emoji feat image-zilbest

Emoji: Ketika Bahasa tak mampu mengungkap Rasa…

Sehebat apapun Anda berbicara ataupun menulis, bahasa memiliki sekian banyak keterbatasan. Rasa merupakan salah satu aspek yang tidak mudah diungkapkan dalam bahasa verbal. Mungkin karena itulah, orang-orang dari jaman dulu telah berusaha mencoba menyimbolkan rasa dalam bahasa verbal dengan bentuk yang berbeda – termasuk emoji.

April 1857, National Telegraphic Review and Operators Guide mendokumentasikan penggunaan angka ’73’ di dalam kode morse sebagai ekspresi ‘love and kisses’ yang kemudian dirubah dalam bentuk yang lebih formal dengan ‘best regards’.

Karena jaman telah berganti ke komunikasi digital, emoji menjadi satu bagian dari komunikasi kita sehari hari. Mungkin, hanya nenek-nenek dan kakek-kakek saja yang tidak menggunakan emoji saat berkomunikasi via perangkat digital sekarang ini ^,^…

Namun, pernahkah Anda merasa penasaran dari manakah datangnya emoji itu?

emoji-zilbest

Sebelum berubah menjadi emoji, simbol ekspresi dalam komunikasi tertulis berawal dari yang namanya emoticon. Emoticon adalah simbol ekspresi wajah yang terbuat dari tanda baca.

Awal mula sejarah emoticon ini memang sedikit sulit diverifikasi. Namun cikal bakal emoticon muncul di media kertas pada sebuah transkrip pidato presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln di tahun 1862. Transkrip tersebut mencatat reaksi penonton yang terkagum-kagum dengan presiden Amerika Serikat ke 16 itu dengan “(applause and laughter ;).”

Pun demikian, tidak ada yang bisa mengklarifikasi bahwa tanda baca tersebut merupakan bentuk emoticon atau hanya sekedar typo (salah ketik).

puck-emoji-zilbest

Tahun 1881, majalah Puck adalah yang pertama mencetak penggunaan tipografi tanda baca sebagai bentuk ekspresi perasaan. Namun tipografi ekspresi ini dibuat dengan orientasi horisontal.

Barulah pada 19 September 1982, Scott Fahlman adalah orang pertama yang menyarankan penggunaan emoticon ‘:-)’ dan ‘:-(‘ untuk menandai postingan gurauan dan yang serius di sebuah forum Computer Science (ilmu komputer) di Carnegie Mellon University.

scott-e-fallman-zilbest

Tahun 1999, hadirlah emoji yang diciptakan oleh Shigetaka Kurita di Jepang. Kurita merupakan salah satu anggota tim yang memiliki proyek menciptakan layanan internet di perangkat mobile di Jepang yang diberi nama ‘i-mode’ dari sebuah perusahaan bernama Docomo.

Awalnya, emoji dibuat dengan tujuan menghemat karakter teks pada sebuah layar ponsel monochrome. Saat itu, layar LCD ponsel hanya dapat memuat 48 karakter. Ditambah lagi, gambar memang seringkali bisa berbicara lebih dari ribuan kata-kata.

shigetaka kurita-emoji-zilbest

Permasalahan awal dari emoji ini adalah ia tidak kompatibel di perangkat-perangkat yang berbeda. Emoji yang dapat ditampilkan di satu perangkat, mungkin tidak dapat ditampilkan di perangkat yang berbeda.

Barulah di tahun 2007, Google (Kat Momoi, Mark Davis, dan Markus Scherer) menulis draft pertama yang menyarankan code point emoji untuk dipertimbangkan oleh Unicode Technical Comitee. Apple (Yasuo Kida dan Peter Edberg) ikut bergabung memasukkan code emoji sebagai Unicode di tahun 2009.

unicode-emoji-zilbest

Akhirnya di tahun 2010, sejumlah paket karakter emoji telah dimasukkan ke dalam Unicode, yang diatur oleh Unicode Consortium, sebuah perusahaan non-profit yang mengatur dan mengembangkan standarisasi kode secara global, sehingga Anda bisa lebih leluasa mengungkapkan rasa dengan emoji meski berkomunikasi dengan orang-orang dengan perangkat berbeda di seluruh dunia… Yay…! ^,^

Jakarta, 7 April 2016
Yabes Elia

Sumber:

Smile! A History of Emoticons – The Wall Street Journal

A Brief History of Emoticon – Mashable

Emoji History – Storify

Where Did Emoji Come From – iEmoji

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.