Kenapa Kebanyakan Manusia Suka Drama

Kenapa Kebanyakan Manusia Suka Drama?

“Jeng, tahu ga sih tetangga sebelah itu ketauan selingkuh lho…” Dulu, obrolan semacam itu biasanya lebih kerap saya dengar di sekitaran gerobak dan abang-abang tukang sayur atau di acara arisan ibu-ibu.

Sekarang, drama dan gosip seputar urusan personal sudah mewabah di jejaring sosial bahkan yang mengaku golongan intelektual sekalipun. Obrolan tentang kebejatan moralitas bahkan biasanya jadi yang lebih laris engagement-nya, ketimbang diskusi soal paradigma, idealisme, ataupun konsep-konsep besar lainnya. Lebih anehnya lagi, mungkin saya saja yang terlalu konservatif soal ini, media pun jadi ikutan membahas seputar drama personal orang-orang tertentu.

Di sini, saya lebih tertarik untuk mencari tahu kenapa kebanyakan manusia suka drama. Dari penelusuran saya dan opini pribadi juga, ada beberapa hal yang saya kira masuk akal menjadi penyebab kenapa kebanyakan dari kita suka drama.

Standar moral yang hiperbolis

Image Credit: Washington Examiner

Norma sosial dan budaya kita punya standar moralitas yang hiperbolis, jika tak ingin disebut utopis. Siapakah satu pribadi yang bisa menjalankan 10 Dasa Dharma Pramuka sepanjang umur hidupnya? Itu baru satu standar moral. Belum lagi jika kita berbicara soal tuntutan berperilaku dari segi budaya ataupun agama.

Mungkin, ini mungkin ya, semua juga tahu standar tadi hanyalah sebatas angan-angan… Bisa jadi, kita semua sebenarnya tahu, meski tak disadari, bahwa kita tak akan mampu meraih nilai moral yang sempurna. Karena itu, kita jadi punya kecenderungan untuk mencari kawan atau malah orang-orang yang lebih bejat dari kita — sebagai mekanisme defensif mental kita. Buat yang pernah atau sering dapat nilai jelek di sekolah atau bangku kuliah, saya yakin Anda tidak jarang mencari kawan yang senasib atau malah lebih buruk.

Percaya atau tidak, perasaan tadi ada istilahnya sendiri yaitu schadenfreude — saya juga tidak tahu istilah bahasa Indonesianya apaan. Awkawkkawkwa.

Kebutuhan manusia jadi bagian dalam komunitas

Image Credit: Eventbrite

Setiap kita punya keinginan untuk memiliki keterkaitan dengan orang-orang di sekitar kita. Kita punya kebutuhan untuk jadi bagian dalam sebuah komunitas.

Nah, biasanya, keterkaitan itu terjalin ketika kita bisa berbicara soal topik yang sama. Drama masalah personal adalah salah satu topik yang paling mudah dipahami semua golongan. Makanya, topik lagu ataupun sinetron biasanya berkutat pada bahasan masalah personal atau topik lainnya yang lebih universal agar bisa menjangkau massa yang sebanyak-banyaknya.

Bandingkan saja tadi masalah percintaan antar individu dengan konsep nihilisme. Semua orang bisa baca status di media sosial tentang masalah-masalah personal namun tidak semua bisa membaca tulisan Derrida. Entahlah, mungkin saja saya yang terlalu bodoh namun, saya biasanya harus membaca satu halaman sampai berkali-kali saat membuka buku tulisan Romo Magnis, Sindhunata, Derrida, Habermas, Plato, Harari, Rushkoff, dkk.

Jujur, saya pribadi juga menggunakan metode yang sama sebenarnya… Namun, saya biasanya menggunakan topik b*kep woakwoakwoakwaokw… Karena saya tahu, saya akan dianggap aneh jika selalu membahas eksistensialisme, behaviour economics, ataupun Fibonacci sequence.

Keinginan jadi pusat perhatian

Siapakah yang tidak suka jadi pusat perhatian? Dianggap pintar ataupun penting oleh orang-orang di sekitarnya?

Menurut saya, semua orang juga sebenarnya setuju bahwa rekam jejak karya atau profesionalitas kita bisa jadi tolak ukur kepintaran ataupun pengaruh kita di lingkungan sekitar. Pengakuan rekan atau malah mantan satu tim/perusahaan juga bisa jadi tolak ukur bagaimana pengaruh kita ke orang-orang di sekitar.

Namun demikian, faktanya, hal itu tidak mudah. Butuh perjalanan karier panjang dan investasi waktu yang tidak sebentar untuk bisa sampai ke titik itu. Butuh kesabaran dan kedewasaan juga untuk bisa benar-benar memanusiakan manusia.

Drama, gosip, ataupun menggunjingkan masalah personal orang bisa jadi salah satu jalan pintas untuk mencari perhatian — yang jelas lebih mudah dan cepat ketimbang dua cara yang sebelumnya saya sebutkan.

Melemparkan teori-teori atau nama-nama ahli juga demikian… Makanya saya tadi menyebutkan nama-nama besar macam Derrida meski saya tidak benar-benar paham teori dekonstruksinya — biar kelihatan lebih pintar saja padahal saya aslinya sih masih culun banget oakwoakwoakwoak…

Singkatnya, jelas tidak mudah mendapatkan pengakuan dari orang banyak tentang pengaruh kita ke lingkungan apalagi satu industri yang spesifik. Makanya, sejumlah jalan pintas seperti tadi bisa jadi alternatif bagi mereka-mereka yang kapasitasnya terbatas.

Otak kita kecanduan cerita

Image Credit: Enterpreneur.com

Kita, manusia, suka sekali mendengarkan cerita — bahkan ada yang bilang cerita jadi candu tersendiri bagi otak kita.  Baik itu ketika menonton pertunjukan, membaca buku fiksi, menonton film, ataupun saat mendengarkan orang berjualan — baik itu barang ataupun konsep, sebagian besar (jika tidak mau dibilang semua) dapat menikmati plot cerita dari sebuah karakter (character-driven stories).

Meski begitu, memang tidak semua cerita bisa menarik perhatian banyak orang. Cerita bagaimana bumi ini terbentuk ataupun cerita evolusi mungkin tidak relevan bagi kebanyakan orang. Namun cerita soal orang tua, pasangan, ataupun hal-hal personal lainnya, seperti yang saya bilang tadi, memang lebih mudah dipahami dan dikaitkan dengan diri masing-masing. Ada satu kutipan yang sering saya lihat di dunia maya yang mengatakan, Great minds discuss ideas; average minds discuss events; small minds discuss people.” Itulah sebabnya cerita tentang orang-orang dan masalah pribadinya masing-masing (alias drama) jadi lebih mudah menarik perhatian orang awam.

Akhirnya…

Sebenarnya ada beberapa hal lagi yang saya temukan yang jadi alasan kenapa kebanyakan manusia suka drama — seperti memancing hormon (dopamin), mengalihkan perhatian kita dari masalah yang ada di depan kita, dkk. Namun saya terlalu malas untuk menuliskan semuanya di sini… Akwakwkawkaw… Silakan cari sendiri ya.

Oh iya, terakhir, saya tidak bermaksud menghakimi siapapun di sini… Saya jujur lebih tertarik mencari tahu berbagai motivasi manusia dalam melakukan banyak hal. Saya sendiri juga suka kok nonton drama apalagi yang hasil produksi IdeaPocket ataupun PureTab**… Eh… Okawoawkokwaokawk

 

Jakarta, 8 Desember 2019

Yabes Elia

Feature Image Credit: Daria Nepriakhina on Unsplash

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.