anonimitas

Anonimitas: Bebas Tanpa Batas

Jika Anda sering bermain game-game multiplayer, seperti MOBA misalnya, Anda pasti pernah menemukan pemain-pemain yang hobi sekali memaki. Fenomena ini juga sebenarnya terjadi di jejaring sosial.

Baik di Twitter, Facebook, ataupun komunitas online lainnya, banyak orang jadi lebih berani konfrontasi atau sekedar trolling. Hal ini juga sebenarnya tidak hanya terjadi di dunia maya tapi juga di dunia nyata. Misalnya saat berkendara di jalan raya.

Jika Anda mau jujur dengan diri sendiri, saya yakin Anda juga akan mengakui hal yang sama: kita semua jadi lebih mudah mengumpat saat berkendara di jalan raya.

Kesamaan dari 3 contoh yang saya berikan di atas adalah anonimitas. Anonimitas itu artinya apa? Sederhananya, anonimitas adalah satu kondisi saat identitas kita yang sebenarnya tidak diketahui oleh orang lain.

Hal ini mungkin terdengar sederhana namun kondisi ini memberikan kita kebebasan yang tidak terbatas.

BACA JUGA: The Irony of Freedom of Expression

Ijinkan saya memberikan contoh. Beberapa tahun silam, seorang ibu negara (bukan presiden saat ini) jadi bahan cemoohan di Twitter – baik soal kamera DSLR beliau, soal lengan baju anaknya, atau soal isu-isu yang sebenarnya sepele.

Maaf jika saya tidak menyebutkan nama aslinya, saya takut… wkwkwkwkwk. Semoga Anda tahu kasus yang saya maksud.

Saya pribadi sebenarnya malah sebenarnya kasihan dengan ibu negara itu karena saya kira ia hanya canggung dengan perilaku orang di dunia maya. Bayangkan saja, beranikah Anda mengkritik istri seorang presiden saat Anda bertemu muka dengan beliau? Jika Anda masih waras, kemungkinan besar, Anda tidak berani.

Namun di internet, banyak orang bisa berlindung di balik anonimitas. Jadi, mereka bisa mencemooh dan memaki semau mereka.

Jika Anda cukup aktif di jejaring sosial, kemungkinan besar, Anda juga akan pernah menemukan atau bahkan mengalami cerita yang serupa.

Seperti yang saya tuliskan di atas tadi, anonimitas ini juga terjadi di jalan raya saat kita berkendara. Kenapa? Karena kita merasa kita tidak akan bertemu lagi dengan pengendara yang kita maki-maki tadi.

Anda tidak akan menemukan kasus yang serupa saat di mall, gedung perkantoran, ataupun ruang-ruang lainnya yang lebih sempit dari jalan raya. Saat seseorang menyenggol atau nyaris menyenggol Anda di sana, Anda tidak akan menyebutkan seisi kebun binatang ke orang tersebut.

anonimitas

Namun pertanyaannya, kenapa anonimitas bisa jadi tempat berlindung? Saya cukup yakin jawabannya adalah karena anonimitas itu meminimalisir peluang kita menerima konsekuensi dari tindakan dan perilaku kita.

Entahlah, mungkin memang manusia masih tidak bisa lepas dari hasrat-hasrat primitifnya, termasuk merendahkan orang lain. Kita bisa menahan diri di kehidupan sehari-hari karena kita sadar ada konsekuensi yang jelas dari setiap tindakan.

Menariknya, tidak sedikit juga orang-orang di dunia maya yang seringkali tidak sadar sudah kehilangan anonimitas tapi berbicara seenak perutnya masing-masing.

Misalnya saja kasus beberapa tahun silam ketika seorang mahasiswi merendahkan satu kota atau komunitas yang kemudian jadi bahan cemoohan netizen. Bahkan jika saya tidak salah ingat, mahasiswi tersebut sampai harus diamankan aparat.

BACA JUGA: Internet itu Mengerikan?

Banyak orang jadi tidak sadar yang jadi masalah bukan soal dunia maya atau dunia nyata, tapi lebih pada faktor anonimitasnya.

Akhirnya, saya pribadi, seperti biasanya, melihat ada keuntungan dan kekurangan dari faktor anonimitas ini. Saya sangat percaya bahwa setiap orang berhak mengemukakan pendapatnya.

Saya juga percaya bahwa setiap orang pasti punya pendapat yang berbeda-beda dan memaksa menyeragamkan pendapat adalah satu hal yang tidak manusiawi. Anonimitas bisa memungkinkan banyak orang untuk mengekspresikan pendapatnya.

Namun di satu sisi, anonimitas bisa meminimalisir konsekuensi; dan tanpa kesadaran konsekuensi, saya juga tahu banyak orang jadi bisa bertindak semena-mena terhadap sesamanya.

Jakarta, 22 Juli 2017

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.