Dari Sudut Pandang Psikologis: Kenapa Kita Bermain Game?

Mungkin ada dari Anda yang akan mengatakan alasan kita bermain game adalah karena game itu menyenangkan… Well, Anda tidak salah namun saya tidak akan berhenti sampai dengan jawaban tersebut.

Saya ingin mencari yang lebih detil dari jawaban tadi. Jika Anda sudah puas dengan jawaban tadi, silahkan tutup artikel ini. Jika Anda sama seperti saya, mari kita cari tahu lebih jauh.

Glued to GamesDalam buku yang berjudul Glued to Games (2011), karya Scott Rigby dan Richard Ryan, ada 3 kebutuhan psikologis manusia yang dapat dipenuhi dengan bermain game. Saya akan menjabarkan ketiganya sesuai dengan perspektif saya dan menambahkan satu lagi pendapat saya pribadi sebagai penutup.

1. Competence

Faktanya, setiap orang pasti ingin merasa hebat / bisa dalam aspek-aspek tertentu. Hal ini sudah dipelajari di ranah psikologi sejak puluhan tahun yang lalu dari buku The Principles of Psychology (1890) yang ditulis oleh William James.

“The deepest principle in human nature is the craving to be appreciated.” – William James

Bermain game dapat memenuhi kebutuhan psikologis ini karena skill kita dalam bermain game secara otomatis pasti berkembang seiring waktu kita bermain.

Sebenarnya, semua skill hidup kita, menulis, berhitung, berbisnis, berbicara, atau yang lain-lainnya, juga menggunakan hukum yang sama – dimana jam terbang akan berpengaruh besar terhadap keahlian kita.

Namun bedanya, game dapat memberikan acuan perkembangan skill yang lebih jelas ketimbang hidup. Misalnya saja seperti ini, seminggu pertama Anda bermain, Anda hanya dapat menyelesaikan stage pertama. Dalam sebulan, Anda bisa menyelesaikan semua stage-nya sampai tamat.

diablo-3-stat

Hal ini juga berlaku di genre RPG dimana sense of progression-nya bahkan terlihat lebih jelas dengan angka-angka stat – damage, HP, armor, dkk.

Sedangkan untuk keahlian kita di hidup ini, tidak ada patokan yang jelas kapan keahlian kita sudah satu tingkat lebih tinggi dari sebelumnya.

Misalnya saja saya pribadi, meski saya sudah belajar menulis sejak kecil, saya masih seringkali merasa kebingungan saat menulis. Tidak jarang juga saya merasa kemampuan menulis saya stuck tanpa perkembangan sama sekali.

Anda yang suka fotografi, desain grafis, bermusik, ataupun yang lain-lainnya juga saya yakin pernah mengalami permasalahan seperti saya.

Demikian juga berbisnis, apakah ada jaminan bahwa mereka yang sudah berbisnis puluhan tahun tidak akan mengalami kerugian besar?

Game memberikan jaminan yang lebih pasti tentang kebutuhan psikologis kompetensi kita. Kita lebih tahu dengan pasti sejauh manakah skill kita berkembang dan capaian kita dari waktu ke waktu.

2. Autonomy

mass-effect

Selain kompetensi, kita juga membutuhkan otonomi – perasaan dimana kita memegang kendali. Hidup kita? Well, jika Anda sama seperti saya, kita seringkali merasa ada banyak sekali ketidakpastian dalam hidup ini.

Para jomblo mungkin akan merasa ketidakpastian dalam mendapatkan pasangan dan mereka yang sudah berpasangan juga mungkin akan merasa ketidakpastian apakah akan tetap langgeng dengan pasangan mereka saat ini sampai tua nanti.

Game memberikan kendali penuh kepada kita sang pemain. Apalagi di game-game Open World dan RPG, seperti the Elder Scroll series ataupun GTA series, kita bahkan bisa memilih tantangan mana yang ingin kita hadapi terlebih dahulu.

gta

Di game-game multi-ending seperti The Witcher ataupun Mass Effect, kita malah bisa punya kendali atas ending dari cerita kita – di hidup, kita tidak akan pernah tahu ending kita seperti apa…

Mungkin memang ada yang akan berargumen bahwa kendali tersebut hanyalah ilusi karena pilihan-pilihan kita yang ada di sana juga sebenarnya dibatasi oleh sang developer game. Namun terlepas dari ilusi atau bukan, perasaan bahwa kita memegang kendali itu tetap kita dapatkan.

Bahkan di game-game non-Open World sekalipun, seperti Call of Duty atau malah game sports, kita tetap merasa bahwa kita memegang kendali permainan karena memang game adalah media entertainment interaktif – berbeda seperti menonton dan mendengarkan musik dimana kita hanya jadi pelaku pasif.

Bermain game mengijinkan kita merasakan kendali yang lebih besar atas cerita kita, sedangkan hidup hanya mengijinkan kita punya kendali minimal yang bahkan mungkin tidak akan berdampak apapun terhadap sejarah dunia.

