Antara Manusia & Mesin: Ketika Manusia Tidak Lagi Mendominasi Bumi ini

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah artikel wawancara Vox dgn Yuval Noah Harari tentang buku barunya yang berjudul Homo Deus: a Brief History of Tomorrow, yang memprediksi bahwa manusia tidak akan menjadi spesies yang mendominasi bumi ini di 300 tahun yang akan datang.

Saya tahu bahwa hal ini kedengarannya sama seperti cerita sci-fi dimana dunia dikuasai robot dan AI.

Namun, entahlah, jika kita melihat kondisi dan situasi dunia sekarang ini, saya percaya hal itu mungkin saja terjadi.

Saya memang belum sempat membaca bukunya (berhubung saya memang lagi benar-benar bokek untuk beli buku baru akwawkowakowak) namun dari wawancara tersebut, saya menyimpulkan bahwa robot dan AI akan mendominasi bukan karena mereka akan memiliki perasaan / emosi seperti layaknya manusia namun karena kekalahan manusia dibanding AI dalam 2 aspek penting yg dibutuhkan dalam mendominasi bumi ini.

Intelegensi

Intelegensi itu apa? Intelegensi adalah kemampuan menyelesaikan masalah. Di sini, manusia sudah ketinggalan jauh dibanding mesin dan AI untuk begitu banyak masalah.

Bahkan sejak ditemukannya kalkulator, manusia sudah kalah cepat dalam menghitung kalkulasi sederhana (tambah, kurang, kali, bagi). Apalagi sekarang ini, kemampuan komputasi mesin dan AI sudah berkembang begitu pesat.

Mesin dapat dengan mudah menghitung kalkulasi suhu, kelembaban, curah hujan, dan hal-hal lainnya yang dibutuhkan untuk prakiraan cuaca.

Tahukah Anda bahwa sosial media juga menggunakan AI untuk menentukan konten apa sajakah yang muncul di laman utama yang Anda lihat?

Facebook, Google, Twitter dan hampir semua situs ataupun aplikasi ponsel pintar yang Anda kunjungi dan gunakan di jaman sekarang ini sudah menggunakan AI.

Game juga sudah pasti menggunakan AI untuk begitu banyak hal.

Jangan bayangkan AI itu hanya seperti J.A.R.V.I.S di Iron Man. Definisi AI adalah intelegensi yang dimiliki oleh mesin dan hal ini bisa ditemukan di banyak perangkat digital yang Anda gunakan sehari-hari.

Dulu, salah satu alasan manusia bisa mendominasi hewan dan tumbuhan adalah karena memiliki tingkat intelegensi yang setidaknya satu tingkat lebih tinggi dibanding 2 spesies tadi.

Kita bisa mengurung hewan buas yang ingin memangsa kita, membuat senjata, ataupun membuat tempat berlindung dari serangan hewan tadi.

Sekarang ini, dari aspek intelegensi, manusia sudah mulai tidak lagi terlalu dibutuhkan selain mengajarkan rumus-rumus baru untuk AI dalam menyelesaikan masalah-masalah baru.

Untungnya (atau bisa juga sayangnya), masih banyak sekali rumus, formula, program-program yang belum bisa diajarkan ke AI untuk menyelesaikan sekian banyak masalah.

Namun demikian, seiring dengan perkembangan teknologi komputasi yang begitu cepat dan kecenderungan banyak orang untuk menyelesaikan setiap masalah secara instan, perkembangan AI ke tingkat yang lebih tinggi lagi tidak akan dapat dihindari.

Komunikasi dan Koordinasi

Ingatkah Anda bahwa titik tolak perkembangan peradaban manusia begitu cepat dimulai sejak ditemukannya bahasa?

Bahasa memungkinkan manusia berkomunikasi dan berkoordinasi antara satu dengan yang lainnya. Komunikasi dan koordinasi ini jugalah alasan kedua kenapa manusialah yang bisa mendominasi planet ini sekarang.

Kita bisa mendominasi harimau, beruang, ataupun hewan-hewan imut (bonekanya) lainnya karena kita bisa bekerja sama satu sama lain.

Sejarah juga mencatat semua perkembangan peradaban manusia, termasuk penemuan ilmiah ataupun perkembangan sosial budaya, terjadi karena kita berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya, antara satu generasi dengan generasi lainnya.

