Why We Love Superheroes?

Beberapa tahun belakangan, kita memang kebanjiran film superhero namun sebenarnya kita sudah menyukai konsep seorang pahlawan super bahkan sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu, misalnya seperti legenda Hercules, Zeus, dkk, ataupun cerita Beowulf.

BEOWULF

Namun pertanyaannya adalah kenapa kita menyukai cerita superhero? Dan, yang tak kalah penting, apakah yang bisa kita pelajari dari cerita, komik, ataupun film tentang superhero tadi?

1. Kita suka berandai-andai

Setiap orang pasti suka berandai-andai. Saya masih ingat dengan satu lagu yang populer di tahun 2000an awal (tepatnya 2003) dari Project Pop berjudul Pacarku Superstar atau malah yang lebih lawas lagi, lagunya Oppie Andaresta, Cuma Khayalan. Setiap kita pasti pernah berkhayal…

Saya yakin kita semua tertarik dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengandung kata ‘andai’, “andai saya punya uang Rp 1T, andai saya jadi presiden, andai saya jadi pacarnya si xxx, andai saya punya kekuatan super, saya akan melakukan…?”

Seperti karya fiksi lainnya, cerita-cerita superhero itu mengijinkan kita membebaskan imajinasi kita menjadi orang lain, menjadi seseorang yang ‘lebih’ dari siapa kita saat ini. Jarang sekali, kita membayangkan untuk menjadi seseorang yang ‘kurang’ dari kondisi kita saat ini.

batman

Misalnya saja, saya yakin kita semua lebih sering berandai-andai bagaimana jika kita lebih kaya dari kondisi kita sekarang, ketimbang berandai-andai bagaimana jika kondisi kita lebih miskin dari sekarang.

Tidak ada yang lebih mewah ketimbang berandai-andai jadi tokoh-tokoh yang bisa terbang seperti Superman, punya kekuatan regenerasi super layaknya Wolverine, memiliki kekayaan tak terbatas untuk membeli peralatan-peralatan canggih untuk menumpas kejahatan layaknya Batman ataupun Iron Man, ataupun kekuatan-kekuatan super lainnya yang menolak hukum alam, seperti gravitasi dan hukum-hukum fisika lainnya.

wolverine

2. Kita ingin kendali lebih atas hidup

Oke, kita semua memang suka berandai-andai namun adakah aspek yang membuat cerita superhero berbeda dari cerita fiksi lainnya?

Well, sekaya atau sehebat apapun Anda, faktanya, kita tidak akan pernah dapat memiliki kendali penuh atas hidup kita. Selalu saja ada hal yang tidak akan pernah dapat kita raih, misalnya adalah keabadian atau seperti yang saya bilang tadi, hukum alam – fisika, biologi, kimia, dkk.

Cerita-cerita superhero mengijinkan kita berkhayal untuk memiliki kendali lebih atas hidup. Kita yang tinggal di Jakarta, misalnya, mungkin pernah berandai-andai bagaimana rasanya bisa terbang, hanya karena sudah begitu jenuh dengan yang namanya kemacetan lalu lintas.

Plus, yang tak kalah penting, saya yakin ada banyak di antara kita yang tidak mengenali diri dengan utuh dan menyadari kehebatan apakah yang kita miliki dibanding orang-orang di sekitar kita. Cerita superhero mengijinkan kita membayangkan kekuatan / kelebihan khusus yang unik, yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang lainnya.

superhero-1

3. Kita ingin jadi pusat perhatian

Faktanya, kita semua memang punya ego. Seringkali kita merasa bahwa kita adalah sang protagonis alias sang jagoan di hidup ini.

Jika Anda ingat dengan film-film superhero dimana pertarungan mereka menghancurkan banyak properti, gedung, rumah, dan bahkan korban jiwa – hal-hal tersebut seakan tidak berarti karena bukanlah sang jagoan yang mengalami nasib malang.

superhero-3

Namun ketika sang jagoan yang bernasib malang, semua orang seakan bersedih karenanya. Setiap cerita superhero selalu menonjolkan satu atau beberapa karakter di atas yang lainnya.

Berbeda seperti serial TV yang laris manis di tahun ’90an berjudul Friends, dimana setiap karakternya egaliter, alias kita tidak terlalu jelas mana yang diunggulkan dari 5 karakter utama.

friends

Bahkan di film-film superhero yang mengangkat sejumlah superhero, ada tokoh-tokoh yang lebih menonjol dibanding yang lainnya. Misalnya saja The Avengers, saya kira tidak banyak yang mengidolakan Hawk Eye di film ini karena memang tidak digambarkan menonjol dibanding Iron Man ataupun Captain America.

Demikian juga Quick Silver di versi MCU yang mati kena peluru meski seharusnya bisa bergerak lebih cepat dari kecepatan suara. Berbeda dengan Quick Silver versi Fox, di X-Men, yang menjadi tokoh kunci di sana.

quicksilver

Saya tidak akan mengatakan bahwa ego itu buruk. Karena faktanya, tanpa ego, manusia sudah punah dari beribu-ribu tahun yang lalu. Ego lah yang membuat kita bertahan sampai hari ini.