3. Relatedness

elizabeth-bioshock-infinite

“Man is by nature a social animal; an individual who is unsocial naturally and not accidentally is either beneath our notice or more than human. Society is something that precedes the individual. Anyone who either cannot lead the common life or is so self-sufficient as not to need to, and therefore does not partake of society, is either a beast or a god. ” ― Aristoteles

Abraham Maslow pernah menuliskan ada 5 kebutuhan pokok manusia – mungkin lain kali kita akan bahas topik ini lebih jauh – dan di antara 5 kebutuhan pokok tersebut ada kebutuhan untuk dicintai, dihargai, dan masuk dalam satu komunitas atau golongan.

Kebutuhan untuk merasa jadi bagian dari konstruksi sosial ini adalah kebutuhan terakhir yang bisa diberikan dari bermain game, menurut Scott.

Mungkin contoh yang paling kentara dapat dilihat di game-game MMO atau multiplayer yang memang komunitasnya riil – terdiri dari orang-orang, bukan NPC.

skyrim-the-companion

Namun, bahkan di game-game Singleplayer sekalipun, karakter kita bisa jadi satu bagian dari komunitas / golongan – meski komunitas tersebut terdiri dari NPC. Misalnya seperti Skyrim, dimana Anda bisa jadi bagian dari The Companions, Dark Brotherhood, Thieves Guild, College of Winterhold dan lain-lainnya.

Selain rasa menjadi bagian dari satu konstruksi sosial, kebutuhan sosial manusia ini juga berbicara tentang rasa dibutuhkan oleh orang lain.

Kembali lagi, contoh MMO dan game multiplayer di sini lebih mudah diterapkan. Misalnya, di game MMORPG, Anda menjadi Healer yang pasti dibutuhkan untuk running dungeon atau jadi Sniper di CS:GO yang memiliki peran penting terhadap keberhasilan tim.

mercy___overwatch

Namun di game singleplayer, hal ini juga bisa diberikan karena karakter yang kita mainkan adalah sang jagoan / protagonis yang, biasanya, jadi satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan dunia.

Di hidup kita, well faktanya, banyak orang merasa kesepian – karena itulah sosial media selalu ramai dikunjungi. Bahkan orang-orang yang populer sekalipun pasti pernah merasa kesepian dan sendiri – meski di tengah keramaian.

forever-alone-face-happy

4. Simulation of Life

Alasan keempat ini adalah opini saya pribadi, yang tidak ada di bukunya Scott tadi, yang sekaligus akan saya jadikan penutup.

Mungkin memang tiga kebutuhan yang dapat diberikan game tadi seperti sebuah bentuk pelarian dari hidup – dan mungkin memang benar, walaupun saya kira semua bentuk hiburan kita seperti TV, film, novel, ataupun sosial media juga bisa dipandang sebagai bentuk pelarian kita dari realita juga.

Namun, saya pribadi merasa game dapat menjadi simulasi hidup yang sangat baik, yang bisa kita jadikan latihan untuk menghadapi tantangan realita yang sesungguhnya. Bukan, saya tidak hanya berbicara soal game The Sims atau simulasi yang lain, namun semua game.

the-sims-4

Saya punya kriteria sendiri bagaimana sebuah hal bisa disebut sebagai game. Game itu harus memiliki aturan, tantangan, dan hadiah (rules, challenges, & rewards). Hidup kita juga memiliki ketiga hal tadi – meski memang tidak jelas tersirat seperti di game.

Namun justru karena semuanya tidak tersirat jelas tadi yang membuat hidup ini jadi lebih menarik dan jadi PR sendiri untuk dijawab. Misalnya, bagi seorang profesional, 3 hal tadi penting untuk disadari.

Aturan main seperti apakah yang harus dipatuhi bagi seorang penulis, pebisnis, karyawan, dan profesi-profesi lainnya? Tantangan seperti apakah yang harus dihadapi? Bos yang galak, klien yang rewel, target yang harus dicapai, atau tantangan lainnya?

be-grateful

Terakhir, reward ini juga penting untuk disadari dan disyukuri. Satu hal yang saya kira penting adalah jangan mengacuhkan hal-hal kecil yang terjadi di hidup kita – game jugalah yang mengajarkan saya untuk menaruh perhatian di detil-detil kecil – karena kebanyakan orang berharap reward hidup itu harus yang bombastis dan hiperbolis.

Anda memiliki seorang sahabat yang selalu siap membantu Anda, orang tua yang tidak pernah lelah mendukung apapun keinginan Anda, ataupun pasangan yang siap menemani Anda meski di saat-saat tersulit sekalipun adalah reward yang sebenarnya fantastis namun seringkali diacuhkan banyak orang.

Anda masih bisa bernafas sampai detik ini, Anda bisa membaca artikel ini yang berarti Anda memiliki akses internet (dimana ada ratusan juta orang-orang lainnya yang tidak punya akses), Anda bisa menyeruput kopi di pagi hari, Anda masih punya indera dan anggota tubuh yang lengkap, Anda bisa hidup di negara tanpa konflik perang, dan milyaran hal lainnya adalah reward hidup yang saya kira patut disyukuri dan disadari.

Jakarta, 27 Agustus 2016

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

3 Comments

  • kenyataanya memang seperti itulah penyebab kita bermain game, meskipun kita bukan seorang gamers sejati, namun ketika kita memainkan game tersebut ada perasaan penasaran, ingin mengalahkan dan tidak mau kalah hehe but, this information is very nice. Thanks

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.