Why So Much Hate: Kenapa Kita Mudah Disulut Dengan Kebencian?

Faktanya, sayangnya, hal-hal yang berbau kebencian memang lebih ‘menjual’. Kebencian memang nampaknya sekarang jadi komoditas baru di industri media sosial dan media online sekarang ini.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat menuliskan beberapa manfaat yang mungkin bisa Anda dapatkan ketika Anda mau belajar bersabar. Namun, saya melupakan satu pertanyaan penting yang ingin saya bahas kali ini, “Mengapa kita, manusia, lebih mudah disulut dengan kebencian?

Dari sejumlah artikel, jurnal psikologi, ataupun hasil pemikiran saya, ada 3 jawaban yang saya temukan. Mari kita lihat lebih dekat 3 jawaban yang saya temukan tadi.

1. Paradigma Kawan atau Lawan

pic-1

Faktanya, manusia cenderung untuk mengkotak-kotakkan dirinya dengan golongan tertentu. Secara sadar atau tidak, kita mengidentifikasi diri kita dan orang-orang lainnya jadi bagian dari kotak-kotak sosial dan budaya. Ras dan agama, misalnya, adalah dua buah kotak yang paling mudah diidentifikasi.

Hal ini memang tidak dapat dihindari karena manusia memang punya kebutuhan psikologis untuk merasa menjadi bagian dari satu komunitas. Namun, sayangnya, sepanjang sejarah manusia, kita sudah terbiasa untuk melihat kotak-kotak komunitas tadi sebagai kawan atau lawan.

Kita melihat orang-orang lain yang memiliki kesamaan sebagai kawan dan mereka yang berbeda sebagai lawan – seakan tidak ada alternatif lain antara 2 pilihan tadi.

us-vs-them

Karena ego kita, kita juga melihat mereka-mereka yang satu kelompok dengan kita lebih benar dan lebih baik. Sebaliknya, orang-orang yang berbeda kelompok dengan kita, cenderung, dipandang lebih buruk ataupun salah.

Bias konfirmasi juga berpengaruh besar sekali di sini karena kita jadi cenderung untuk memilah-milah fakta yang ingin kita amini sebagai sebuah kebenaran.

Ditambah lagi, loyalitas dan kesetiaan menjadi nilai yang selalu dijunjung tinggi sejak jaman dahulu kala, ratusan atau bahkan ribuan tahun silam. Karena itu, kita merasa puas atau merasa telah melakukan pilihan yang benar ketika kita menunjukkan kesetiaan dan loyalitas dengan membela kelompok kita masing-masing.

Anda bisa membaca artikel ini dari psychologytoday.com untuk elaborasi yang lebih detil mengapa aspek pertama ini berpengaruh terhadap kecenderungan kita terhadap kebencian.

2. Kebencian itu Manifestasi dari Ketakutan

jealousy

Jika Anda sudah memiliki pasangan atau pernah berpasangan, Anda pasti pernah merasakan yang namanya cemburu. Kecemburuan ini merupakan salah satu contoh kebencian yang merupakan manifestasi dari ketakutan.

Anda takut pasangan Anda akan direbut oleh orang ketiga karena itu Anda jadi benci dengan mereka-mereka yang dekat dengan pasangan Anda.

In time we hate that which we often fear.
― William Shakespeare, Antony and Cleopatra

Contoh lainnya, hal ini juga terjadi di US atau negara-negara barat sana. Kebanyakan dari mereka yang benci dengan imigran sebenarnya berawal dari ketakutan. Orang-orang sana takut dengan lapangan pekerjaan yang semakin sempit karena semakin banyak diisi oleh para imigran.

Mereka juga takut ketika jumlah imigran yang semakin banyak, kelompok atau komunitas mereka akan tersingkir dari banyak aspek, politik, ekonomi, sosial, budaya, dkk.

anti-immigrant2

Sedangkan yang namanya ketakutan, ketakutan bisa jadi motivasi psikologis terbesar yang dimiliki manusia. Ketakutan ini kemudian bisa dijual jadi banyak sekali komoditas mulai dari religi, politik, sampai konsep advertising.

Untuk soal ketakutan ini, saya kira penyebab utamanya adalah ketidakpercayaan diri, kurang beriman, atau apapun istilah lain yang ingin Anda gunakan.

