Apa Itu Quiet Quitting? Tren Kerja yang Dapat Mengatasi Overworking

Setelah membahas tentang dampak overworking alias terlalu banyak bekerja, ternyata ada banyak orang yang mengatasi overwork ini dengan melakukan quiet quitting. Bahkan, istilah quiet quitting ini menjadi topik bincangan hangat di media sosial. Lantas, apa itu quiet quitting?

Bukan berhenti bekerja secara diam-diam lho ya… Quiet quitting ini terjadi saat sang karyawan hanya bekerja di waktu yang telah ditentukan. Dengan kata lain, si karyawan hanya ke kantor saat jam kerja dimulai dan langsung pulang saat berakhir. Nah, karyawan yang melakukan quiet quitting ini juga biasanya tidak akan merespon saat dibutuhkan di luar jam kerja.

Image Credit: Unsplash

“Bertentangan dengan sebutannya, quiet quitting bukan berarti malas-malasan, menyabotase, atau langsung berhenti dari pekerjaan Anda. Quiet quitting ini adalah saat Anda menolak gagasan bahwa Anda harus berinisiatif atau melakukan lebih di dunia kerja. Jadi, Anda hanya masuk kantor, melakukan pekerjaan sesuai job desk yang dibayarkan, lalu pulang dan melanjutkan kehidupan Anda.” Dikutip dari Psychology Today tentang apa itu quiet quitting.

Lantas, sebenarnya apa yang membuat banyak orang akhirnya memutuskan untuk melakukan quiet quitting? Mengutip verywellmind.comquiet quitting kemungkinan disebabkan oleh kelelahan dan stres yang menimpa para karyawan. Karena itu, mereka mencari cara untuk mendapatkan kembali kehidupan mereka. Artinya, quiet quitting dilakukan untuk meraih rasio work/life yang lebih seimbang.

“Saya menyadari bahwa tidak peduli seberapa banyak pekerjaan yang dikerjakan, saya tidak akan melihat hasil yang saya harapkan. Overworking (bekerja secara berlebihan) tidak akan memberikan progress yang signifikan di perusahaan Amerika. Dan seperti yang dialami oleh banyak dari kita dalam beberapa tahun terakhir, kesehatan mental dan fisik sangat memengaruhi produktivitas di lingkungan-lingkungan perusahaan yang terstruktur ini.” Ujar seorang software developer sekaligus musisi bernama Zaid Khan kepada Bloomberg.

Lho, jadi sebenarnya quiet quitting ini baik atau buruk sih? Menurut saya, tren satu ini sangat tergantung ke pekerjaan Anda. Jika pekerjaan Anda sesuai dengan hobi dan passion, Anda secara otomatis pasti akan bekerja dengan sepenuh hati. Namun, jika Anda bekerja hanya sebatas untuk membiayai kehidupan sehari-hari atau menjadi batu pijakan ke sesuatu yang lebih Anda minati — mungkin quiet quitting ini dapat menjauhkan Anda dari dampak-dampak overworking yang bisa Anda lihat di sini.

Thio Sean

Thio Sean

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.