Era Sistem Kerja Fleksibel Sudah Berakhir? Ini Menurut Data dari LinkedIn

Munculnya pandemi COVID-19 di awal 2020 lalu memaksa sebagian besar perkantoran untuk menerapkan sistem kerja fleksibel. Sesuai namanya, sistem kerja fleksibel memberikan karyawan fleksibilitas dalam mententukan jam, tempat, dan bagaimana mereka bekerja. Umumnya, terdapat beberapa jenis kerja fleksibel yang ditetapkan oleh perkantoran, seperti WFH (work from home), remote working (bekerja dari jarak jauh), hybrid working, job sharing, flextime, dan sebagainya.

Sayangnya, ada kabar buruk bagi Anda yang sudah nyaman atau malah sedang mencari pekerjaan yang dapat dilakukan dari rumah. Pasalnya, era kerja fleksibel disebut-sebut akan segera berakhir dan kembali ke masa kerja kantoran seperti biasa. Menurut CNBC, jumlah lowongan pekerjaan jarak jauh (remote work) yang diunggah di LinkedIn telah menurun 5 persen sejak April 2022 (saat jumlah postingan remote work mencapai puncaknya di angka 20%).

Padahal, masih banyak orang yang mencari pekerjaan dengan sistem kerja fleksibel. Dari semua orang yang melamar pekerjaan di LinkedIn pada bulan September, lebih dari setengahnya mendaftar di lowongan-lowongan yang bersifat remote work. 

David Solomon – Image Credit: Bloomberg via Getty Images

Kira-kira apa sih yang membuat lowongan pekerjaan fleksibel menurun? Well, masih banyak bos-bos perusahaan alias CEO yang enggan karyawannya bekerja dari jarak jauh. Salah satunya adalah David Solomon, CEO dari Goldman Sachs, yang menganggap WFH sebagai hal yang “menyimpang”. Dilansir dari Fortune, Ia bahkan meminta para karyawannya untuk kembali bekerja di kantor lima hari per minggu seperti biasa.

“Saya pikir untuk bisnis seperti kami yang memiliki budaya kerja yang inovatif dan kolaboratif, ini (hybrid work) tidak ideal bagi kami dan ini bukanlah new normal.” Ujar David dikutip dari CNBC.

Dari survei yang dilakukan oleh LinkedIn juga menunjukkan bahwa 68% petinggi perusahaan enggan menerapkan kerja fleksibel karena mereka khawatir dengan ketidakstabilan ekonomi dan resesi yang disebut akan melanda di 2023. Hal ini memaksa mereka untuk membatalkan kemajuan kerja fleksibel untuk mendorong produktivitas perusahaan.

Image Credit: Jacob Lund via Adobe Stock

Josh Graff, selaku Direktur Pelaksana untuk wilayah EMEA dan LATAM di LinkedIn menjelaskan bahwa “di seluruh dunia kami melihat perekrutan yang lambat dan perusahaan yang membekukan perekrutan karena ketidakpastian ekonomi, dengan para pemimpin bisnis berada di bawah tekanan kuat untuk mengelola biaya sekaligus meningkatkan produktivitas.”

Josh juga mengatakan bahwa fleksibilitas inilah yang nantinya akan menjadi salah satu daya tarik perusahaan dalam merekrut pekerja. “Perusahaan yang menunda kemajuan dalam pekerjaan jarak jauh dan fleksibel beresiko menurunkan motivasi tenaga kerja mereka dan mendorong mereka (para pekerja) untuk pindah ke pesaing yang menawarkan opsi yang lebih menarik. Fleksibilitas akan semakin menjadi masalah dalam kelangsungan hidup berbisnis.”

Populernya era kerja fleksibel ini padahal dapat menjadi suatu terobosan baru di dunia kerja. Salah satunya adalah perusahaan tidak memerlukan bangunan kantor yang besar, mengingat para karyawannya akan bekerja dari jarak jauh pula. Selain itu, sistem kerja fleksibel ini juga dapat mencegah overworkingquiet quittingdan bahkan membantu pekerja dalam mencapai work-life balance.

Feat image credit: Perfect Daily Grind

Thio Sean

Thio Sean

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.