4. Kita membutuhkan figur idola

Siapapun kita, kita pasti memiliki idola, bisa jadi itu tokoh religi, edukasi, bisnis, artis, ataupun tokoh fiksi.

Tidak ada yang lebih fantastis dari tokoh-tokoh superhero – kecuali tokoh religi mungkin, yang biasanya bersifat transenden – yang memiliki kekuatan super dan karakteristik menarik.

watchmen

Menariknya, konsep idola untuk masyarakat umum bisa jadi berubah dari waktu ke waktu. Misalnya saja, Superman. Superman merupakan salah satu superhero yang pertama kali diangkat jadi film dari komik. Film pertamanya adalah Superman and the Mole Man (1951).

Namun seiring jaman, kita semakin jenuh dengan karakteristik superhero dengan moral tanpa cela, yang baik hati, tidak sombong, gemar menabung, dan karakteristik-karakteristik lain yang mungkin hanya ada di Dasa Dharma Pramuka.

deadpool

Sekarang, kita lebih suka dengan karakteristik anti-hero, seperti Deadpool ataupun Iron Man, yang tidak sepenuhnya patriot yang sopan dan kesatria seperti Superman dan Captain America. Padahal sebelum jamannya RDJ, tidak banyak orang yang mengenal nama Tony Stark.

What We Can Learn…?

Saya yakin tiap-tiap Anda memiliki alasan dan tujuan yang mungkin berbeda dari 4 hal yang saya sebutkan tadi. Namun, setidaknya, bagi saya, keempat hal tadilah yang saya pelajari dan juga alasan pribadi saya menyukai cerita superhero.

all-superhero-wallpaper

Pun demikian, bagi saya, inilah yang paling penting: sebenarnya apakah yang bisa kita pelajari dari film-film superhero dan kenapa kita menyukainya?

Saya yakin tiap-tiap orang dapat menarik pelajaran sendiri-sendiri dari superhero favorit mereka. Namun dari 4 alasan yang saya utarakan tadi, apakah gunanya menyadari alasan kita menyukai mereka?

avengers-vs-x-men-babies

Pertama, kita tahu bahwa kita semua suka berandai-andai, namun penting juga untuk disadari seperti apakah detil dari khayalan kita dan bagaimana caranya membawa khayalan tersebut menjadi kenyataan. Karena faktanya, semua inovasi di sejarah manusia berawal dari khayalan ataupun pengandaian.

Imagination-Quotes

Kedua, setiap orang menginginkan kendali penuh atas hidupnya masing-masing. Meski hal itu memang mustahil namun paling tidak, dengan menyadari hal-hal apa saja yang saat ini seringkali di luar kendali kita (misalnya jika kita kadang seringkali kehilangan motivasi, entah mengapa, ataupun kebiasaan buruk lain yang tidak bisa kita tinggalkan), kita bisa mengurangi hal-hal tersebut dan membawa lebih banyak hal dalam hidup kita untuk bisa kita sadari dan kendalikan.

hulk

Ketiga, tidak ada salahnya kita ingin menjadi pusat perhatian. Toh, faktanya, tiap-tiap manusia itu unik dan memiliki kelebihan masing-masing yang tidak dimiliki orang-orang lainnya.

Menyadari apa kelebihan dan kekurangan kita merupakan salah satu cara untuk menonjolkan diri, sekaligus membangun diri untuk jadi lebih baik.

roger ebert quote

Keempat, masalah idola, saya sebenarnya banyak belajar tokoh-tokoh superhero dari game, bukan komik. Namun, ketika saya menemukan tokoh-tokoh baru yang saya sukai, saya mencari banyak informasi tentang mereka.

Dari tokoh-tokoh superhero tadi, saya mencari lebih jauh informasi yang menyangkut aspek yang lebih luas seperti kasus Marvel dan Fox misalnya. Dari sana, saya belajar sejarah Marvel dan kenapa X-Men dan Fantastic Four bisa berada di tangan Fox.

marvel vs fox

Saya adalah orang yang percaya betul bahwa belajar apapun tidak akan pernah berakhir sia-sia, asal kita mau sungguh-sungguh menyadarinya.

Dari cerita superhero, saya juga yakin ada banyak hal yang sebenarnya bisa kita pelajari sembari menikmati aksi jagoan dan memuaskan keingintahuan lebih jauh tentang mereka.

“We all have the capacity to be a superhero. In order to become one, you just have to find your unique power or ability and exploit it for the greater good. The cape and mask are optional accessories, but a kind heart is essential.”
– Robert Clancy

Terakhir, satu hal yang ingin saya sampaikan. Setiap kita mungkin memang ingin berandai-andai jadi superhero, sang jagoan yang menyelamatkan dunia namun sebenarnya kita sudah jadi jagoan bagi orang-orang terdekat kita, orang tua, anak, kakak, adik, sahabat, yang meski tidak Anda sadari, Anda telah menyelamatkan dunia mereka dari kesepian dan kesedihan.

Jakarta, 25 Juli 2016

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.