Wedding Photography: Menangkap Momen Penuh Asmara

Saya kira setiap orang yang ingin menikah pasti ingin hari pernikahan mereka sempurna karena inilah hari Anda mengucap janji setia Anda bersama pasangan Anda yang harapannya hanya satu kali seumur hidup – kecuali bagi mereka yang berencana poligami ^,^.

Karena itu, saya kira Anda juga akan berharap bahwa hari yang sempurna itu dapat ditangkap dan diabadikan kesempurnaannya.

Sebab, momen-momen inilah yang bisa jadi salah satu pengingat Anda berdua tentang mimpi yang ingin Anda berdua capai, tentang cerita yang ingin Anda ukir sampai usia senja nantinya, ketika Anda berdua mengalami masa-masa sulit nantinya – dan, percayalah, Anda berdua pasti akan mengalami banyak masa sulit itu nanti.

Namun demikian, mengabadikan momen penuh asmara tadi, yang salah satunya dengan fotografi, saya kira juga tidak mudah dilakukan jika benar-benar ingin menangkap semua rasanya dengan utuh.

Jujur saja, saya pribadi memang tidak terlalu paham tentang fotografi. Namun saya tahu, layaknya ranah estetika lainnya, ada tuntutan perbedaan konsep, skill, ataupun peralatan untuk tiap spesialisasinya. Landscape photography itu berbeda dengan model photography atau bahkan marketing photography – foto-foto yang ditujukan untuk kebutuhan bisnis / marketing.

Demikian juga dengan Wedding Photography. Karena itulah, saya mengajak salah satu kawan baik saya yang memang seorang fotografer pernikahan profesional, untuk berbagi ilmu dan tipsnya bagi Anda yang ingin belajar di spesialisasi ini ataupun jika kebetulan kantong Anda terlalu tipis untuk menyewa fotografer profesional.

Jika Anda tidak mau atau tidak ada waktu untuk belajar, Anda juga bisa menghubungi sendiri kawan saya di JMS Photo – saya promosikan teman saya boleh ya… nyahaha. Anda bisa menghubunginya via laman Facebook atau Instagramnya untuk info lebih lanjut.

Oh iya, semua foto-foto pernikahan dan pra-pernikahan yang ada di artikel ini merupakan dokumentasi dari JMS Photo. Jadi, selain Anda bisa belajar dari hasil foto tersebut, Anda juga bisa melihat sendiri hasil-hasil karyanya – jika Anda kebetulan sedang mencari fotografer profesional untuk pernikahan ataupun pre-wedding Anda ^,^.

Namanya adalah James Steven, pemilik JMS Photo. Selain seorang fotografer pernikahan profesional, ia juga telah memiliki studio foto sendiri di Jakarta. Ia yang tidak pelit untuk berbagi ilmunya akan menjadi narasumber tunggal saya di artikel ini.

Concept and Fundamental Skills

Menurutnya, fotografi pernikahan adalah tentang menangkap momen. Dan, momen tersebut akan terlihat lebih natural jika sang model (pengantin) tidak sadar kamera alias candid.

Karena itu, skill fundamental yang dibutuhkan juga harus menyesuaikan konsep tadi.

Pertama, Anda harus bisa mengambil gambar dari jarak yang tidak terlalu dekat (sekitar 3-4 meter). Karena, jika terlalu dekat sang pengantin bisa jadi terganggu atau sadar kamera yang membuat hasilnya tidak lagi natural.

Kedua, James juga percaya bahwa fotografi itu harus dapat mensimulasikan mata kita dan mata kita hanya bisa fokus terhadap satu objek – yang lainnya blur. Hal ini akan terkait dengan peralatan yang digunakan, yang akan dibahas di bagian berikutnya.

Ketiga, Anda harus selalu siap dan sigap saat acara, baik dari masa persiapan sampai penutupan. Karena itu, Anda juga harus menghapalkan susunan acara keseluruhan jika ingin menangkap banyak momen.

Plus, James mengaku bahwa ia selalu mengambil gambar dengan mode burst agar dapat memilih hasil terbaik untuk momen-momen singkat yang, pastinya, tidak dapat diulang.

Selain itu, ada baiknya juga jika Anda tidak sendiri dalam mengambil gambar. Cari 1 orang kawan lagi untuk membantu Anda mengambil sudut-sudut gambar yang berbeda.

Skill dasar terakhir yang harus dimiliki oleh seorang fotografer pernikahan adalah membaca karakteristik sang model (pengantin). Pasalnya, menurutnya, jika fotografer tersebut memaksakan gaya yang tidak sesuai dengan karakteristik pengantin, hasilnya akan jadi terlalu cheesy.

Misalnya, ada pasangan yang bisa bergaya humoris namun ada juga yang lebih memilih untuk bergaya romantis. Menurut James, inilah kesalahan banyak fotografer pernikahan: mereka memaksakan kebiasaan atau pola kerja mereka ke setiap pasangan.

