Kenapa sih Media Sosial Begitu Adiktif?

Apakah Anda seringkali merasa ‘gatal’ ingin membuka media sosial secara berkala? Gatal ingin komen, gatal ingin memberitahukan kepada seisi dunia tentang apa yang sedang Anda lakukan ataupun apa yang ada di kepala Anda?

Well, jika Anda menjawab “iya”, Anda sama seperti kebanyakan orang lainnya, termasuk saya kwkwkwkw…

Lalu, pertanyaan pentingnya adalah “Kenapa?” Kenapa kita merasa gatal untuk membuka Facebook ataupun nge-tweet?

Ada 3 jawaban yang saya temukan yang mungkin menarik untuk disadari lebih jauh. Tenang, saya tidak akan menghakimi Anda soal baik dan benar tentang candu yang satu ini – karena saya percaya setiap kita pasti punya candunya masing-masing, yang bahkan mungkin lebih dari satu.

Saya hanya mengumpulkan jawaban yang mungkin dapat menjelaskan kenapa orang-orang, termasuk Anda dan saya, kecanduan dengan yang namanya media sosial.

1. Unpredicted Rewards Similar with Slot Machine

Tim Wu, seorang Profesor dari Columbia Law School, mengatakan salah satu alasan yang membuat kita seolah merasakan dorongan untuk ‘check-in’ di media sosial adalah unpredicted reward – ‘hadiah’ yang tidak kita duga sebelumnya.

Anda bisa menonton video penjelasan singkat beliau di bawah ini jika Anda tidak masalah dengan koneksi ataupun kuota internet.

Menurutnya, ketika kita membuka media sosial, kita akan menemukan lebih banyak informasi yang mungkin tidak terlalu berkesan.

Namun, sesekali waktu, kita akan menemukan sebuah informasi yang seolah seperti sebuah harta karun yang begitu berkesan – seperti meme, joke, quote, atau malah foto gebetan atau malah mantan yang sedang cakep-cakepnya wkwkwkwkw…

Harta karun (unpredicted reward) tadilah yang membuat kita merasa ingin kembali lagi ke tempat itu dan merasakan lonjakan emosi seketika. Tim mengatakan hal ini juga serupa dengan apa yang ditawarkan dengan mesin slot ataupun memancing.

2. People Love to Talk about Themselves

Dalam Jurnal berjudul Online Social Networking and Addictions – A Review of the Psychological Literatrue, tulisan Daria J. Kuss dan Mark D. Griffiths, disebutkan bahwa egosentrisme terkait erat dengan Internet addiction.

Plus, media sosial dapat memfasilitasi perilaku egosentrisme dengan sangat baik. Contohnya, Anda bisa pamer selfie di sana. Anda bisa menunjukkan Anda sedang berada di mana, sedang melakukan apa, dan lain-lainnya.

Media sosial seolah seperti sebuah media Anda sendiri yang bisa Anda gunakan untuk membangun image diri Anda sendiri – atau personal branding istilah kerennya.

Ada yang ingin dibilang cantik, ada yang ingin dibilang pintar, ada yang ingin dibilang kaya, dan image diri positif lainnya.

Lagi saya katakan, saya tidak ingin menghakimi siapapun di sini. Saya hanya memberikan contoh dari apa yang dimaksud dengan personal image tadi. Saya pribadi merasa semuanya sah-sah saja asal Anda tahu konsekuensinya seperti apa.

3. Fast Rewards with Minimal Efforts

Tahukah Anda ketika Anda sedang asik di media sosial, otak Anda melepaskan dopamine, yang terkait erat dengan rasa kepuasan, reward, dan kesenangan?

Sebenarnya, otak Anda akan melepaskan dopamine tidak hanya saat Anda asik di media sosial namun juga banyak kegiatan lainnya – misalnya seperti sedang bermain game, menonton film, memasak, menulis cerpen, menggambar, pulang kerja, dan jutaan kegiatan lainnya.

Namun demikian, media sosial dapat memberikan Anda akses ke dopamine yang lebih cepat dengan usaha minimal.

Misalnya, bandingkan menulis status atau tweet dengan memasak. Anda tetap butuh minimal setengah jam untuk memasak (ini memasak decent meal ya, bukan mie instant atau malah masak air) sedangkan menulis komentar di FB ataupun nge-tweet bisa diselesaikan dalam waktu 30 detik atau bahkan kurang.

Belum lagi energi yang dibutuhkan juga sangat berbeda. Memasak itu melelahkan, setidaknya bagi saya wkwkkwkw… Apalagi jika harus nguleg sambel… Sedangkan menulis komentar di media sosial itu hanya butuh 2 jari jempol – jika Anda pakai ponsel.

Kegiatan kreatif seperti bermain gitar, menulis cerpen, ataupun bermain Illustrator juga menuntut Anda untuk menguasai sejumlah skill sebelum bisa Anda nikmati kepuasaannya.

Finally,

Akhirnya, tentu saja saya yakin ada jawaban-jawaban lain selain tiga jawaban tadi yang mungkin jadi alasan Anda kenapa Anda suka bermain di media sosial, misalnya seperti kebutuhan kita manusia sebagai mahluk sosial.

Namun, 3 jawaban tadi adalah jawaban yang mungkin paling tidak banyak disadari oleh kebanyakan orang. Sedangkan bagi saya, saya adalah salah satu yang memegang teguh apa yang pernah dikatakan oleh Socrates, “Hidup yang tidak disadari adalah hidup yang tidak layak dijalani…

Jakarta, 10 Desember 2016.

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.