Misalnya, banyak orang ketakutan soal masalah pekerjaan. Mereka-mereka yang berada di middle atau high management takut digantikan oleh anak buahnya dan mereka-mereka yang berada di jajaran staff takut dipecat.

BACA JUGA: MENITI KARIR, MENGASAH DIRI

Jika Anda tahu betul seberapa jauh kemampuan Anda, pekerjaan Anda, dan nilai Anda terhadap perusahaan tempat Anda bekerja, saya kira Anda tak perlu khawatir.

Demikian juga soal masalah cemburu. Saya dulu juga sempat jadi pencemburu. Saya akhirnya menyadari bahwa saya cemburu karena saya tidak tahu betul siapa saya dan apa yang pasangan saya inginkan.

Namun demikian, karena manusia dan jaman itu selalu berubah, kita dituntut untuk terus belajar agar kita bisa terus memahami dan mengerti siapa kita dan tuntutan keadaan.

3. Kecenderungan untuk Mencari Kambing Hitam

blame-everyone-else

Maaf namun ini faktanya, diakui atau tidak, disadari atau tidak, setiap kita – termasuk saya – memiliki kecenderungan untuk mencari kambing hitam atas hal buruk yang menimpa kita.

Padahal, kenyataannya, jika Anda belum tahu, hidup itu memang tidak mudah. Hidup itu pahit, hidup itu tidak adil, dan hidup itu penuh tantangan.

Siapapun yang jadi presiden, siapapun yang jadi gubernur DKI, siapapun orang-orang yang ada di sekitar Anda, fakta ini tidak akan berubah: hidup itu tidak akan pernah semudah membalikkan telapak tangan.

quote-it-s-always-easy-to-blame-others-you-can-spend-your-entire-life-blaming-the-world-but-your-paulo-coelho-220363

Tak jarang juga, kita lebih mudah untuk menyalahkan pemerintah, guru, sekolah, film, sinetron, game, orang tua, anak-anak ‘jaman sekarang’, dan jutaan hal lainnya atas hal-hal yang terjadi di luar keinginan atau idealisme kita.

Saya tidak menyalahkan hal itu karena saya pribadi juga masih sering melakukannya, sebelum akhirnya saya kemudian sadar dan bertanya pada diri saya sendiri: “Hal apakah yang sudah saya lakukan untuk merubah keadaan, selain menyalahkan pihak lain?”

Sayangnya, kenyataannya memang menyalahkan orang lain itu jauh lebih mudah ketimbang intropeksi diri – karena ego kita akan selalu mengatakan kitalah yang paling benar, sedangkan orang atau kelompok lainlah yang salah.

Akhirnya…

hategroup_050615

Saya kira 3 jawaban tadi adalah kecenderungan setiap manusia, termasuk Anda dan saya. Bedanya, kecenderungan tadi ada yang disadari dan ada juga yang didefinisikan berbeda-beda, tergantung tiap-tiap individunya.

Saya pribadi, misalnya, jujur saja saya tetap menarik garis identifikasi diri saya dengan golongan tertentu, namun bukan yang berbasiskan identitas primordial seperti ras, agama, kekayaan materi, halauan politik, tetapi pada kemauan belajar tiap-tiap orang.

Lalu bagaimana dengan Anda? Apakah Anda setuju dengan saya? Hal-hal apa sajakah yang menyulut kebencian Anda?

Hatred is like a long, dark shadow. Not even the person it falls upon knows where it comes from, in most cases. It is like a two-edged sword. When you cut the other person, you cut yourself. The more violently you hack at the other person, the more violently you hack at yourself. It can often be fatal. But it is not easy to dispose of. Please be careful, Mr.Okada. It is very dangerous. Once it has taken root in your heart, hatred is the most difficult think in the world to shake off.
― Haruki Murakami, The Wind-Up Bird Chronicle

Jika Anda berminat, cobalah untuk menyelami pikiran Anda sendiri. Saya percaya hal ini adalah proses katarsis yang mungkin akan membantu mengurangi banyak kebencian yang memenuhi kepala kita. Pasalnya, saya selalu percaya bahwa hidup itu terlalu singkat untuk dipenuhi dengan banyak kebencian…

Jakarta, 4 November 2016

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.