Antara Stereotyping, Prasangka, dan Diskriminasi

Saya kira setiap kita pasti pernah menjadi korban dan juga sekaligus pelaku stereotyping. Siapa yang percaya bahwa orang Batak atau orang Ambon itu pasti pintar bernyanyi? Ada juga yang percaya bahwa semua orang Tionghoa pintar berdagang. Orang Jawa? Biasanya mereka lebih sabar dan pemaaf dari ras-ras yang saya sebutkan sebelumnya. kwakwkwakwa…

Apakah stereotyping itu selalu benar? Kenyataannya, tidak. Namun, satu hal yang pasti, stereotyping adalah bagian dari cara kerja otak kita sehari-hari.

Sebelum masuk ke artikel, saya harus minta maaf kalau semakin tidak menentu jadwal artikel barunya (harap dimaklumi penulisnya lagi susah dapat inspirasi, mungkin gara-gara beli rokok aja susah okawoawkowa). Saya masih harus banyak berbenah diri, entah sampai kapan…

Anyway, kembali ke artikel, seperti yang saya tuliskan tadi stereotyping ini sebenarnya merupakan salah satu mekanisme kerja otak kita. Stereotyping merupakan salah satu jalan pintas yang otak kita gunakan dalam menganalisa data.

Stereotyping ini sebenarnya tidak hanya soal manusia saja namun untuk semua informasi yang kita terima, termasuk objek di sekitar kita – hanya saja kebanyakan orang menggunakan istilah ini untuk fenomena sosial saja.

Semua hal yang kita lihat, dengar, dan rasakan (kek lagunya SO7) itu harus diproses oleh otak kita namun, untuk menghemat energi dan waktu, kita menggunakan teknik stereotyping tadi untuk memproses informasi yang pernah kita terima sebelumnya.

Misalnya, langit mendung dan Anda punya banyak jemuran. Kemungkinan besar, Anda akan memutuskan untuk memasukkan jemuran sebelum hujan turun (berhubung saya sambil mendengarkan PMR saat menulis, jadi saya ambil saja soal jemuran ini jadi contoh…)

Selain untuk menghemat waktu dan energi, kita juga menggunakan stereotyping ini untuk memudahkan kita memahami informasi baru yang kita terima.

Pasalnya, kita manusia memang cenderung lebih mudah memahami sesuatu ketika melihat hal tersebut menjadi bagian dari satu klasifikasi tertentu.

Tak jarang juga stereotyping ini juga kita gunakan untuk menjelaskan sesuatu yang jawabannya mungkin terlalu rumit untuk dicari secara sadar atau logis.

Misalnya saja kembali ke stereotype yang saya tuliskan di awal tadi, tentang orang Batak dan orang Ambon yang biasanya pandai bernyanyi.

Mungkin ada banyak orang yang percaya bahwa mereka memang dilahirkan dengan bakat menyanyi yang lebih baik, namun, percaya saya, ada kawan-kawan saya orang Batak dan Ambon yang tidak pintar bernyanyi.

“Abandon the urge to simplify everything, to look for formulas and easy answers, and to begin to think multidimensionally, to glory in the mystery and paradoxes of life, not to be dismayed by the multitude of causes and consequences that are inherent in each experience — to appreciate the fact that life is complex.” – M. Scott Peck

Padahal, sebenarnya sama seperti skill atau keahlian lainnya, kawan-kawan saya yang orang Batak dan Ambon yang merdu suaranya itu ya karena memang telah investasi banyak waktu untuk berlatih dan belajar soal hal itu…

Sayangnya, kita manusia memiliki kecenderungan besar untuk mencari jawaban sederhana atas begitu banyak permasalahan kompleks yang ada – seperti kemampuan menyanyi yang sebenarnya kompleks, yang tidak adil jika diselesaikan dengan jawaban suku atau ras mana orang tersebut berasal…

Jika kita berbicara mengenai stereotip alias stereotyping tadi, otomatis kita juga akan bicara mengenai prasangka (prejudice) dan diskriminasi.

Pasalnya, kedua hal negatif tadi memang berawal dari stereotyping… Prasangka atau prejudice itu merupakan stereotyping yang bernada negatif atas satu hal, yang biasanya berkaitan dengan manusia.