Kita bisa pakai PC sekarang bukan hanya karena ada satu orang saja namun karena ada sekian banyak orang hebat yang berkolaborasi untuk kemajuan teknologi seperti Alan Turing, Bill Gates, Ada Lovelace, Charles Babbage, Gordon Moore, Bjarne Stroustrup, dan kawan-kawannya.

Itu kita masih berbicara soal tokoh-tokoh paling berpengaruh di sejarah perkembangan komputer.

Padahal komputer bisa dibuat karena ada listrik yang berarti juga terjadi berkat sejumlah orang-orang hebat (bukan hanya karena satu orang) seperti Thomas Edison, Nikola Tesla, Alessandro Volta, Michael Faraday, dan yang lainnya.

Semua perkembangan dunia terjadi karena kita bisa bekerja sama dan berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya.

Lalu bagaimana dengan mesin? Well, faktanya, di bagian ini kita kalah telak. Mesin dapat bekerja sama antara satu sama lain jauh lebih baik ketimbang kita.

Lagi-lagi, berhubung saya memang suka dengan teknologi komputer, PC kita bisa begitu mudah bekerja sama antara satu komponen dengan komponen lainnya untuk menyelesaikan begitu banyak masalah (kalkulasi), antara CPU, RAM, GPU, motherboard, PSU, dan yang lainnya.

Jika diurai lebih jauh, komponen PC Anda juga sebenarnya hasil kerjasama antara ribuan atau bahkan jutaan komponen lain (kapasitor, PCB, resistor, dll.) dengan piranti lunak (yang juga hasil kerjasama antara kode-kode programming) yang Anda gunakan.

Terlalu panjang rasanya untuk menjelaskan keseluruhan sistem PC di satu artikel, namun yang pasti, menurut saya, mesin tersebut bisa bekerja sama lebih baik ketimbang ‘mesin’ sosial, budaya, atau politik yang terdiri atas kumpulan manusia.

Itu tadi masih satu PC, sistem kerjasama ini akan jauh lebih kompleks lagi jika kita ikut menghitung kerjasama antar perangkat yang terhubung pada satu jaringan, internet misalnya.

Semua perangkat yang terhubung dengan internet dapat bekerja sama dan tersingkronisasi dengan begitu sempurna. Sedangkan manusia? Well…

Feeling and Emotion

Sadarkah Anda bahwa hampir semua motivasi dan alasan kita melakukan dan memutuskan segala sesuatu itu berdasarkan pada perasaan dan keinginan kita.

Anda sebenarnya tidak butuh makan di restoran waralaba cepat saji – setidaknya kebutuhan biologis Anda hanyalah asupan gizi. Anda tidak butuh nonton film, beli mainan, jalan-jalan, baca buku atau yang lainnya – itu semua ‘hanya’ keinginan Anda.

Kebutuhan dasar manusia itu sebenarnya hanya satu: berkembang biak – dari kebutuhan dasar tersebut munculah kebutuhan sekunder, tersier, dan selanjutnya.

Sayangnya, kenyataannya, keinginan kita berbenturan antara satu dengan yang lainnya dan kita, tidak jarang, jadi bermusuhan (tidak dapat berkomunikasi dan berkoordinasi dengan baik) dengan mereka yang memiliki keinginan yang berbeda.

Contohnya sangat mudah, apalagi di waktu sekarang ini. Sejumlah orang ingin Ahok jadi gubernur. Di sisi lainnya, sejumlah orang tidak ingin Ahok jadi gubernur.

Kedua pihak yang memiliki keinginan berbeda tadi seakan jadi kehilangan kemampuan untuk berkoordinasi dan berkomunikasi dengan baik.

Saya kira saya tidak perlu menyebutkan ribuan contoh lain dari konflik keinginan karena saya yakin Anda bisa menyebutkan sendiri contoh-contoh lain jika Anda mau sadari.

Bagaimana dengan mesin dan AI? Well, saya belum pernah dengar ada mesin yang punya keinginan atau perasaan dan perkembangan teknologi tidak (belum) menunjukkan adanya indikasi bahwa mesin dan AI akan memiliki perasaan di masa mendatang.

Mungkin karena itulah mesin dapat bekerja sama dengan lebih baik antara satu dengan yang lainnya, tidak ada iri hati, dengki, ataupun sakit hati antara satu dengan yang lainnya.

Jakarta, 30 Maret 2017

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.