Padahal setiap pasangan atau pengantin itu berbeda-beda dan sang fotografer lah yang harus dapat menyesuaikan diri terhadap karakteristik pengantinnya.

Tools and Equipments

Lalu bagaimana dengan perlengkapan yang dibutuhkan?

Inilah seperangkat kamera dan lensa yang digunakan oleh James saat bekerja:

1. Canon EOS-1D Mark IV

2. Canon EOS-5D Mark III

3. Canon EF 24mm f/1.4 – Fixed

4. Canon EF 135mm f/2

5. Sigma 50-100mm f/1.8

6. Canon EF 24-105mm f/4

Oh iya, itu semua dibeli sendiri oleh James, bukan sponsor ya wkwkwkw… Jadi silahkan Anda cari brand lain yang mungkin setara performa dan kualitasnya jika Anda punya selera yang berbeda.

Tujuan saya menyebutkan produk-produk tadi supaya Anda bisa tahu betul spesifikasi persisnya seperti apa dan berapa dana yang dibutuhkan (silahkan cek sendiri harga-harganya di toko-toko kamera atau di apotek terdekat – jika Anda pusing melihat total harganya nyahahaha).

Selain seperangkat lensa dan kamera tadi, James juga selalu membawa wireless flash jika ia butuh menetralkan cahaya ruangan. Plus, 1x CF berkapasitas 32GB, 1x CF 16GB, dan 1x CF 4GB (sebagai backup).

Namun demikian, ia mengatakan bahwa sebenarnya 32GB sudah cukup untuk satu kali proyek – dengan kombinasi hasil foto berbentuk JPEG dan RAW.

Oh iya, jika rekening Anda sedikit seret, James menyarankan beberapa produk entry level, yang menurutnya cukup baik. Jika Anda mencari kamera Canon, carilah yang seri ratusan D (700D, 750D, dkk) dan jika Anda ingin Nikon, carilah D3300 – D5300.

Jangan lupa juga untuk lensanya dan yang disarankan oleh James adalah Tamron 17-50mm f/2.8.

Jika masih kurang murah lagi, jika Anda berada di Jakarta dan sekitarnya (saya dan James kurang tahu kalau di kota lain ada atau tidak), Anda bisa mencari jasa penyewaan kamera dan lensa untuk anggaran yang lebih terjangkau.

Jika Anda memutuskan untuk menyewa, carilah yang bagus sekalian – seperti yang digunakan oleh James – untuk hasil yang ideal dengan anggaran yang sangat terjangkau.

Pro Tips

Terakhir, James ingin berbagi satu tips teknis bagi Anda yang ingin menekuni spesialiasi ini lebih jauh.

Katanya, cobalah belajar untuk mengambil gambar dengan format JPEG, bukan RAW lagi. Format RAW ini memang banyak digunakan fotografer profesional karena juara dalam hal fleksibilitas manipulasinya di komputer nantinya.

Namun demikian, tambah James, mengolah format RAW ini memakan banyak waktu sehingga bisa jadi produktifitas Anda akan kurang efisien.

Misalnya saja seperti ini, James bercerita bahwa proyek pernikahan itu biasanya di hari Sabtu dan Minggu, bahkan bisa 4x proyek di satu weekend (2x di hari Sabtu dan 2x di hari Minggu) jika Anda sudah cukup laris.

Sedangkan mengolah hasil dengan format RAW bisa memakan waktu 3-4 hari untuk 1x proyek. Jadi, minggu depannya, Anda tidak bisa lagi mengambil proyek baru karena proyek yang minggu lalu belum selesai dikerjakan.

Karena itu, James menyarankan untuk mulai belajar mengambil hasil jepretan dengan format JPEG untuk mempersingkat waktu editing akhirnya.

Namun demikian, format JPEG ini menuntut skill yang lebih cepat dan cermat di hari H karena Anda harus menguasai yang namanya fitur ‘Custom White Balance‘ yang harus disesuaikan on-the-fly, tergantung pencahayaan ruangan.

Anda harus belajar bagaimana caranya menetralkan cahaya dengan berbagai teknik. Sayangnya, masalah ini terlalu kompleks untuk dijelaskan secara detil di sini.

Namun jika Anda memang berniat belajar lebih jauh, ada banyak informasi di dunia maya sana yang dapat membantu Anda belajar bagaimana menyelesaikan banyak persoalan, seperti lampu panggung yang berwarna ungu misalnya.

Closing

Akhirnya, saya pribadi juga percaya Anda tetap butuh yang namanya jam terbang untuk melatih kepekaan cahaya, sudut pandang, momen, trik fotografis, dan segudang hal lainnya.

Saya dan James di sini hanya ingin menghantarkan Anda ke sebuah skill yang asik untuk ditekuni dan dipelajari, plus pastinya juga menguntungkan.

So, seperti biasa, selamat belajar…!

Jakarta, 15 Desember 2016

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.