Dan Agama Baru itu Bernama Data

Benarkan saya jika saya salah, namun dari yang saya perhatikan, kebanyakan orang yang berkecimpung di produk digital biasanya mengagung-agungkan yang namanya data.

Di sejumlah media digital atau online misalnya, setiap artikel ditentukan nilainya berdasarkan berapa jumlah traffic atau pageview-nya.

Pemilihan artikelnya juga kerap kali lebih bergantung pada topik apa yang sekiranya mampu mendulang pageview tinggi.

Berhubung saya juga pemerhati game Android, kebanyakan developer dan publisher game di Google Play juga sebagian besar, kalau tidak mau dibilang semuanya, hanya berpatokan pada berapa banyak pengguna yang bisa diraup oleh game ini.

Tolak ukur yang berbasis pada jumlah pengguna dan pembaca tadi, saya kira adalah salah satu contoh konkrit dengan apa yang saya maksud dengan menjadikan data sebagai agama baru.

Kenapa saya pakai istilah ‘agama’?

Karena ‘agama’ itu biasanya tidak boleh didebat atau bahkan sekedar dipertanyakan.

Saya tidak akan bicara soal agama ‘tradisional’ di sini karena alasan itu tadi di atas…

Tapi data itu seharusnya bersifat ilmiah, bukan transendental.

Karena itu, setahu saya, semua perdebatan dan pernyataan ilmiah malah sudah seharusnya didebat dan bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya.

Lalu, data itu sebenarnya apa?

Data itu sebenarnya adalah opini. Data, traffic, pageview, active users, players adalah opini dari salah satu atau sejumlah perusahaan, misalnya Google, dalam menentukan tolak ukur satu produk atau konten.

Saya tidak akan mengatakan opini itu selalu buruk karena opini itu ada yang punya argumen kuat dan ilmiah, walau ada juga opini yang tidak ada argumennya sama sekali.

Argumen dari Google dan perusahaan pengumpul data lainnya sebenarnya termasuk yang kuat dan sah meski juga sebenarnya sederhana.

Argumen mereka didasarkan pada jumlah atau kuantitas pengguna dari satu produk atau konten. Tahukah Anda kenapa Google dan perusahaan pengumpul data lainnya hanya menggunakan kuantitas sebagai tolak ukur?

Karena AI sebenarnya tidak bisa membaca. Setidaknya itu yang disampaikan oleh Noriko Arai di TED yang videonya bisa Anda lihat di bawah ini.

Perusahaan pengumpul data itu tidak mungkin menggunakan orang-orang untuk menilai tiap produk atau konten karena jumlahnya terlalu banyak.

Karena itulah, AI digunakan. AI ini sungguh tidak bisa membaca, atau memahami konten, dan yang bisa mereka lakukan adalah membandingkan susunan informasi biner (binary) yang membentuk informasi.

Misalnya, di tingkatan yang lebih kompleks, AI hanya bisa membandingkan susunan karakter atau huruf yang membentuk kata, bukannya memahami kata-katanya itu sendiri.

Karena itu, sebenarnya ada kekurangan besar saat kita hanya berpatokan pada data karena data yang berbasis pada AI itu tidak memiliki kemampuan kognitif manusia.

Saya bukannya anti data, angka, atau kuantitas. Saya bahkan mungkin sudah tidak bisa bekerja tanpa melihat data namun saya sungguh percaya bahwa ada tolak ukur lain yang bisa dikomparasikan dengan data tadi.

Tolak ukur lainnya yang saya tawarkan di sini adalah kemampuan kognitif manusia dalam memaknai sebuah produk atau konten.

Mungkin ada yang akan berargumen, “bukankah data itu juga didasarkan pada perilaku pengguna (user behaviour) yang juga manusia?”

Iya, benar. Namun pertanyaan pentingnya adalah “apakah yang banyak itu selalu benar atau lebih baik?

Saya percaya tolak ukur itu tidak sepenuhnya benar, setidaknya kalau dari sisi ilmiah dan kreatifitas.

Dari sisi kreatifitas, saya pernah menuliskan artikelnya beberapa waktu lalu. Silakan dibaca jika Anda berminat.

Dari sisi ilmiah, hal ini juga tidak selalu berlaku.

Ribuan tahun silam, ketika ilmu pengetahuan medis modern belum ada, mayoritas manusia mungkin berpikir bahwa demam itu adalah kutukan setan.

Demikian juga dengan pendapat sebagian besar manusia jaman duluuuuu banget tentang bumi adalah pusat alam semesta. Belum lagi jika kita berbicara soal fisika quantum yang bahkan belum dipahami oleh semua ilmuwan sebelum tahun 1900an.

Saya masih bisa mencontohkan banyak perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan ilmiah lainnya yang akan mengatakan, “yang banyak, belum tentu benar” namun saya kira Anda tahu maksud saya di sini.

Sayangnya, melihat banyaknya konten dan produk kreatif digital – misalnya media dan game mobile yang tadi saya sebutkan – yang memang seakan hanya berbasis tren dan latah, banyak petinggi-petinggi perusahaan sepertinya memang tak mau atau, bisa jadi juga, tak tahu bagaimana mempertanyakan yang namanya data.

Alhasil, kebanyakan media mainstream pun topik pembahasannya sama.

Tak jarang isi artikelnya pun sama persis karena pekerjanya, karena saya menolak menyebut mereka yang cuma sekedar copas itu disebut wartawan atau penulis, hanya sekedar mengambil berita dari media lain untuk diterbitkan di medianya masing-masing.

Memang, faktanya, hanya orang-orang yang benar-benar tahu apa yang harus ia lakukan yang berani melakukan sesuatu yang berbeda. Bahkan di tingkatan profesional pun, tak jarang yang masih meraba dan meniru apa yang dilakukan orang-orang lainnya – termasuk soal pengkhultusan data.

 

Akhirnya

Mungkin saya yang terlalu bias, mungkin juga saya yang terlalu jengah melihat berita yang itu-itu saja dan game mobile yang mirip-mirip.

Namun pengkultusan data itulah yang saya kira jadi penyebab sejumlah produk digital jadi membosankan.

Seharusnya, data itu memperkaya kemampuan kognitif manusia, bukan menumpulkannya.

 

Jakarta, 16 Oktober 2017

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.