4 Hal Penting yang Harus Diketahui Bukan Gamer, Tentang Gamer

Gamer itu jarang mandi? Gamer itu suka begadang? Ada yang bilang juga gamer itu pemalas tapi ada juga yang bilang gamer itu tipe pasangan yang setia.. Well, saya sudah cukup lama berkecimpung di industri yang dekat dengan gamer dan komunitasnya, dan saya sendiri juga mengaku seorang gamer.

Karena itu, saya merasa ingin sedikit meluruskan beberapa miskonsepsi tentang gamer yang mungkin juga masih beredar di kalangan masyarakat awam, yang juga bahkan mungkin disebabkan oleh orang-orang di industri game – media game ataupun penyedia game-nya itu sendiri – yang mungkin juga bukan gamer.

Tanpa basa-basi lagi, berikut ini adalah 4 hal penting yang harus diketahui orang awam, tentang gamer.

1. Mengenai predikat gamer

Jujur saja, inilah yang paling sering menyentil saya ketika saya mendengar istilah gamer itu dilontarkan – baik itu oleh orang awam, oleh orang-orang yang berkecimpung di industri game, ataupun gamer itu sendiri.

Kenapa? Karena saya merasa predikat gamer ini ditempelkan pada semua orang yang bermain game. Bagi saya pribadi, hal ini konyol sebenarnya.

Saya mungkin memang pernah menuliskan hal ini sebelumnya, namun saya ingin membahasnya lebih jauh di sini.

Predikat gamer ini sebenarnya sangat unik dan berbeda dari predikat-predikat lain yang digunakan di masyarakat luas. Satu predikat itu biasanya digunakan untuk profesi.

Misalnya, tidak semua orang yang bisa menulis itu disebut penulis. Tidak semua orang yang bisa main musik itu disebut musisi. Tidak semua orang yang suka balapan itu disebut pembalap.

Lalu kenapa predikat gamer itu diberikan pada orang-orang yang hanya sekedar hobi bermain game? Kegemaran lain tidak ada predikatnya sendiri. Misalnya, orang-orang yang suka menonton film itu tidak disebut ‘filmer‘ atau orang-orang yang suka mendengarkan musik juga tidak disebut ‘musicer‘.

Mungkin akan ada yang berargumen karena semua orang itu pasti suka dan pernah menonton film dan mendengarkan musik. Well, saya juga bisa berargumen yang sama soal game.

Jika Anda tidak percaya, coba Anda tanyakan sendiri pada orang-orang yang berusia 40 tahun ke bawah yang menggunakan smartphone, saya yakin semuanya pasti pernah setidaknya sekali bermain game – berkat popularitas industri game mobile.

Bahkan orang-orang yang lebih senior pun bisa dibilang semuanya pernah bermain game – meski tidak harus selalu game elektronik, seperti Ular Tangga, Monopoli, Scrabble, Uno, atau malah olahraga yang memang memiliki aspek-aspek yang bisa dikategorikan sebagai permainan, seperti sepak bola, bulu tangkis, basket, atau malah permainan-permainan tradisional, seperti petak umpet – bener itu bahasa Indonesianya kan ya? Kwkakwkawa…

Saya tidak akan berbicara banyak soal definisi game di sini namun, secara singkat, definisi game itu sebenarnya adalah sebuah kegiatan yang non-praktis (yang bukan kebutuhan biologis) yang memiliki aturan dan tujuan arbiter yang dibuat hanya untuk keberlangsungan game itu semata.

Karena itu, sepak bola juga bisa disebut permainan alias game karena aturan hanya boleh satu bola yang digulirkan di lapangan atau bolanya tidak boleh dipegang pakai tangan kecuali oleh penjaga gawang itu juga aturan arbiter yang memang hanya penting untuk keberlangsungan game itu saja.