Orang Tionghoa itu biasanya pelit (awokaowkaokawa), anaknya orang kaya biasanya manja, orang gendut itu kemungkinan tidak suka olahraga, cewek itu biasanya tidak pintar nyetir… Maaf, jangan tersinggung ya, ini cuma contoh yang faktanya belum tentu benar… cup…cup…cup ^,^

Kenapa kebanyakan orang punya prasangka? IMHO, pertama, seperti yang saya tuliskan tadi manusia cenderung untuk mencari jawaban sederhana atas banyak masalah kompleks – entah memang karena malas berpikir atau memang bawaan dari sananya (gawan bayi kalau kata orang Jawa).

Kedua, prasangka ini juga seringkali dijadikan justifikasi yang paling gampang atas ketidakadilan sosial, ketidakpuasan hidup, atau kondisi negatif lainnya…

Lalu apa yang dinamakan dengan diskriminasi? Diskriminasi adalah ketika satu tindakan dilakukan yang didasarkan pada prasangka alias stereotyping negatif itu tadi…

Ketika Anda memutuskan untuk memilih pekerja atau karyawan hanya karena dia lulusan universitas tertentu, jenis kelamin tertentu, suku tertentu – yang mungkin sama sekali tidak relevan dengan pekerjaan yang dimaksud – hal ini baru bisa dibilang sebagai bentuk diskriminasi.

Jadi, IMHO, kali ini kita belajar tentang 3 hal yang sebenarnya berbeda namun sering dianggap sama – meski memang saling terkait.

Stereotyping itu tidak selalu bernada negatif dan ia sebenarnya bisa berguna untuk membantu otak kita menyaring data atau informasi – karena manusia memang sebenarnya cukup pintar dalam menemukan pola (patern) dari dunia antah berantah yang penuh dengan informasi yang kita terima secara acak dari waktu ke waktu.

Sedangkan prasangka (prejudice) merupakan jalan pintas berpikir (stereotyping) yang bernada negatif atas satu golongan tertentu.

Kemudian diskriminasi adalah ketika Anda mulai melakukan tindakan atau keputusan (action) yang berbasiskan prasangka tadi.

Sebelum jadi terlalu panjang, saya ingin menutup artikel ini dengan apa yang saya percayai…

Menurut saya, stereotype ataupun bahkan prasangka yang negatif itu sebenarnya sah-sah saja – toh saya tidak bisa mengatur ataupun memaksakan apa yang semestinya dipikirkan orang lain.

Walaupun memang jika terlalu banyak prasangka dalam pikiran Anda, ya kemungkinan besar Anda tidak dapat mensyukuri banyak hal yang ada di hadapan Anda sekarang…

BACA JUGA: BIAS KONFIRMASI

Sedangkan diskriminasi mungkin sudah berbeda levelnya karena ia sudah berbentuk aksi – yang mungkin bisa Anda kurangi sedikit demi sedikit jika Anda sadar Anda melakukannya…

Pasalnya, diskriminasi membuat Anda melihat banyak masalah jadi begitu sempit yang mungkin jalan keluarnya ada di luar sudut pandang diskriminasi Anda tadi.

Misalnya saja seperti ini, ijinkan saya mengambil contoh diri saya sendiri, ketika saya masih kerja kantoran, saya sendiri yang memilih siapa saja yang masuk ke tim saya dan tidak sekalipun saya mendiskriminasikan para pelamar berdasarkan lulusan pendidikan, agama, ras, usia, atau predikat lainnya.

Saya menilainya berdasarkan tes yang saya berikan ke mereka-mereka yang berminat.

Hasilnya, saya bangga dengan semua kawan-kawan saya tadi yang saya anggap memang layak dan pernah jadi bagian dari tim saya dan mereka sekarang semuanya lebih sukses dari saya, si penulis serabutan ini owkaowkaokwao…

So, jika masih ada sebersit prasangka dan diskrimasi yang Anda sadari, well, tidak ada salahnya untuk coba dikurangi dan memandang setiap masalah ataupun fenomena sosial dengan sudut pandang yang lebih luas…

Jakarta, 9 Mei 2017

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.