TV: Kotak Sejuta Mimpi. Sebuah Pengantar atas Candu Bernama Fiksi

Kata komunitas pengguna jejaring sosial di menjelang pertengahan tahun 2016 ini, “Kasih ibu sepanjang masa, kecuali saat ibu sedang asik nonton Tapasya…” ^<^ Jika Anda salah satu yang alergi dengan TV, Tapasya adalah salah satu tokoh utama dari sebuah sinetron asal India berjudul Uttaran.

Tenang saja, saya tidak akan menuliskan sinopsis lengkap atau berbicara lebih jauh lagi tentang sinetron ini.

Sinetron yang memiliki total 1549 episode tadi sebenarnya bukanlah fenomena pertama dimana sejumlah besar massa terbuai dengan sebuah candu bernama TV. Bahkan jika kita ingin melihat fenomena ini lebih jauh lagi, sinetron TV hanyalah sebuah bentuk dari satu candu yang lebih masif bernama fiksi.

ilustrasi-tv-zilbest

Sebelum kita masuk ke fiksi, mungkin ada dari antara Anda yang penasaran mengapa sinetron-sinetron tersebut laris manis di pasaran.

Jika ditilik dari segi bisnis, jawabannya sederhana. Sinetron tersebut laris manis karena memang menggunakan strategi marketing yang super agresif.

Iklan sinetron tadi ditampilkan berkali-kali dalam sehari. Lain waktu, kita akan belajar bersama dari sebuah hal yang bernama marketing.

Sedangkan dari sisi sosial, kita, manusia, sebagai mahluk sosial, ingin memiliki paling tidak satu kesamaan dengan komunitas-komunitas tempat kita biasa menghabiskan waktu bersama. Kebetulan saja, komunitas ibu-ibu (yang biasanya menjadi target pasar utama dari sinetron) juga merupakan salah satu komunitas yang memiliki frekuensi pertemuan yang tinggi.

Kaum muda, bapak-bapak, anak-anak juga sebenarnya tidak berbeda jauh dari ibu-ibu rumah tangga tadi. Setiap orang ingin memiliki sebuah topik obrolan yang bisa dibahas bersama dengan kawan-kawannya.

ilustrasi-sosial-tv-zilbest

Bedanya, setiap kita mungkin memiliki selera candu yang berbeda dari ibu-ibu rumah tangga tadi namun kita memilih bentuk lain dari candu yang sama, yang bernama fiksi.

Fiksi sendiri memiliki begitu banyak bentuk mulai dari yang klasik seperti cerpen, novel, pertunjukkan theater, bentuk fiksi yang memiliki ciri khas masing-masing seperti anime, sinetron alias opera sabun, dorama dari Jepang, serial Korea, komik, film fantasi macam Game of Thrones ataupun Harry Potter, sampai dengan yang paling modern bernama game.

Sebelum sebagian besar dari Anda marah-marah karena menganggap saya menyamakan sinetron dengan anime ataupun pertunjukkan theater (nyahaha…), tidak, saya tidak akan pernah mengatakan sinetron, anime, pertunjukkan theater memiliki tingkat estetika ataupun tingkat kesulitan produksi yang sama.

Satu-satunya persamaan dari hal-hal yang saya sebut di atas tadi hanyalah mereka sama-sama masuk dalam kategori fiksi. Dan fiksi sendiri memang menyuguhkan hal yang sama, meski berbeda-beda bentuk, ketika mereka membuat kita kecanduan.

ilustrasi-fiksi-tv-zilbest

Sebelum membahas lebih jauh, saya ingin meluruskan satu hal terlebih dahulu. Bagi saya, setiap orang pasti memiliki candunya masing-masing. Bedanya hanya pada bentuk candu tiap-tiap orang dan baik atau buruknya candu tersebut sebenarnya hanya pada sebatas pada disadari atau tidak. Plus, efek samping dari candu tersebut.

Jadi, bagi saya, kecanduan narkoba itu mungkin jelas buruk karena efek sampingnya yang memang berdampak buruk bagi kesehatan orang tersebut dan orang-orang di sekitarnya, siapapun orangnya.

Namun, saya tidak bisa menghakimi Anda dan mereka yang memiliki candu semacam game (seperti saya), anime, sepatu, musik, televisi, action-figure karena efek samping tiap-tiap orang atas candunya masing-masing tadi bisa jadi sangat berbeda-beda. Bahkan tak jarang, candu-candu psikologis yang saya sebutkan tadi justru malah bisa bermanfaat jika dikelola dengan baik.

Kembali lagi ke soal fiksi tadi. Dari sisi psikologis, saya percaya ada satu hal yang membuat sebagian besar manusia di dunia, jika saya tidak boleh mengatakan ‘semua’, terjangkit dengan sebuah candu masif bernama fiksi:

ilustrasi-fiksi2-tv-zilbest

Imajinasi.

Manusia pasti memiliki imajinasinya masing-masing. Ada yang berandai-andai jadi artis, ada yang ingin jadi detektif, ataupun juga ada yang ingin jadi jagoan penyelamat dunia. Fiksi, dengan berbagai macam bentuknya tadi, mengabulkan semua jenis imajinasi manusia.

Kenapa kita tidak berusaha mengabulkan semua imajinasi kita?

Well, karena, satu, tidak semua imajinasi bisa dikabulkan misalnya yang berhubungan dengan dunia-dunia fantasi.

Kedua, masalah konsekuensi. Misalnya sinetron dan drama televisi, mungkin memang tidak akan ada yang mau mengakui, namun tidak sedikit dari penggemarnya yang berandai-andai bergelut dengan masalah perselingkuhan, baik itu jadi sang pelaku atau malah sang korban.

Namun, tentu saja, imajinasi tersebut akan sangat mahal konsekuensinya jika dilakukan di dunia nyata. Karena itulah fiksi menjembatani imajinasi Anda tanpa konsekuensi yang berarti.

“The thing about real life is, when you do something stupid, it normally costs you. In books the heroes can make as many mistakes as they like. It doesn’t matter what they do, because everything works out in the end. They’ll beat the bad guys and put things right and everything ends up cool.
In real life, vacuum cleaners kill spiders. If you cross a busy road without looking, you get whacked by a car. If you fall from a tree, you break some bones.
Real life’s nasty. It’s cruel. It doesn’t care about heroes and happy endings and the way things should be. In real life, bad things happen. People die. Fights are lost. Evil often wins.
I just wanted to make that clear before I begun.”― Darren Shan, A Living Nightmare

Nampaknya, tulisan ini sudah terlalu panjang. Jadi kita akan bahas lagi di lain hari mengenai fiksi ini. Karena, seperti biasa, saya tidak ingin Anda mengantuk atau pedih matanya karena membaca di layar.

Namun paling tidak, Anda sudah lebih bisa memahami kenapa para ibu-ibu begitu getol dengan sebuah sinetron dan kenyataan bahwa setiap kita memang memiliki candu-candu pribadi, apapun itu bentuknya.

Jakarta, 17 April 2016

Yabes Elia

Yabes Elia

Have been playing around in the gaming industry since December 2008. A true believer of Johan Huizinga's saying, "let my playing be my learning". That's why I'm living my games and playing with life.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.