Jadi, sebenarnya, game atau permainan itu sudah lama sekali ada – hanya saja sekarang bentuknya yang berbeda dan lebih bervariasi. Anda bisa baca di artikel menarik berbahasa Inggris yang satu ini (Game Definitions: A Wittgensteinian Approach) jika tertarik memahami definisi game lebih dalam.

Lalu gamer itu definisinya apa? Jujur saja, detik ini, saya juga bingung harus mendefinisikan gamer itu seperti apa… owakokawokwaokwa… Pasalnya, ada banyak sekali sudut pandang yang bisa digunakan. Dari perspektif bisnis, kategori pasar, ada kategori hardcore gamer dan casual gamer.

Namun secara prinsipil, bagi saya pribadi adalah gamer itu adalah orang-orang yang memandang game sebagai sebuah gaya hidup dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar soal game, bisa sebagai sarana hiburan utama, sarana mencari nafkah, ataupun sebagai prinsip hidup.

2. Game punya banyak sekali kategori

Hal ini sebenarnya juga sering tidak disadari oleh gamer-gamernya sendiri antara perbedaan kelompoknya satu dengan yang lain karena gamer itu juga manusia yang memiliki kecenderungan untuk hidup dalam gelembung-gelembung (bubble) egosentrisme….

Padahal, tiap-tiap kategori gamer memiliki ciri-ciri atau pola yang berbeda jauh dengan kategori lainnya.

Misalnya saja, dari sisi platform, ada 3 kategori besar, mobile, console, dan PC gaming. Di konsol, kelompok ini terbagi lagi jadi kelompok PlayStation dan Xbox.

Di PC juga dibagi lagi, antara competitive dan leisure gamer. Di PC, kategori gamer juga bisa dibagi lagi antara gamer AAA (Triple A) atau gamer Free-to-Play.

BACA JUGA: Competitive Gamer vs. Leisure Gamer

Setiap kelompok gamer ini memiliki pengetahuan, kebiasaan, dan ciri-ciri yang sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Gamer mobile dengan gamer konsol atau malah PC gamer itu biasanya berbeda jauh pengetahuannya dan kebiasaan berperilakunya. Bahkan yang sama-sama gamer PC itu belum tentu pengetahuannya sama.

Saya kira banyak gamer MMO Free-to-Play yang bahkan belum pernah dengar nama Blizzard sama sekali. Yup! Anda yang tahu banyak soal game AAA mungkin akan tersinggung mendengarnya kwkawkakwa… Namun itu kenyataannya.

Gamer Free-to-Play itu juga biasanya tidak tahu banyak soal hardware PC karena game-gamenya memang tidak menuntut kebutuhan sistem yang tinggi. Bahkan banyak dari antara mereka yang tidak tahu motherboard itu bentuknya seperti apa.

Sedangkan gamer AAA, penggemarnya Bioware, Bethesda, CD Project, DICE, dkk, seharusnya tahu bedanya antara motherboard AMD dan Intel itu dari sekilas pandang saja – jika tidak tahu, belajar lagi ya… kwkakwakkwa…

Competitive gamer, pemain Dota 2, LoL, ataupun CS:GO juga biasanya lebih terbatas pengetahuannya soal hardware ketimbang gamer AAA tadi. Competitive gamer juga biasanya banyak tahu soal soal satu game. Sedangkan leisure gamer tahu soal banyak game.

Mungkin Anda pernah mendengar soal ungkapan, sedikit tahu tentang banyak dan banyak tahu tentang sedikit. Mungkin itulah ungkapan yang paling sederhana untuk menggambarkan perbedaan antara leisure gamer dan competitive gamer.

Kenapa hal ini penting? Well, jika Anda berkecimpung di industri game, saya kira wajib hukumnya untuk mengenali siapa target pasar Anda.

Jika Anda memang orang awam, saya kira stereotyping yang biasa Anda gunakan untuk mendeskripsikan gamer jadi bisa tidak valid sama sekali jika berbeda kategorinya.

3. Gamer itu biasanya melek internet

Kalaupun ada satu kesamaan yang bisa saya temukan di semua gamer, dari berbagai kategori dan berbagai platform yang saya sebutkan tadi, itu sebenarnya hanya satu – selain semuanya sama-sama suka main game.

