Sebuah penelitian membuktikan bahwa gaya bicara pemimpin sebagian besar menggunakan bahasa abstrak. Seperti apakah gaya bahasa abstrak itu?
Saat mendengarkan seseorang presentasi, memimpin rapat, atau membaca kiriman email, terkadang kita tidak peduli tentang bahasa yang mereka gunakan, mau itu abstrak atau konkret. Namun, suatu riset mengatakan bahwa perbedaan halus dalam gaya berbahasa tersebut dapat memengaruhi persepsi orang yang mendengarkan secara substansial. Pasalnya, penggunaan bahasa yang lebih abstrak sering dikaitkan dengan kekuasaan dan kepemimpinan.

Sebelum membahas lebih lanjut soal riset ini, kira-kira apa sih perbedaan bahasa abstrak dan konkret? Bagi yang belum tahu, bahasa yang konkret merujuk pada kata-kata yang nyata dan dapat dirasakan oleh indra Anda. Sedangkan, bahasa abstrak merupakan kata-kata yang tidak bisa diukur, kurang nyata, dan lebih sulit untuk divisualisasikan.
Konkret: Budi akan membuka konferensi dengan pidato berdurasi lima menit.
Abstrak: Pidato pembukaan Budi akan membuat penonton heboh dengan konferensi ini.
Bahasa konkret cenderung menggunakan lebih banyak kata kerja, sedangkan bahasa abstrak lebih banyak menggunakan kata sifat.
Konkret: Jus ini terbuat hanya dari sari buah dan tidak mengandung bahan pengawet.
Abstrak: Jus ini 100% jus dan bebas pengawet.
Bahasa konkret berfokus pada bagaimana, sedangkan bahasa abstrak berfokus pada mengapa.
Konkret: Rencana baru kami akan membawa bisnis tambahan dengan menambahkan rangkaian layanan baru untuk melengkapi penawaran inti kami.
Abstrak: Rencana baru kami akan membawa kami ke masa depan, membuat perusahaan lebih inovatif dan sejahtera.
Gaya Bicara Abstrak Menunjukkan Kekuatan dan Visi

Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Harvard Business Review, mereka membuat dua pernyataan tentang sebuah produk jus fiktif. Bedanya, salah satu dari pernyataan itu disusun menggunakan bahasa abstrak dan satu lagi menggunakan bahasa konkret. Lalu, mereka meminta kesan para peserta tentang orang-orang yang telah membuat kedua pernyataan tersebut.
Hasilnya, para peserta secara konsisten berasumsi bahwa orang yang merangkai pernyataan dengan gaya bahasa abstrak “kemungkinan besar lebih kuat daripada yang konkret.” Mereka juga berpendapat bahwa pemicara abstrak akan lebih cocok bekerja sebagai manager, sementara pembicara konkret akan lebih cocok bekerja sebagai pekerja biasa.
Menariknya, 82% dari mereka juga mengatakan bahwa orang dengan gaya bicara atau berbahasa abstrak lebih cocok untuk mengisi peran CEO.
Tidak hanya survei, tim dari HBR juga menemukan fakta tersebut dalam dunia nyata. Menurut para investor yang diwawancarai oleh tim HBR, wirausahawan yang menggunakan bahasa abstrak terlihat lebih memiliki “potensi pertumbuhan yang besar” serta “potensi pendapatan jangka panjang yang sangat dapat diskalakan.”
Sementara, para pendiri usaha yang menggunakan bahasa konkret terlihat kurang berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang. Hal ini akhirnya membuat kemungkinan mereka mendapatkan modal (dana) dari investor lebih kecil.
Jadi, Manakah yang Lebih Baik?
Meskipun riset ini membuktikan gaya bicara pemimpin lebih banyak menggunakan bahasa abstrak dari konkret, kenyataannya kedua gaya berbahasa ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bahasa konkret dapat membangun kedekatan dan kepercayaan secara psikologis, serta dapat meyakinkan orang dalam menghadapi risiko atau ketidakpastian.
Contohnya, saat memulai bisnis baru dan menyelenggarakan sesi crowdfunding, Anda terkadang perlu meraih kepercayaan dari para investor dengan menjelaskan risiko bisnis secara detail demi mendapatkan pendanaan. Dalam konteks ini, Anda harus menjelaskan secara realistis tentang cara melaksanakan visi, memberikan detail spesifik, dan mendiskusikan rencana bisnis menggunakan kata-kata yang jelas dan konkret sehingga mudah divisualisasikan oleh pendengar.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa membina kepercayaan dan koneksi terkadang lebih penting dari menunjukkan kekuatan dan ketegasan layaknya pemimpin. Namun, tentu saja akan lebih baik jika Anda dapat mengadopsi kedua gaya bahasa tersebut dan menggunakannya saat dibutuhkan.
Di sisi lain, bagi para bos-bos yang mungkin menyadari kinerja karyawannya menurun, artikel ini dapat membantu Anda dalam mencegah karyawan burnout.
