunakan otot sebagai solusi permasalahannya. Bagi saya, emosi marah sama dengan luapan tangis seseorang. Orang-orang yang mudah marah adalah orang-orang cengeng yang senang dikasihani.

Manusia, paling tidak saya sendiri, cenderung untuk menyerah pada emosi ketika merasa mentok saat menghadapi masalah. Umpamanya saja seperti ini, ketika kita merasa tahu benar jawaban dari sebuah soal ujian, kita tidak akan menggerutu atau menangis karena soal tersebut. Kita pasti akan langsung menjawabnya sesuai dengan logika berpikir kita masing-masing.

mr bean-kebodohan-zilbest

Akhirnya, mengkambinghitamkan iblis, setan, jin dan semacamnya itu tadi juga sebenarnya salah satu akibat kebodohan yang tidak mau melihat satu persoalan lebih jauh sehingga mencari sebuah jawaban yang lebih singkat, lebih universal, dan lebih tidak dapat disanggah oleh kebanyakan orang. Kalaupun misalnya setan dan keluarganya itu memang eksis, apa yang bisa mereka lakukan jika sang manusianya tetap berpegang teguh pada logika berpikir?

Yah, akhirnya, artikel ini hanyalah opini semata dan saya tidak pernah mau memaksakan pendapat – bisa saja tulisan ini juga salah satu akibat dari kebodohan saya sendiri. Namun paling tidak, coba tanyakan lagi apakah memang tidak ada penyebab lain selain iblis, setan, kuntilanak, jin dan kawan-kawannya atas berbagai hal buruk yang terjadi di sekitar kita? Apalagi jika kita berbicara antara kebodohan dan setan, saya kira kita semua tahu manakah yang lebih nyata.

Funny-devil-kebodohan-zilbest

Jakarta, 12 Februari 2013
Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.