Karyawan Jenuh Bekerja? Sebagai Bos, Ini Beberapa Cara Mencegah Karyawan Burnout

Cara Mencegah Karyawan Burnout

Burnout memang satu hal yang dapat mengganggu kinerja karyawan. Nah, sebagai bos yang baik, bagaimana cara mencegah karyawan burnout?

Burnout (kejenuhan atau kelelahan) yang dialami oleh karyawan memang sudah ada sejak dahulu kala. Namun, kehadiran WFH (work from home) yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 membuat banyak pekerja tidak dapat melihat batasan yang jelas antara berada di kantor dan rumah. Tentunya, ini akan berdampak pada work-life ratio dan menghasilkan lebih banyak kejenuhan dari sistem kerja konvensional.

Nah, sesuai judul artikel ini, sebagai bos atau pemimpin perusahaan, kira-kira apa sih yang bisa Anda lakukan untuk menjaga kenyamanan dan kesenangan karyawan-karyawan Anda? Berikut adalah cara mencegah karyawan burnout.

1. Tetapkan Batasan yang Jelas

Image Credit: iStockPhoto

Pemimpin perusahaan harus menetapkan batasan kerja yang jelas, seperti kapan para karyawan dapat berhenti memikirkan pekerjaan dan beristirahat di penghujung hari. Pasalnya, terdapat banyak skenario seperti pesan atau email dari klien yang masuk pada jam-jam yang tidak masuk akal (contohnya pada subuh hari atau sebagainya).

Jika dihadapkan dengan skenario seperti itu, Anda harus menegaskan kepada karyawan Anda untuk tidak segera merespon pesan tersebut dan menunggu esok hari (hingga jam-jam yang lebih masuk akal) untuk membalasnya.

Namun, tentunya terkadang akan ada pekerjaan mendesak yang harus diselesaikan malam itu juga. Dalam skenario ini, pastikan Anda sudah memberitahukan pada karyawan Anda bahwa ini merupakan pengecualian yang jarang terjadi.

2. Lakukan Apa yang Anda Tetapkan

Menetapkan batasan kerja yang jelas untuk karyawan Anda adalah satu hal, namun merealisasikannya sendiri adalah hal lain. Sebagai pemimpin, tentunya Anda harus memberikan contoh nyata kepada rekan-rekan atau bawahan Anda. Salah satu hal yang bisa Anda lakukan adalah mengomunikasikan jam kerja Anda sendiri agar dapat ‘ditiru’ oleh rekan kerja lain. Tetapi, tentu saja jam kerja tiap orang akan sedikit berbeda tergantung pada gaya hidupnya.

3. Ingatkan Karyawan Anda untuk Menggunakan Hak Cuti Tahunan Mereka

Image Credit: Getty Image

Hari cuti atau liburan memang merupakan salah satu poin utama dalam mencapai keseimbangan work/life ratio. Namun, terkadang banyak karyawan ‘ambisius’ yang tidak menggubris hak cuti mereka sama sekali selama bertahun-tahun. Nah, sebagai atasan, Anda dapat mengingatkan rekan-rekan kerja Anda untuk mengambil cuti mereka.

Menurut UU Ketenagakerjaan Pasal 79 ayat 2, pekerja atau karyawan memiliki jatah cuti tahunan paling sedikit 12 hari setelah satu tahun penuh bekerja. Namun, jumlah cuti tahunan yang diberikan tentunya akan berbeda-beda tergantung pada kebijakan perusahaan. Nah, siapa sih yang tidak suka hari libur? Bahkan, menurut Forbes, mengambil waktu libur dapat menyelamatkan hidup Anda lho!

Bukan berarti Anda harus memaksa karyawan untuk berlibur, tetapi berkomunikasi secara terbuka tentang penggunaan hari cuti tahunan akan membuat karyawan Anda merasa lebih nyaman dalam mengambil cuti.

4. Komunikasikan Secara Terbuka tentang Burnout

Salah satu cara utama untuk mengatasi karyawan yang mengalami kelelahan atau burnout adalah dengan membicarakannya secara open-minded. Sebelum itu, Anda harus mengetahui beberapa tanda burnout pada karyawan seperti kelelahan secara emosional dan fisik, sulit berkonsentrasi, ketidakpuasan dalam bekerja, serta kinerja yang menurun. Tanda-tanda ini mungkin sulit terdeteksi, namun Anda dapat memeriksanya dengan melakukan percakapan secara terbuka dan jujur dengan karyawan Anda.

Selain itu, Anda juga dapat memeriksanya dengan memperhatikan beberapa poin penting. Contohnya, apakah kualitas hasil pekerjaan mereka menurun drastis? Pernahkah mereka membuat kesalahan ceroboh yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya? Kedua hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa mereka membutuhkan batasan lebih jelas antara pekerjaan dan kehidupan mereka.

Karyawan Merupakan Aset Nomor Satu di Sebuah Perusahaan

Sebuah perusahaan atau usaha tentunya tidak dapat berjalan tanpa para karyawannya. Pasalnya, tidak hanya menjadi sumber daya manusia, para karyawan juga berperan penting dalam membangun dan membesarkan suatu usaha. Bahkan, menurut Forbes, karyawan merupakan aset nomor satu di perusahaan.

Karena itu, sebagai pemimpin perusahaan, tentunya Anda harus mempertahankan lingkungan kerja yang kondusif dan nyaman bagi pekerja. Tidak hanya itu, Anda juga bertanggung jawab dalam menetapkan batasan antara pekerjaan dan kehidupan. Jika gagal melakukan hal-hal tersebut, karyawan Anda dapat mengalami kejenuhan atau ‘burnout’ yang dapat menurunkan kinerjanya atau bahkan dengan sengaja memutuskan untuk melakukan quiet quitting.

Feat image credit: The Business Journal

Thio Sean

Thio Sean

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.