Kemungkinan besar, gamer itu melek internet alias bahasa kerennya itu internet-savvy.

Ingat ini hanya soal melek internet – bukan melek teknologi, karena teknologi itu jauuuuuuh lebih luas lingkupnya ketimbang internet… Jadi, tidak semua gamer itu tahu bedanya antara router dengan modem atau malah disuruh memperbaiki koneksi yang sedang down.

Tidak semua gamer itu bisa jadi IT support dadakan wkwkwkkw…

Kenapa saya bisa bilang gamer itu biasanya / seharusnya melek internet? Karena, seperti definisi saya tadi, gamer itu adalah orang-orang yang memang belajar soal game (yang bisa jadi hanya spesifik soal satu game ataupun soal banyak game dan komponen pendukungnya), dan internet adalah satu-satunya tempat yang paling komprehensif tentang berbagai informasi soal game – tidak banyak buku soal game, tidak seperti ilmu politik, filsafat, jahit-menjahit, masak memasak, ataupun yang pengetahuan lainnya.

Internet, biasanya dalam bentuk forum, adalah satu-satunya tempat yang bisa diandalkan untuk belajar banyak soal game. Jadi, gamer sejati pasti lebih familiar berkeliaran di belantara internet ketimbang yang bukan gamer.

4. Stop generalisasi gamer

Jika Anda cukup jeli membaca tulisan saya di atas, saya selalu menggunakan kata, ‘biasanya’, ‘kemungkinan besar’, atau ‘umumnya’ untuk menjabarkan gamer.

Karena saya tahu, generalisasi, pukul rata, atau stereotyping atas siapapun, kelompok, atau komunitas apapun itu terlalu sempit dan kadang keterlaluan.

Karena pasti ada pengecualian, deviasi, keunikan tiap-tiap individu di dalam satu komunitas tertentu. Bahkan setiap manusia pun pasti memiliki mutasi genetik biologis yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.

Gamer itu jarang mandi dan suka begadang? Well, saya iya… kawoakwoakwoa… Namun belum tentu semuanya itu seperti saya. Ada juga gamer yang penampilannya perlente dan stylish.

BACA JUGA: ANTARA STEREOTYPING, PRASANGKA, DAN DISKRIMINASI

Saya juga sering dengar gamer itu pasangan yang setia, well, belum tentu juga wkwkkwkw.

Misalnya saja seperti ini, ijinkan saya sendiri yang jadi contohnya. Saya banyak bermain game mobile, suka hardware, tapi juga suka menonton pertandingan e-sports. Ketiga hal tadi itu biasanya ditemukan di kelompok-kelompok gamer (yang saya sebutkan di bagian nomor 2 tadi) yang berbeda.

Namun saya yakin banyak sekali gamer-gamer yang sama seperti saya – yang memiliki ciri-ciri yang biasa atau umumnya ditemukan hanya di satu kelompok tertentu.

Saya tidak ingin berbicara terlalu banyak soal generalisasi ini karena saya tahu orang-orang yang berpikiran luas dan logis pasti tahu bahwa selalu ada pengecualian di dalam setiap kumpulan informasi, data, termasuk kelompok orang ataupun komunitas.

Akhirnya…

Soal gamer jarang mandi, gamer itu setia, gamer itu bla…bla…bla lainnya, saya kira itu akhirnya tidak penting dan tidak relevan lagi – setidaknya bagi saya pribadi di sini.

Mungkin penting untuk media ataupun orang-orang lain namun bukan di situlah saya mendefinisikan ataupun mengeneralisasi gamer. Saya lebih percaya bahwa 4 hal yang saya sebutkan tadi adalah yang paling krusial untuk dipahami oleh orang-orang awam (alias bukan gamer) tentang sekelompok ‘mahluk’ bernama gamer.

Jakarta, 19 Mei 2017

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.